Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#239

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#239

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(239)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Kini hampir dua pekan pasukan Demak Bintara yang besar dan kuat itu tetap belum bisa menyeberangi sungai. Berbagai upaya telah dicoba, namun selalu gagal.
Ketika satu bregada prajurit pilihan dengan gagah berani bersedia menjadi ujung tombak. Mereka berada di paling depan untuk menyeberangi sebuah jembatan. Yang terjadi sungguh menggetarkan. Hampir seluruh prajurit di paling depan itu tercebur ke sungai. Jembatan itu tiba-tiba roboh. Dan benar seperti laporan prajurit sandi, mereka disambut oleh puluhan buaya ganas yang dibuat kelaparan. Dari mereka yang tercebur hanya beberapa yang mampu meloncat untuk menyelamatkan diri. Ada yang lebih celaka, ia meloncat justru di sungai seberang. Seketika ia dihujani anak panah. Ia pun tertangkap musuh di seberang sungai.
Pasukan Demak Bintara harus berpikir ulang untuk kembali mencoba menyeberangi sungai itu. Puluhan korban telah terjadi dan tak boleh terulang kembali.
Kanjeng Sultan Trenggana dan para senopati telah beberapa kali berembug, namun belum menemukan cara yang tepat.

Para prajurit Demak Bintara sungguh sangat tertekan, bukan karena sebuah pertempuran, namun karena ketidakpastian. Mereka beberapa pekan hanya bersiap untuk berperang, namun perang itu tidak pernah terjadi secara terbuka. Mereka mulai bosan dengan keadaan. Bahkan banyak dari mereka yang melampiaskan dengan berburu di hutan dan mencari berbagai buah-buahan hutan. Karena mereka mulai bosan pula dengan masakan yang disajikan. Justru karena tidak ada kegiatan apapun selain bersiap dan bersiga.

Sementara itu, pasukan lawan di seberang sungai tetap bersiaga pula. Namun mereka lebih bisa menjaga diri karena di negeri sendiri. Persediaan bahan makanan pun tak akan berkekurangan. Bahkan mereka selalu menambah jebakan-jebakan di sepanjang tepi sungai itu. Mereka menyadari bahwa pasukan Demak Bintara jauh lebih banyak dan lebih kuat. Jika mereka berhadapan langsung, kemungkinan berat bagi pasukan bang wetan. Dengan cara itu mereka mampu menahan pasukan lawan.
Di pagi itu, pasukan bang wetan sengaja membuat gaduh dengan membunyikan berbagai bunyi-bunyian. Mereka seakan telah menang perang. Mereka sengaja berteriak-teriak untuk memancing kemarahan para prajurit lawan. Mereka sengaja melakukan itu tak jauh dari tepi sungai namun tak akan terjangkau oleh anak panah sekuat apapun. Mereka di padang yang terbuka sehingga para prajurit Demak Bintara bisa melihat dari kejauhan.

Sementara itu Kanjeng Sultan Trenggana sungguh marah oleh pasukan lawan yang dengan sengaja memancing kemarahan.
Kembali para petinggi pasukan Demak Bintara berkumpul untuk menyikapi hal tersebut. Namun lagi-lagi tak menemukan kata sepakat. Bahkan tak sedikit dari para senopati yang mengusulkan untuk kembali saja. Mereka tak ingin tersiksa berkepanjangan dengan keadaan seperti itu.
Pagi itu perdebatan sungguh sangat tegang. Kanjeng Sultan Trenggana sendiri sudah berusaha untuk menahan amarah.
Dalam ketegangan itu, seorang prajurit muda yang juga sebagai juru ladi terpaku mendengarkan perdebatan yang memegang itu. Ia sedang membawa nampan berisi sajian dan sebuah pisau pemotongan daging. Ia tak berani melangkah, takut mengganggu perdebatan. Saat itu, ia berdiri sedikit di belakang Kanjeng Sultan.
Kanjeng Sultan Trenggana yang tahu ada prajurit muda yang berdiri di samping belakangnya merasa terganggu dan seakan prajurit muda itu tidak sopan berdiri mendengarkan perdebatan.
Tiba-tiba semua yang melihat terkejut bukan kepalang ketika Kanjeng Sultan mendorong jidat si pembawa nampan itu. Prajurit muda itu pun terjengkang jatuh. Sajian pun jatuh berserakan.
Namun sama sekali tidak ada yang menduga, bahkan oleh Kanjeng Sultan Trenggana sendiri. Prajurit muda itu tiba-tiba meloncat menyerang Kanjeng Sultan dengan pisau di tangan.
Kanjeng Sultan adalah seorang yang sakti mandraguna. Namun saat itu ia benar-benar tidak bersiap dan tidak menduga sama sekali. Dalam keadaan seperti itu, ajian apapun menjadi tidak berarti.
…………….
Bersambung…………

Petuah Simbah: “Keadaan paling membosankan adalah menunggu dalam ketidakpastian.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *