Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#454

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#454

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
454
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Raden Mas Danang Sutawijaya tersenyum lebar pertanda senang dengan kehadiran sanak saudaranya dari Laweyan. Terlebih ikut sertanya sang bunda dan adik-adik-nya.
“Berapa orang kah mereka…..?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Kira-kira ada tiga puluhan orang….!” Jawab Dhandhang.
“Terimakasih…., karena di sini akan menjalani laku prihatin….!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
Mereka kemudian berbincang tentang berbagai hal.
Dhandhang dan Karep banyak bercerita tentang keadaan Laweyan dan Panjang pada umumnya. Sedangkan Raden Mas Danang Sutawijaya bercerita tentang Kiai Tunggulwulung dengan segala kisahnya. Namun tidak diceritakan secara utuh tentang pusaka-pusaka warisan Majapahit.
Diceritakan pula tentang pemesanan genteng di dusun Berja. Juga tentang pembuatan jalan serta jembatan ke arah barat. Dan sekarang telah berbelok ke arah selatan. Jika nanti sudah tembus ke selatan akan sampai di ringin tua tersebut.
“Yang membuat jalan apakah juga sebanyak yang ada di sini…..?” Bertanya Karep.
“Yaa….., jumlahnya kurang lebih sama dengan yang ada di sini….!” Jawab Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Ayo sekarang aku ajak keliling area yang sudah dibersihkan…..!” Ajak Raden Mas Danang Sutawijaya.
Namun Raden Mas Danang Sutawijaya telah berpesan kepada para pekerja untuk menyiapkan gandok untuk sementara biar ditempati oleh para ibu dan anak-anak. Sedangkan yang laki-laki bisa menempati barak. Dan Raden Mas Danang Sutawijaya juga berpesan untuk menyiapkan minuman serta makanan sekedarnya bagi yang baru datang.

Mereka bertiga kemudian berkeliling di area yang sudah bersih dari rerumputan. Dhandhang dan Karep merasakan kesejukan di bawah pepohonan besar yang sebagian ranting-ranting yang rendah telah dipangkas. Sejuk dan nyaman untuk pemukiman.
“Pohon beringin tua ini yang akan aku jadikan panjer dari seluruh bangunan. Pohon beringin ini akan terletak di tengah alun-alun….!” Raden Mas Danang Sutawijaya menerangkan.
“Di manakah bangunan utama akan dibangun….?” Bertanya Karep.
“Di sebelah selatan dari rencana alun-alun ini….! Rencana alun-alun yang luas sudah mulai kami patok….!” Lanjut Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Aku yakin akan segera terwujud….!” Sahut Dhandhang.
“Begitulah harapan kami….!” Jawab Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Ayo kita berjalan ke arah selatan, patok-patok rencana bangunan sebagian juga sudah ditanam….!” Lanjut Raden Mas Danang Sutawijaya.
Mereka kemudian menyusur ke arah selatan seperti yang dikatakan oleh Raden Mas Danang Sutawijaya.
Para pekerja saat itu juga sedang giat membersihkan lahan yang semakin luas.
Dhandhang dan Karep kagum akan semangat mereka yang sedang bekerja. Bahkan mereka sambil bersenda gurau.
Para ibu pun bergantian menyediakan minuman di teko, demikian juga camilan di cobek tak pernah kosong.
“Sedemikian ini masih kurang luas, Raden….?” Bertanya Karep.
“Tentu madih kurang…..! Demikian pula yang ke arah timur dan barat juga yang ke utara…..!” Lanjut Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Untuk beteng yang melingkari bangunan, untuk sementara dari kayu-kayu yang besuk-besuk akan kami tebang…..!” Lanjut Raden Mas Danang Sutawijaya.
Mereka bertiga kemudian berkeliling dari ujung ke ujung luasan lahan yang telah bersih dari rerumputan dan semak belukar.
Ternyata cukup luas juga.
“Sepertinya akan lebih luas dari keraton Pajang…..!” Berkata Dhandhang.
“Sepertinya demikian…..!” Karep-lah yang menimpali.

Selagi mereka berkeliling sambil berbincang, terdengar sayup-sayup derap kaki kuda yang lambat.
“Mereka telah datang…..!” Gumam Dhandhang.
“Marilah kita songsong…..!” Ajak Raden Mas Danang Sutawijaya.
Mereka kemudian berlari-lari kecil untuk menyongsong yang baru datang.
Raden Mas Danang Sutawijaya sendiri ingin segera bertemu dengan ibundanya dan saudara-saudaranya.
……….
Bersambung…………
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *