Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#275

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#275

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(275)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Selagi mereka berbincang, datanglah dua orang prajurit, yang seorang prajurit Demak Jipang, sedangkan yang seorang adalah prajurit Kudus.
Sultan Harya Penangsang tertegun melihat prajuritnya berlepotan darah di pakaiannya. Prajurit yang terluka, namun tidak membahayakan.
“Segera katakan bagaimana hasilnya kau aku utus…..!” Berkata Sultan Harya Penangsang tidak sabar.
“Biarlah keduanya menata nafas terlebih dahulu sehingga laporannya jelas…..!” Saran dari Kanjeng Sunan Kudus.
“Sebelumnya menghaturkan sembah bakti kepada Kanjeng Sultan dan kepada seluruhnya yang kami hormati…..!” Berkata prajurit itu tanpa meninggalkan sopan santun.
Setelah saling berkabar keselamatan sesuai dengan adat istiadat Demak Jipang, prajurit itu kemudian melaporkan kejadian di tepi hutan menuju Jepara.
Prajurit itu mencoba melaporkan secara rinci kejadian yang sesungguhnya.
“Jadi belum tahu Hadliri mampus atau tidak…..?” Bertanya Sultan Harya Penangsang.
Prajurit itu ketika meninggalkan Kudus memang belum tahu apakah Pangeran Hadliri selamat atau tidak. Namun yang ia tahu bahwa Pangeran Hadliri terluka ketika melarikan diri. Sedangkan Kanjeng Ratu Kalinyamat telah terlebih dahulu melarikan diri dengan kereta.
“Prajurit tidak becus…..! Membunuh Hadliri dan Kalinyamat yang sudah di depan mata saja gagal…..! Biarlah teman-temanmu mampus…..!” Amarah Sultan Harya Penangsang.
Prajurit yang sudah terluka itu pun ketakutan, ia tidak menyangka bahwa Sultan Harya Penangsang sangat marah. Bahkan kawan-kawannya yang telah gugur pun tidak dianggap sama sekali.
“Kanjeng Sunan, apakah perlu Jepara kita serbu secepatnya…..?” Bertanya Sultan Harya Penangsang.
“Sabar Angger Sultan….., semua harus diperhitungkan dengan cermat, bukan karena terbawa arus kemarahan…..!” Saran Kanjeng Sunan Kudus.
Kemudian Kanjeng Sunan Kudus melanjutkan; “Aku kira para prajurit utusan Angger Sultan sudah bekerja keras, terbukti hampir seluruh prajurit telah gugur. Hargailah mereka…..!”
“Ya Bapa…..!” Jawab Sultan Harya Penangsang singkat karena sangat kecewa.
“Aku ingin istirahat…..!” Berkata Sultan Harya Penangsang yang kemudian meninggalkan pertemuan.
Mereka tidak ada yang mencegah Sultan Harya Penangsang yang sedang marah. Ia yang berilmu tinggi ini memang memiliki watak mudah marah dan tidak sabaran.

Sementara itu, perjalanan Sultan Hadiwijaya beserta sang istri dan para pengiringnya lancar tanpa hambatan.
Mereka telah sampai di alun-alun kota Jepara.
Mereka tertegun ketika menyaksikan banyaknya orang yang ingin memberi penghormatan terakhir kepada Pangeran Hadliri. Bahkan di alun-alun pun dipenuhi oleh para pelayat.
Ini sebagai bukti bahwa Pangeran Hadliri dicintai oleh kawula Jepara.
Sultan Hadiwijaya dan para pengiringnya telah dijemput dan kemudian diantar ke pendapa kadipaten.
Kanjeng Ratu Kalinyamat dengan mata sembab dan wajah yang kuyu sayu menerima kedatangan Sultan Hadiwijaya dan sang istri, Gusti Ratu Cempaka.
Gusti Ratu Cempaka yang merupakan adik dari Kanjeng Ratu Kalinyamat itu kemudian menubruk kakandanya. Mereka kemudian bertangis-tangisan. Suasana yang sebelumnya telah mulai tenang, kini kembali mengharukan. Mereka, terlebih para wanita yang menyaksikan kembali sesenggukan, bahkan ada yang menangis tak tertahankan. Tangisan itu kembali menular, menjalar ke hampir seluruh pendapa kadipaten.
Setelah Kanjeng Ratu Kalinyamat bisa menguasai diri, ia kemudian menghampiri Sultan Hadiwijaya.
“Dimaaas….., Kangmas Pangeran benar-benar telah meninggalkan kita. Penangsang sungguh kejam…..!” Keluh Kanjeng Ratu Kalinyamat.
“Sultan Demak Jipang itu kita pikirkan kemudian, Kangmbok Ratu….! Sekarang kita selenggarakan penghormatan terakhir kepada Kangmas Pangeran Hadliri sebaik mungkin. Kangmas Pangeran adalah bunga bangsa bagi kadipaten Jepara ini, Kangmbok Ratu…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya untuk membesarkan hati Kanjeng Ratu Kalinyamat.
…………
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Jangan sampai terjadi, kematian seseorang justru disyukuri banyak orang.”
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *