Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#120

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#120

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Pasukan gabungan yang besar dan kuat telah berkumpul di Jipang Panolan. Pasukan itu akan menyisir dari sisi utara pulau ini. Kadipaten terdekat dari Jipang Panolan adalah Kadipaten Bojonegoro. Namun kadipaten ini bukanlah kadipaten yang besar dan kuat. Prajurit telik sandi Kadipaten Bojonegoro telah mengetahui pasukan gabungan dari beberapa negeri yang dipimpin oleh Sultan Trenggono dari Kasultanan Demak Bintara. Menurut penilaian para prajurit sandi Kadipaten Bojonegoro, kekuatan pasukan besar itu, sepertinya terlalu sulit untuk dilawan oleh pasukan Kadipaten Bojonegoro. Bukan berarti para prajurit telik sandi itu mengecilkan kekuatan prajurit negerinya sendiri, namun semua itu berdasarkan perhitungan keprajuritan. Jika benar terjadi pertempuran antara prajurit gabungan itu melawan pasukan prajurit Bojonegoro tentu akan menelan banyak korban di pihaknya betapapun negeri itu mengerahkan segala kekuatan.
“Kita laporkan apa adanya kepada Gusti Adipati, keputusan tetap berada di tangan Sang Adipati…..!” kata salah seorang prajurit sandi kepada sejawatnya.
“Yaa…., memang harus demikian. Kita juga sudah mendengar bahwa pasukan dari Demak Bintara itu juga ada yang melalui laut dengan banyak kapal…..!” kata prajurit sandi lainnya.
Pasukan gabungan dari Demak Bintara itu bukan hanya yang telah bergabung di Jipang Panolan saja, tetapi banyak yang berangkat melalui laut. Pasukan perahu itu pun pasukan yang kuat pula. Pasukan perahu itu adalah pasukan yang dahulu ikut menyerbu ke Semenanjung Malaka bersama Adipati Unus dan yang selamat kembali ke Demak Bintara. Iring-iringan pasukan kapal laut itu pun tak luput dari pengamatan para prajurit telik sandi.
“Baiklah….., aku dan seorang kawan akan segera kembali ke kadipaten, kau dan prajurit yang lain tetap mengawasi pergerakan prajurit itu….!” kata prajurit telik sandi itu.
“Baik Ki Lurah….., kita tidak boleh terlambat…..!” kata prajurit telik sandi kepada prajurit yang rupanya adalah seorang lurah prajurit.

Sementara itu, Adipati Bojonegoro telah menerima kedatangan lurah prajurit telik sandi yang ia tempatkan di Jipang Panolan, dan bahkan juga yang berada di Demak Bintara pula. Adipati Bojonegoro telah memiliki gambaran yang lebih lengkap tentang kekuatan pasukan yang sedang menuju ke arah timur itu. Sang Adipati pun bisa menerima masukan dari para prajurit telik sandi itu. Ia harus secepatnya mengambil keputusan untuk mengadakan perlawanan atau menyerah sehingga tanpa harus mengorbankan banyak prajurit. Namun kata menyerah itu merupakan pantangan bagi setiap jiwa seorang ksatria. Oleh karena itu, Adipati Bojonegoro kemudian mengutus seorang ulama untuk menemui Sunan Kudus yang selalu mendampingi Sultan Trenggono. Ulama tersebut adalah salah seorang murid dari sahabat Sunan Kudus sendiri.
“Mintalah nasehat kepada beliau, apa yang mesti kita lakukan…..?” kata Adipati Bojonegoro kepada utusan tersebut.
“Baik Gusti Adipati…..!” kata ulama tersebut.

Sultan Trenggono dan Sunan Kudus senang menerima utusan tersebut. Seorang utusan yang merupakan murid dari sahabat Sunan Kudus sendiri.
“Katakan kepada Kanjeng Adipati Bojonegoro bahwa pasukan ini tidak akan menyerbu Bojonegoro, tidak mungkin kami bertempur melawan sahabat sendiri. Namun biarlah pasukan ini lewat ke arah timur tanpa gangguan…..!” kata Sunan Kudus dengan bijak.
Sunan Kudus paham bahwa dengan mengirim utusan ulama itu, Adipati Bojonegoro sesungguhnya menyerah dengan cara halus kepada pasukan Demak Bintara. Dengan demikian tidak merendahkan martabat prajurit Bojonegoro sendiri dan tidak menimbulkan banyak korban jiwa.
“Baiklah…., akan kami haturkan kepada Kanjeng Adipati Bojonegoro…..!” kata ulama utusan tersebut.
“Sampaikan pesan kepada Kanjeng Adipati Bojonegoro bahwa beliau wajib mendukung para ulama untuk mengembangkan keyakinan kita….!” kata Sunan Kudus.
Sultan Trenggono pun juga menitipkan pesan-pesan untuk Adipati Bojonegoro.
…………
“Bersambung……….

Petuah Simbah: “Hindarilah peperangan, karena peperangan walau dalam skala kecil sekalipun tetap akan menimbulkan korban.”
(@SUN)

**Kunjungi stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *