Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#57

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#57

Demikian pula saat itu, Ki Bekel, Birawa dan Wilapa sedang mendaki jalan menanjak ke gapura utama reruntuhan keraton Ratu Baka.
Di jalan yang menanjak itu, Ki Bekel menghentikan ceritanya.
“Nanti di depan gapura kita lanjutkan ceritanya. Di sana bisa melihat dengan nyata yang aku ceritakan ini. Lagi pula, dari tempat itu, kita bisa melihat kali Opak yang meliuk-liuk bagai ular raksasa……!” kata Ki Bekel.
“Baiklah Ki…..! Jalan ini cukup menanjak tajam……! Bagaimana bisa batu-batu besar itu sampai di atas bukit…..?” kata Wilapa.
“Itulah hebatnya nenek moyang kita…..!” kata Ki Bekel.

Birawa terkagum-kagum menyaksikan hamparan batu-batu besar berukir yang berserakan, serta sebagian gapura yang masih berdiri tegak.
“Konon batu-batu itu dahulu tersusun megah sebagai sebuah istana yang aku ceritakan sebagai keraton Ratu Baka. Namun karena terjadi gempa yang dahsyat dan meletusnya gunung Merapi, keraton itu runtuh. Dan konon ceritanya, pemerintahan negeri kemudian berpindah ke bagian timur pulau ini……!” kata Ki Bekel yang pernah mendengar cerita dari mulut ke mulut.
“Itu terdapat banyak kolam-kolam yang airnya jernih, padahal ini di atas bukit cadas. Bagaimana itu bisa terjadi, Ki Bekel……?” tanya Birawa keheranan.
“Mungkin sekali, kolam itu adalah tampungan air hujan yang tidak bisa meresap ke dalam tanah dan tetap jernih sepanjang waktu…..!” kata Ki Bekel mengira-ira.
Kemudian Ki Bekel berkata selanjutnya; “Itu adalah kolam pemandian para putri bangsawan. Konon Rara Jonggrang pun mandi di pemandian itu……!”
“Lhaaa cerita kelanjutan tentang Rara Jonggrang dan Raden Bandung Bandawasa bagaimana, Ki……?” kata Birawa seperti diingatkan.
Ki Bekel tersenyum mengetahui kedua tamunya sangat berminat mendengarkan kisah Rara Jonggrang.
“Itu….! di samping gapura itu, dahulu ada tatanan batu yang cukup tinggi. Dari sanalah Rara Jonggrang menyaksikan kobaran api di seberang kali Opak….! Dan dari balik batu itu, Rara Jonggrang memperhatikan seorang perjaka yang gagah dan tampan mendekati gapura. Kira-kira di tempat kita berbincang ini, Raden Bandung Bandawasa melangkah menuju gapura……!”

Dari tempat mereka berbincang, Birawa bisa membayangkan alur cerita yang dikisahkan oleh Ki Bekel. Apa yang dikisahkan tersebut seakan terbayang nyata di depan mata mereka. Nama-nama tempat dan keadaan sesuai benar dengan yang dilihatnya, walau keraton Ratu Baka itu sebagian besar telah roboh. Namun kebesaran masa lalu masih terbayang nyata.

Sambil duduk di bebatuan, Ki Bekel kemudian melanjutkan ceritanya.

Raden Bandung Bandawasa yang pura-pura tidak tahu ada seorang gadis yang memperhatikan, sengaja berbelok ke arah yang berlawanan dengan keberadaan gadis yang tak lain adalah Rara Jonggrang.
Rara Jonggrang kecewa karena perjaka yang gagah dan tampan itu menjauh dari tempat ia berada.
Namun Raden Bandung Bandawasa setelah sampai di ujung gapura yang lain, kemudian berbalik menuju ke tempat Rara Jonggrang berada.
Hati Rara Jonggrang berdebar-debar, namun ia tetap berada di tempatnya walau berlindung di balik batu. Selama ini, di keraton Ratu Baka, ia belum pernah bertemu dengan seseorang yang setampan dan segagah itu.
“Oooh maaf…..! saya tidak tahu ada seorang gadis yang cantik jelita berada di balik batu…..!” kata Raden Bandung Bandawasa berpura-pura.
Rara Jonggrang tak segera bisa menjawab karena terpana dengan ketampanan perjaka yang berada di hadapannya.
“Siapakah andika yang bukan kawula keraton Baka berani naik ke gapura ini……!” kata Rara Jonggrang tanpa menanggapi kata-kata perjaka yang datang.
Raden Bandung Bandawasa pun tergetar hatinya melihat seorang gadis yang cantik jelita dan tinggi semampai. Ia pun belum pernah melihat seorang gadis yang secantik gadis yang di hadapannya itu. Dan ia tak ingin menyembunyikan jati dirinya.
“Maaf Sang Putri…..! Saya adalah tamu dari Prabu Baka yang datang dari negeri Pengging yang tak jauh dari tlatah negeri Baka ini. Namaku Bandung Bandawasa, putra raja negeri Pengging…..!” kata Raden Bandung Bandawasa berterus terang.
…………
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Petilasan candi Ratu Baka adalah salah satu warisan budaya leluhur yang selayaknya kita jaga kelestariannya.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *