Trah Prabu Brawijaya.
Seri 1243
Mataram.
Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Pasukan Lamongan terdesak mundur jauh ke selatan. Bahkan tak sedikit yang menjadi korban. Namun sebagian besar dari prajurit Lamongan tersebut berhasil menyeberangi sungai. Pasukan Mataram terpaksa menghentikan pengejaran. Tentu sangat berbahaya jika kuda-kuda mereka dipaksa untuk menyeberangi jembatan yang sempit atau menyeberangi sungai. Mereka tidak mudah bertahan jika mendapat serangan anak panah. Bisa jadi yang menjadi sasaran anak panah adalah kuda-kuda mereka.
Dalam pada itu, Senopati Jaka Umbaran telah menerima laporan bahwa pasukan Surabaya tengah bertempur melawan pasukan Mataram. Pasukan Mataram yang tidak besar yang sengaja untuk memancing pasukan Surabaya itu berhasil memancing ke arah utara.
Senopati Jaka Umbaran kemudian memerintahkan untuk meninggalkan pasukan Lamongan untuk menghadapi pasukan Surabaya. Dibiarkannya para korban di pihak Lamongan yang masih bergelimpangan di perjalanan. Biarlah nanti diurus oleh para prajurit Lamongan sendiri.
Dalam pada itu, pasukan Surabaya merasa di atas angin karena berhasil mengejar musuh. Para prajurit dari pasukan Surabaya heran karena pasukan Mataram tidak setangguh yang mereka bayangankan. Mereka hanya bisa menghindar dan menghindar. Namun mereka juga kagum dengan salah seorang senopati dari Mataram yang terlalu berani merangsek ke dalam barisan pasukan Surabaya. Mereka juga kagum akan kehebatan senopati tesebut menangkis setiap serangan lawan hanya dengan seutas sabuk kulit. Dan setiap benturan senjata, hampir pasti senjata lawannya akan terlepas. Namun karena mendapat perlawanan dengan pengeroyokan, senopati dari Mataram tersebut menarik diri ke arah utara. Lawan memang jauh lebih banyak.
Tujuan pasukan Mataram berhasil karena bisa menjauhkan pasukan Surabaya tersebut tidak bergabung dengan pasukan Lamongan. Namun mereka juga berhasil sehingga tidak jatuh korban di antara mereka. Satu dua prajurit memang ada yang terluka karena senjata lawan. Namun korban di pihak pasukan Surabaya tentu jauh lebih banyak. Mereka masih tetap bertahan. Ketika menerima laporan bahwa pasukan Mataram yang besar tengah menuju ke utara untuk menyerang pasukan Surabaya dari arah selatan. Mereka juga telah menerima laporan bahwa pasukan Lamongan telah terdesak hingga di seberang sungai. Dengan demikian pasukan Mataram yang besar bisa mengerahkan seluruh prajurit untuk bersama menyerbu pasukan Surabaya. Namun demikian, pasukan Mataram yang sedang bertempur itu tetap menarik diri dengan pelan ke arah utara. Maksudnya agar pasukan Surabaya menjadi memanjang ke arah utara. Dengan demikian akan meringankan penyerbuan pasukan yang dari arah selatan. Dengan gelar perang seperti ini, pasukan berkuda akan banyak diuntungkan. Pasukan dari Surabaya yang tidak berkuda tertinggal dalam banyak hal. Terutama para prajurit sandinya. Mereka selalu terlambat memberi laporan karena hanya berjalan kaki atau berlari-lari kecil. Sementara pasukan Mataram yang berkuda telah melaju kencang. Seperti halnya saat itu, pasukan Mataram telah menyerbu pasukan Surabaya di ujung paling belakang, sementara prajurit sandi mereka masih tertinggal jauh di belakang. Dengan demikian pasukan Surabaya tidak bersiap menghadapi serbuan pasukan Mataram dari arah belakang. Walaupun sebelumnya telah mendengar derap kaki-kaki kuda ke arah mereka. Namun mereka tetap terlambat untuk menghadapinya. Dengan tergesa-gesa pasukan Surabaya berbalik arah untuk menghadapi serbuan musuh. Namun pasukan Mataram yang baru datang itu tidak hanya menyerbu dari satu arah, tetapi dengan menerjang semak belukar mereka menyebar. Pasukan Surabaya-lah yang kerepotan membagi diri. Para senopati mereka tidak bersiap menghadapi serbuan yang dari segala arah tersebut.
Bersambung……..
***Tonton pula vidio kontens YouTube kami yang terbaru Seri Ken Sagopi dan Pitutur Jawi. Cari; St Sunaryo di Youtube atau di Facebook maupun di Instagram.

