Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#268

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(268)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Senopati Jepara yang memimpin pasukan itu kemudian memerintahkan; sebagian mengikuti jejak darah yang ke arah timur, sebagian lagi mengikuti jejak yang ke arah barat. Sebagian lagi dari mereka merawat jasad dan yang terluka parah di tempat bekas pertempuran itu.
“Segera kita laksanakan mumpung hari belum gelap…..!” Perintah senopati itu.

Tidak perlu diulang dua tiga kali, mereka segera membagi diri. Tiga puluh prajurit ke arah barat, tiga puluh prajurit lainnya ke arah timur, sedangkan yang merawat di tempat bekas pertempuran ada lima belas prajurit.
“Beri tanda jika memerlukan bantuan…..!” Berkata senopati itu lagi.
Senopati Jepara itu sendiri memimpin yang ke arah timur, sedangkan prajurit pengawal Kanjeng Ratu Kalinyamat sebelumnya, ikut merawat jasad dan yang terluka.
Mereka yang melacak jejak itu memilih berjalan kaki. Kuda-kuda mereka, mereka tambatkan di sekitar bekas arena pertempuran. Dengan berjalan kaki mereka lebih leluasa.

Sementara itu, Pangeran Hadliri dan senopati pengiringnya sudah jauh masuk hutan. Mereka tak lagi mendengar prajurit lawan yang mengejar. Mereka sempat beristirahat di bawah pohon yang rindang. Senopati itu juga mendapat luka gores di beberapa bagian kulitnya. Namun sepertinya tidak terlalu membahayakan. Senopati itu terkejut ketika mengetahui bahwa di tubuh Pangeran Hadliri ada beberapa luka yang cukup dalam. Darah pun ada yang mengalir deras dari lambung kirinya.
“Dibebat dahulu luka itu, Pangeran…..!” Berkata senopati itu sambil menyobek kainnya untuk memampatkan darah.
“Baiklah…..!” Berkata Pangeran Hadliri lirih sambil menahan sakit tentunya.
Senopati itu cemas karena melihat wajah Pangeran Hadliri yang pucat pasi.

Sementara itu, para prajurit yang bersama senopati Jepara terus mengikuti jejak yang ke arah timur. Jejak yang sepertinya di lewati oleh beberapa orang. Jika jejak itu dilalui oleh beberapa orang dapat dipastikan itu adalah jejak musuh. Karena hampir semua prajurit pengawal Kanjeng Ratu Kalinyamat tergeletak di tempat pertempuran. Hanya Pangeran Hadliri dan senopati pengawalnya yang tidak tampak.
“Heeem….., apa mungkin Pangeran Hadliri dan senopati menjadi tawanan….?” Batin senopati itu.
Mereka berharap bisa segera menyusul pasukan musuh.
“Kita harus selalu waspada…..! Senjata harus selalu siap di tangan……!” Seru senopati itu.
Mereka memang tidak bisa berlari karena harus mengamati jejak. Beruntungnya ada seorang prajurit sandi yang jeli mengamati jejak-jejak orang. Ranting-ranting patah dan rumput yang tersibak memudahkan mereka untuk mengikuti jejak.
Senopati Jepara tersebut meminta kepada para prajuritnya untuk tidak menimbulkan suara. Harapannya, mereka jangan sampai diketahui oleh musuh yang mereka kejar.
Seorang prajurit sandi yang berpengalaman itu menawarkan diri untuk berjalan cepat dengan meningggalkan tanda-tanda yang mudah dikenali.
“Jangan sendiri…..! Harus berdua……!” Perintah senopati Jepara.
Mereka berdua kemudian mendahului pasukan Jepara.

Sementara itu, para prajurit Demak Jipang yang sedang menyingkir itu juga tidak bisa berjalan cepat. Justru karena ada beberapa prajuritnya yang terluka, dan salah satunya yang terluka adalah pimpinan pasukan. Bahkan beberapa kali mereka harus berhenti karena salah satu prajurit yang terluka harus dibopong bertiga.
Mereka tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata yang mengawasi mereka. Mereka memang tidak memperhitungkan bahwa para prajurit Jepara akan melacak masuk ke hutan. Mereka mengira, para prajurit Jepara akan disibukkan mengurus jasad kawan-kawannya dan mencari Pangeran Hadliri dan seorang prajuritnya.
“Cepat kau jemput kawan-kawan kita, aku menunggu di sini…..!” Berkata prajurit sandi Jepara dengan berbisik.

Para prajurit Jepara segera berlarian menuju ke tempat prajurit sandi menunggu. Senopati itu belari cepat dengan ringannya mendahului para prajuritnya.
……………..
Bersambung………

Petuah Simbah: “Dalam setiap pertempuran tidak ada yang diuntungkan.”
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *