Cloud Hosting Indonesia
Order Sekarang!Dapatkan Diskon 75% Hosting + Gratis Domain!

Catatan Perjuangan Percetakan Kanisius di masa Penjajahan

Perjalanan penjang Perjuangan Percetakan Kanisius sudah dimulai sejak tahun 1922. Yaitu pada masa sebelum kemerdekaan. Masa dimana para pendiri percetakan Kanisius memulai karyanya dengan alat dan sumber daya yang sangat terbatas.

Walaupun dalam kondisi yang serba apa adanya, mereka terus berjuang untuk menyediakan barang cetakan, yang pada awalnya untuk melayani Gereja Katholik dengan harga murah dan juga untuk menyediakan pekerjaan bagi orang-orang Jawa.

Percetakan Kanisius
Foto : Buku “Bersiaplah sewaktu-waktu dibutuhkan” (arsip Percetakan Kanisius)

Perjuangan Percetakan Kanisius ini tak lepas dan menjadi bagian dari perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, terutama pada masa penjajahan Jepang yang menjadikan segala sesuatunya menjadi tidak kondusif.

Kondisi Pada saat pendudukan Jepang ini sangatlah memprihatinkan. Karena situasi sedang berada dalam keadaan darurat perang, maka segala sesuatunya pun serba darurat.

Pada masa yang yang berat ini, Percetakan Kanisius hanya tinggal memiliki satu mesin, karena persediaan suku cadang yang sangat terbatas. Dan itupun masih terancam ditutup dan dirampas oleh Jepang.

Babak Baru Percetakan Kanisius

Pada tahun 1945, Bersamaan dengan diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, para karyawan merebut kembali Percetakan Kanisius dari penguasaan Jepang.

Dengan segera dibentuk Dewan pimpinan sebagai staff direksi dengan pengawasan pemerintah. Sekuat tenaga, para karyawan dan staff direksi mengamankan segala asset yang dimiliki supaya tidak dirusak selama masa pemindahan kekuasaan ini.

Perjuangan percetakan kanisius
Percetakan Kanisius di Kiduloji (Foto : Buku “Bersiaplah sewaktu-waktu dibutuhkan” – arsip Percetakan Kanisius)

Lalu kurang lebih satu tahun setelahnya, percetakan Kanisius diserahkan kembali dengan resmi oleh pemerintah kepada wakil Uksup, yang pada waktu itu dijabat oleh Pastor A. Djajasepoetra, SJ.

Kondisi percetakan pada saat diserahkan kembali sangatlah memprihatinkan. Mesin Rusak berat sehingga perlu dilakukan perbaikan total. Perlu biaya yang tidak sedikit untuk pembelian Spare part, karena persediaan spare part habis dan tidak tersedia di masa perang.

Perlu pembenahan pada banyak hal, mulai dari sarana prasarana, biaya dan sumber daya manusia untuk menjadikannya mampu beroperasi kembali

Setelah semua selesai dibenahi, maka pada akhir tahun 1956, Percetakan Kanisius mulai memasuki babak baru, babak dimana semua sumber daya mulai mengarahkan pandangannya kedepan.

Dipercaya mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI)

Semangat baru yang terbangun dari pengalaman jatuh bangun di masa penjajahan ini, membuat Percetakan Kanisius semakin mantab melangkah maju dan berkembang. Dengan kantor yang berada di Kiduloji Yogyakarta, percetakan Kanisius semakin dikenal secara luas karena kualitas cetakannya.

Percetakan kanisius di kiduloji
Dipercaya mencetak ORI (Foto : Buku “Bersiaplah sewaktu-waktu dibutuhkan”-arsip Percetakan Kanisius)

Maka tidak heran, di tahun 1946, di tahun yang sama setelah kebangkitannya kembali, percetakan ini dipercaya oleh pemerintah Republik Indonesia untuk mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI). Hal ini tentu saja menjadi hal yang sangat membanggakan bagi staff direksi dan karyawan, Penunjukkan ini membuktikan bahwa Pelayanan, hasil karya dan kualitas Percetakan Kanisius diakui oleh Negara. Dan juga kesempatan untuk membaktikan diri, ikut serta berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, karena ORI saat itu menjadi salah satu alat perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.

Percetakan Kanisius bukan satu-satunya yang dipercaya mencetak uang ORI, tetapi ada satu lagi percetakan yang ditunjuk pemerintah yaitu percetakan Gondo Rumeksa yang merupakan percetakan Negara, dan kebetulan lokasinya juga masih satu area yaitu di kiduloji.

Amanah, komitmen dan kerja keras.

“Walaupun dipercaya mencetak dan mandi uang setiap hari, namun kesejahteraan karyawan tidak ikut meningkat. Kami hanya dapat tambahan uang makan setiap hari” ujar Antonius Dahana, seorang karyawan Percetakan Kanisius yang sudah mulai bekerja sejak tahun 1940 menceritakan pengalamannya.

Diceritakan pula tentang pekerjaan yang harus dilakukannya dengan ekstra teliti, hati-hati, cermat dan dibawah pengawasan ketat Polisi Militer. Hal tak biasa yang dia dapatkan dibandingkan saat mengerjakan cetakan yang lain.

Antonius Dahana
Bapak A. Dahana-Kanan (Foto : Buku “Bersiaplah sewaktu-waktu dibutuhkan”-arsip Percetakan Kanisius)

“Semua itu kami lakukan, karena kami memiliki keyakinan bahwa semua yang kami lakukan untuk Tuhan. Karena semua untuk Tuhan, maka kami berusaha melakukan yang terbaik” ujarnya lagi. Semangat dan keyakinan inilah yang dia dapatkan dari Pastor Lampe, Pimpinan percetakan Kanisius waktu itu. 

Antonius Dahana, dalam menjalankan tugasnya mencerak ORI juga dibekali dengan SK resmi yang diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Yang paling membahagiakan baginya pada saat mengemban tugas Negara ini adalah, ketika tidak adanya masalah sedikitpun selama proses pencetakan yang dilakukan sampai berakhirnya.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi di percetakan satu lagi yang diserahi mencetak uang ORI, yang justru meruoakan percetakan milik Negara. Di percetakan Negara itu ditemukan ada pegawai yang curang dengan mengambil uang hasil cetakannya.

Ini yang membuktikan bahwa percetakan Kanisius memiliki karyawan yang jujur, komitmen dan memiliki etos kerja yang baik. Semua pekerjaan, apalagi Tugas Negara diselesaikan dan dijalankan dengan sungguh-sungguh..

Menurut Antonius Dahana, Tugas untuk mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI) berjalan sangat baik dan berkenan di hati pemerintah saat itu. Dan setelah tugasnya dianggap selesai oleh Negara, beliau mendapatkan SK penghentian tugas secara terhormat yang dikeluarkan oleh Menteri keuangan, Tepatnya pada tanggal 8 Januari 1947.

Perjuangan harus tetap dilanjutkan

Secara umum percetakan Kanisius sudah mulai beroperasi, namun perjuangan masih harus terus dilanjutkan karena keadaan perusahaan masih suram. Apalagi kondisi dan situasi politik juga masih belum kondusif.

Walaupun begitu, pada tanggal 24 April 1947 para karyawan dan direksi tetap memperingati seperempat abad berdirinya percetakan ini dengan penuh kegembiraan dan harapan.

Hingga Mgr. Sugijapranata SJ, menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada para karyawan yang dengan setia tetap mempertahankan, membela dan melindungi percetakan, walau pada suasana paling sulit dan pahit. Para kayawan tidak lagi peduli dengan situasi yang buruk, bahkan mengabaikan keselamatan mereka sendiri.

Mungkin saja saat itu nasib baik tidak berpihak, tapi mereka para karyawan tetap dengan penuh semangat dan optimis bahwa Negara Republik Indonesia benar-benar akan mendapatkan kemerdekaan seutuhnya. 

Semangat dan perjuangan para pendahulu Percetakan Kanisius ini menjadi warisan berharga  bagi segenap jajaran direksi dan karyawan yang saat ini sedang memperingati 100 tahun berdirinya perusahaan untuk tetap berkomitmen dan semangat dalam bekerja meneruskan perjuangan para pendahulu..

Akhirnya, perjalanan dan perjuangan Percetakan Kanisius di masa penjajahan ini pastinya bisa membuka wawasan baru, sekaligus  pelajaran berharga bagi penulis dan teman-teman semua yang membaca tulisan ini. Salam.

Sumber : Buku kuning, Arsip Percetakan kanisius “Bersiaplah sewaktu-waktu dibutuhkan”.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *