Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#23

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#23

Ki Tanu mengerutkan keningnya. Orang ini pasti sudah beberapa lama tergolek tak mampu bangkit.
“Sudah lamakah, kisanak ini tergolek tak mampu bangun…..?” tanya Ki Tanu.
“Sudah cukup lama, Ki…..!” jawab salah seorang dari mereka.
“Kita sama-sama berusaha, namun Yang Maha Kuasa yang menentukan…..! Aku bawakan beberapa butir jamu untuk diminum setiap malam satu butir…..!” kata Ki Tanu.
“Baiklah Ki…..! terimakasih…..!” kata orang tadi.
“Sebaiknya, orang yang sakit ini, digantang di sinar matahari pagi setiap hari. Namun tak perlu terlalu lama…..!” pesan Ki Tanu.
“Kami harus membayar berapa, Ki…..?” tanya orang yang dituakan diantara mereka.
“Itu tidak perlu…..! Kita sama-sama berusaha, semoga kisanak ini lekas sembuh…..!” jawab Ki Tanu.

Mereka pun kemudian membawa kembali orang yang sakit tersebut dengan tandu yang di panggul empat orang. Mereka yang datang itu berenam. Mereka pasti bergantian untuk mengusung orang yang sakit itu. Dan itu pasti bukanlah pekerjaan yang ringan.
Ki Tanu kagum akan jiwa gotong royong orang-orang tersebut. Sedangkan Ki Tanu sendiri tidak yakin bahwa orang yang sakit tersebut pasti akan sembuh. Jika sembuh pun pasti memerlukan waktu yang cukup lama.
Ia hanya berusaha sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

Ki Tanu tersenyum ketika melihat putrinya telah tertidur pulas di gubuk yang mereka tinggali. Putrinya itu pasti kelelahan setelah bekerja seharian bersama embok-embok yang membantu memasak untuk disajikan kepada mereka yang ikut sambatan. Ki Tanu terharu atas bantuan warga kademangan yang tidak ia kira sebelumya. Bukan hanya bantuan tenaga, namun ada pula yang membawa hasil bumi.
Namun Ki Tanu juga kasihan terhadap putrinya itu, cucu seorang raja besar namun harus terlunta di usianya yang masih belia. Tetapi inilah pilihan terbaik yang mesti ia dan putrinya lakoni, menurut Ki Tanu. Jika mereka tetap tinggal di keraton ia tidak yakin akan keselamatan mereka. Justru karena putrinya adalah cucu sang Baginda Raja sendiri. Sedangkan sang istri sejak semula sudah tidak sepaham dengan kakaknya yang kemudian menyerang ke keraton ayahnya sendiri.
Ki Tanu tiba-tiba teringat sang istri, ibunda dari putrinya tersebut.
“Di manakah ia…..?” batin Ki Tanu.
Namun Ki Tanu yakin bahwa istrinya tersebut tetap selamat bersama Baginda Raja dalam pelarianya. Mungkinkah suatu saat ia dan putrinya akan bertemu kembali Baginda Raja dan pengiringnya termasuk sang istri….? batin Ki Tanu.
Jika memikirkan hal tersebut, Ki Tanu tidak bisa segera tidur.
Ia juga belum mendengar kabar tentang perkembangan negeri Demak Bintara yang mengambil alih kekuasaan dan pemerintahan dari negeri Majapahit.

Di hari berikutnya, gotong royong berlangsung seperti hari sebelumnya. Mereka yang datang lebih dari dua puluh orang lagi. Bahkan yang sebelumnya pernah datang, hari itu datang kembali.
Hari itu, pondok yang dibuat telah benar-benar berdiri. Atap dan dinding pun telah terpasang. Bahkan sekat-sekat ruang telah terpasang pula. Pondok sederhana namun kokoh telah siap untuk ditempati.

Malam itu, Ki Tanu kembali melanjutkan cerita tentang sejarah Bhumi Mataram. Gendhuk Jinten pun dengan senang hati mendengarkannya.
Dengan diselingi dengan cerita pengalaman berpetualang ke berbagai tempat, membuat cerita itu menarik bagi Gendhuk Jinten.
Gendhuk Jinten kagum kepada ayahnya yang kaya akan pengalaman.

Ki Tanu kemudian menceritakan, bahwa di kemudian hari, negeri trah Sanjaya di sisi utara dan trah Syailendra di sisi selatan bersatu kembali. Kedua negeri dipersatukan kembali dengan perkawinan Rakai Pikatan dari trah Sanjaya dengan Dyah Pramodawardhani dari trah Syailendra.
Pada masa itu, negeri Bhumi Mataram mengalami masa kejayaannya. Pendirian berbagai candi terus dilanjutkan dari sebelumnya dan bahkan tak sedikit dengan pendirian candi-candi baru.
“Gendhuk…..! Apakah kau sudah mengantuk…..?” sela Ki Tanu
“Belum mengantuk, ayah….! Jinten senang mendengarkan cerita tentang negeri Bhumi Mataram tersebut. Dan juga tentang candi-candi yang membuat Jinten ingin mengunjungi tempat-tempat tersebut…..!” kata Gendhuk Jinten.
……….
Bersambung……..

Petuah Simbah: “Kata orang bijak; manusia berusaha, namun Tuhan yang menentukan.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *