Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#83

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#83

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.

Gendhuk Jinten.

Gendhuk Jinten amat sedih karena selama ini ia selalu didampingi oleh sang ayah, Ki Tanu. Namun kini Ki Tanu telah pergi.
“Mengapa ayah tidak pamit kepadaku, Nyi Demang…..?” keluh Gendhuk Jinten.
“Beliau tidak ingin melihatmu menangis seprti ini, Ndhuk…..!” dalih Nyi Demang. Kemudian lanjutnya; “bersabarlah, Ndhuk…..! berharaplah ayahmu segera kembali bersama ibumu…..!”
“Oooh ibuuu…! Rara kangen ibuu….!” justru tangis Gendhuk Jinten meledak karena tiba-tiba diingatkan tentang ibunya yang telah terpisah beberapa lama.
“Ibuuu…., huk huk huk huk…. ibuu….!”
tangis Gendhuk Jinten.
Nyi Demang kebingungan, ia tidak mengira yang maksudnya memberi harapan itu, namun justru mengusik kenangan masa lalu Gendhuk Jinten.
Mbok dukun-lah yang menghiburnya kemudian; “Sudahlah Ndhuk….., embok akan selalu menemanimu….!” kata Mbok dukun sambil menyeka airmata Gendhuk Jinten.
Nyi Demang kemudian menyambung kata-kata Mbok dukun.
“Jangan khawatir, Ndhuk…..! Aku dan Ki Demang sanggup menjadi orang tuamu…..! Bayi yang kau kandung itu akan menjadi cucuku….!” kata Nyi Demang yang tidak berputra itu.
Tangis Gendhuk Jinten sedikit reda, menghargai maksud baik kepada dua orang wanita sepuh itu.
“Setiap malam akan ada warga yang berjaga di pondok ini….! Dan setiap hari akan ada yang membantu mengurus pepohonan, ternak, ikan dan kebun di pekarangan ini Ndhuk….! Semua Ki Demang yang akan menanggung…..! Bahkan akan aku kirim pula inang kademangan untuk membantu Mbok dukun di sini……!” janji Nyi Demang.
Tangis Gendhuk Jinten benar-benar reda karena percaya akan kata-kata Nyi Demang. Walau sesungguhnya ia mampu mengerjakan itu semua. Namun dengan penawaran dari Nyi Demang itu, tentu akan sangat meringankan bebannya.
Ketika Mbok dukun kemudian mundur untuk mengerjakan pekerjaan dapur, Nyi Demang sempat menyodorkan surat yang dibawa Ki Demang dari Ki Tanu kepada Gendhuk Jinten.
“Bacalah Ndhuk…..! Ini surat dari ayahmu……!” kata Nyi Demang.
Gendhuk Jinten menerima surat dengan sedikit gemetar, karena belum pernah menerima surat, bahkan tulisan apapun dari sang ayah.
Dengan gemetar pula Gendhuk Jinten merobek ujung surat itu.
“Jika itu rahasia, silahkan dibaca di dalam kamar saja, Ndhuk…..!” saran dari Nyi Demang.
“Tidak Nyiii…..! Jinten lebih tenang jika ada Nyi Demang…..!” kata Gendhuk Jinten.
Gendhuk Jinten segera membaca dalam batin surat itu. Sedangkan Nyi Demang menungguinya dengan penuh ketegangan.
Nyi Demang kembali berdebar-debar ketika melihat mata Gendhuk Jinten kembali berkaca-kaca. Bahkan Nyi Demang terkejut ketika tangis Gendhuk Jinten kembali meledak.
“Ayaaaah……! Ibuuuu….. huk huk huk huk huk……! Eyaaang Prabuuu……!” tangis Gendhuk Jinten meledak tak terbendung. Ia teringat masa-masa indah di dalam keraton Majapahit yang amat megah. Bahkan teringat kepada eyangnya yang adalah seorang raja besar di negeri Majapahit.
“Sabaaar Ndhuuk…., sabaaar….!” hibur Nyi Demang.
Mbok dukun pun kembali berlari-lari kecil mendengar tangis Gendhuk Jinten kembali meledak.
“Bagaimana ini, Nyi Demang…..?” tanya Mbok dukun.
“Biarlah ia menumpahkan tangisnya, Mbok…..! biar tuntas…..!” kata Nyi Demang.
Mbok dukun pun kemudian memijit pundak dan leher belakang Gendhuk Jinten untuk mengendorkan ketegangan. Mbok dukun cukup berpengalaman dalam pijit memijit. Gendhuk Jinten pun mulai mereda kembali tangisnya.
Mbok dukun masih terus memijit Gendhuk Jinten sehingga ia benar-benar menjadi tenang.
“Simpanlah surat itu, Ndhuk…..!” kata Nyi Demang.
Namun Gendhuk Jinten justru membuka kembali surat yang belum selesai dibacanya itu.
Nyi Demang kemudian melihat Gendhuk Jinten menarik nafas panjang, namun tidak tahu apa yang isi surat yang dibaca oleh Gendhuk Jinten itu.
Saat itu Gendhuk Jinten sedang mengulang isi surat yang menerangkan bahwa ayahnya, Ki Tanu telah menyimpan cupu tembikar ditanam di sudut kolong amben kamar Ki Tanu. Ditulis dalam surat itu agar isi cupu itu bisa digunakan untuk membiayai kehidupan Gendhuk Jinten dan bayi yang akan dilahirkannya.
…………..
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Yang paling tidak diharapkan adalah perpisahan dengan orang yang paling dekat.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *