Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#232

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#232

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(232)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Siang itu, Jaka Tingkir sudah menunggu Kanjeng Sultan di bangsal panganti di samping pendapa keraton. Namun Kanjeng Sultan masih di barak pasukan. Terlebih dengan kehadiran Kanjeng Sunan Kudus sehingga terlambat kembali ke keraton.
Nimas Cempaka terkejut ketika melihat Jaka Tingkir yang telah ia kenali wajahnya duduk seorang diri di bangsal panganti tersebut.
Nimas Cempaka adalah seorang putri yang supel dan luwes pergaulannya sehingga ia tidak canggung untuk menyapa perjaka yang duduk seorang diri itu.
“Apakah Ki Lurah akan menghadap Ramanda Sultan…..?” Bertanya Nimas Cempaka dengan ramah.
Jaka Tingkir tidak mengira jika gadis yang selalu muncul dalam angannya tiba-tiba menyapa dengan ramah. Namun Jaka Tingkir yang telah malang melintang dalam pengembaraan segera menguasai keadaan.
“Benar Gusti Putri…..! Utusan Kanjeng Sultan telah meminta saya untuk menghadap siang ini…..!” Kata Jaka Tingkir dengan senyum tipisnya.
“Ramanda Sultan sedang ke barak, tetapi pasti akan segera tiba…..!” Kata Nimas Cempaka sambil duduk di seberang tempat duduk Jaka Tingkir. Perjaka yang ia kagumi, terlebih setelah melihat sendiri bagaimana anak muda yang tampan dan tubuh yang kencang itu bertarung melawan kebo bule.
“Pasti karena ada tanggungjawab yang lebih besar di barak. Biarlah aku tunggu sampai Kanjeng Sultan tiba…..!” Jawab Jaka Tingkir yang tidak canggung berbincang dengan putri Sultan itu.
“Yang aku dengar, pasukan besar telah berkumpul di barak-barak prajurit. Menurut rencana, pasukan itu akan melawat ke bang wetan…..!” Kata Nimas Cempaka yang sengaja mencari bahan pembicaraan yang bisa nyambung dengan anak muda itu.
“Ki Ganjur juga telah banyak bercerita tentang pasukan besar itu. Bahkan ribuan prajurit dari Pasundan pun telah tiba……!” Sahut Jaka Tingkir menanggapi bahan perbincangan yang dilontarkan oleh Nimas Cempaka.
“Mungkin juga Kanjeng Sultan akan memerintahkan kepadaku untuk bergabung dengan pasukan itu…..!” Pancing Jaka Tingkir ingin tahu tanggapan dari Nimas Cempaka.
“Bukankah Ki Lurah ditetapkan sebagai lurah prajurit njeron beteng? Selama ini, pasukan njeron beteng tidak pernah terlibat peperangan di luar keraton…..!” Kata Nimas Cempaka yang tahu banyak tentang keprajuritan pula.
Pancingan Jaka Tingkir berhasil mengetahui tentang pasukan yang disebut njeron beteng tersebut. Namun Jaka Tingkir ingin meyakinkan.
“Meskipun demikian, wewenang sepenuhnya ada pada Kanjeng Sultan. Bahkan seandainya Kanjeng Sultan membatalkan ketetapan untukku pula….!” Kata Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir masih ingin berbincang panjang lebar dengan Nimas Cempaka. Namun seorang prajurit telah mengabarkan bahwa Kanjeng Sultan telah tiba.
“Aku tinggal dahulu Ki Lurah…..! Yakinlah bahwa lurah prajurit njeron beteng tidak akan ikut berperang di luar keraton…..!” Kata Nimas Cempaka sambil melangkah meninggalkan Jaka Tingkir.
“Terimakasih Gusti Putri…..!” Kata Jaka Tingkir dengan hormat.

Beberapa saat kemudian, Kanjeng Sultan telah tiba. Dan minta kepada Jaka Tingkir untuk menghadap di pendapa keraton.
Jaka Tingkir yang telah paham adat istiadat keraton segera menghaturkan sembah bakti kepada Kanjeng Sultan. Setelah Kanjeng Sultan menanyakan kabar keselamatan, Kanjeng Sultan kemudian menyampaikan maksudnya.
Bahwa Jaka Tingkir tetap sebagai lurah Njero – lurah bagian dalam beteng yang nanti akan didampingi oleh Ki Lurah Wirajaya yang telah sepuh namun kaya akan pengalaman.
“Beliau ini Ki Lurah Wirajaya yang akan mendampingimu Ki Lurah Jaka Tingkir…..!” Kata Kanjeng Sultan sambil menjunjuk prajurit sepuh yang berada di samping Kanjeng Sultan.
“Kami nanti mohon banyak petunjuk dari Ki Lurah Wirajaya…..!” Kata Jaka Tingkir sambil mengangguk hormat kepada prajurit sepuh yang disebut sebagai Ki Lurah Wirajaya itu.
Ki Lurah Wirajaya tersenyum, namun ia telah tahu banyak tentang lurah prajurit yang masih muda itu dari Ki Ganjur.
Ki Lurah Wirajaya memang bersahabat dengan Ki Ganjur.
……………..
Bersambung…………
Petuah Simbah: “Yang muda yang bersemangat, yang sepuh tut wuri handayani.”
(@SUN).

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *