Trah Prabu Brawijaya.
Seri 1035
Mataram.
Ki Ageng Mangir
Wanabaya.
Setelah berkata demikian, Ki Ageng Mangir Wanabaya segera pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada orang yang memperhatikan kepergian Ki Ageng Mangir Wanabaya karena hampir semua orang terpesona dengan para penari di tengah arena.
Hari itu memang telah lewat tengah hari. Dan jika nanti rombongan penari itu sampai di kedaton Mangir, tentu telah sore. Dan jika nanti penontonnya berjubel dan meriah, tengah bisa sampai petang. Dan jika nanti sampai petang, rombongan itu akan diinapkan di babgsal-bangsal yang ada di sekitar kedaton. Itulah angan-angan dari Ki Ageng Mangir Wanabaya sambil berjalan pulang. Perjalanan dari dusun Kembaran sampai ke kedaton Mangir tidaklah dekat, walau juga tidak terlalu jauh. Namun perjalanan rombongan teledek tentu tidaklah lancar.
Pengawal tanah perdikan Mangir telah mengatakan kepada salah seorang penabuh gamelan, bahwa rombongan para penari segera diminta untuk pentas di halaman kedaton Mangir. Ki Ageng Mangir Wanabaya sendiri yang menghendaki.
Ki Sandiguna selaku pimpinan rombongan sangat terkejut dengan permintaan itu. Ia tidak mengira begitu cepat mereka akan langsung tiba di sasaran, kedaton Mangir. Bahkan diminta oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya sendiri, walau lewat pengawalnya.
Ki Sandiguna ingin menyudahi babak tarian yang terakhir itu untuk segera menuju ke kedaton Mangir.
Sesungguhnya, tarian sedang seru dan menarik karena para pengibing telah berganti para penari muda yang tampan-tampan dan gagah. Mereka juga terdiri dari para penari yang sesungguhnya.
Ketika alunan gending itu berhenti, berhentilah tarian babak itu.
Kemudian Ki Sandiguna berkata dengan lantang; “Mohon maaf…..! Pertunjukan di halaman Ki Bayan ini akan segera kami akhiri…..!” Ki Sandiguna berhenti sejenak.
“Wuooo…., lanjut…. lanjut…. lanjut….!” Teriak para penonton.
Bahkan Ki Bayan pun segera menghampiri Ki Sandiguna.
“Ada apa ini….? Kok tiba-tiba dihentikan….? Para penonton masih ingin menyaksikan….! Aku sanggup memberi bayaran lebih….!” Berkata Ki Bayan.
“Lanjut…. lanjut…. lanjut…. lanjut….!” Teriak para penonton yang melihat Ki Bayan berbincang dengan pimpinan rombongan.
Ki Sandiguna kemudian mengatakan bahwa Ki Ageng Mangir Wanabaya meminta untuk segera tampil di halaman kedaton Mangir. Sedangkan saat itu hari telah lewat tengah hari. Jika tidak segera menuju ke kedaton Mangir tentu akan terlalu sore.
Ki Bayan bisa mengerti penjelasan dari pimpinan rombongan itu. Mereka tentu tidak bisa menolak permintaan dari Ki Ageng Mangir Wanabaya. Bahkan Ki Bayan ikut bangga karena Ki Ageng Mangir pun tertarik dengan para penari itu.
“Oooh yaa…., aku ikut senang jika kalian diperkenankan untuk pentas di halaman kedaton. Tentu ini sebuah penghargaan yang besar bagi kalian….!” Berkata Ki Bayan.
“Terimakasih Ki Bayan atas pengertiannya….!” Jawab Ki Sandiguna.
Ki Sandiguna kemudian berkata dengan lantang yang ditujukan kepada para penonton. Dikatakan bahwa mereka diminta untuk pentas di kedaton Mangir sekarang juga.
Tiba-tiba para penonton bersorak. Mereka juga ingin menyaksikan pentas tari tersebut di halaman kedaton Mangir.
“Ayoooo…. ikut ke kedaton…!” Teriak salah seorang penonton.
“Ayoooo…., ayoooo…..!” Sahut mereka.
Bahkan anak-anak muda segera berlarian untuk mendahului rombongan itu agar mereka bisa memilih tempat di halaman nantinya. Mereka memperkirakan tentu akan semakin berjubel para penonton nantinya.
Gusti Putri Pembayun berdebar hatinya karena tiba-tiba segera akan tampil di halaman kedaton Mangir. Demikian pula Nyi Adisara dan yang lain juga tidak mengira jika hari ini akan segera tampil di kedaton Mangir. Bahkan mereka belum merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah tiba di kedaton Mangir nantinya. Bahkan terpikir oleh Ki Sandisasmita sebagai seorang prajurit sandi untuk menyerang Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan tiba-tiba. Tentu kesempatan itu akan ada.
……..
Bersambung………
***Tonton pula vidio kontens YouTube kami yang terbaru Seri Ken Sagopi dan Pitutur Jawi. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook maupun di Instagram.

