Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#128

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#128

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging Handayaningrat sendiri belum mengenal rombongan yang menghentikannya itu. Ia juga tidak tahu maksud dari rombongan itu menghentikannya. Sedangkan senopati Demak Bintara yang pernah bertugas di wilayah Pengging dan sekitarnya itu menilai bahwa Pengging mengambil jarak dengan Demak Bintara dan lebih dekat dengan Majapahit. Ia sekarang sebagai seorang senopati telah sering menerima laporan bahwa Ki Ageng Pengging sering wira-wiri Pengging – Majapahit. Dan ia pun telah menerima laporan bahwa saat ini pasukan Majapahit telah siaga segelar sepapan di perbatasan kota raja. Dan kini ia tahu bahwa Ki Ageng Pengging itu pergi dari arah Majapahit. Penguasa Pengging itu patut mereka curigai sebagai biang tidak tunduknya Majapahit kepada Demak Bintara.
“Salam Ki Ageng Pengging yang perkasa…..!” sapa senopati yang mengenalinya. Ia cukup percaya diri karena Ki Ageng Pengging hanya seorang diri, sedangkan ia berdelapan bersama Sunan Ngudung yang sakti Mandraguna.
“Tidak pada tempatnya memuji seseorang dalam keadaan seperti ini. Siapakah kalian dan apa maksudnya menghentikan aku…..?” sahut Ki Ageng Pengging yang tidak senang dengan cara menyapa orang yang dijumpainya itu.
“Jangan cepat marah, Ki Ageng….! kami bermaksud baik….!” sahut senopati yang telah mengenalnya itu.
“Jika bermaksud baik, tentu sikap kalian tidak sepongah itu….!” kata Ki Ageng Pengging yang merasa bahwa rombongan itu sepertinya tidak bersahabat. Karena tujuh orang telah mengepungnya, sedangkan yang seorang yang berpakaian layaknya seorang ulama berdiri agak jauh.
Ki Ageng Pengging tidak takut jika harus menghadapi mereka itu, namun ia juga harus tahu siapakah mereka dan apa maksudnya.
“Jawab…..! Siapa kalian dan apa maksudnya…..?” tanya Ki Ageng Pengging.
“Kami adalah utusan Sultan Demak yang ingin merintis jalan damai dengan kadipaten-kadipaten di bang wetan, termasuk Majapahit…..!” jawab senopati itu melunak.
“Setahu kami, Majapahit adalah kerajaan dan bukan kadipaten…..! Dan Majapahit pun tidak dibawah kekuasaan manapun…..!” sanggah Ki Ageng Pengging.
“Itulah yang akan kami sampaikan kepada Adipati Majapahit nantinya, bahwa seluruh bang wetan harus bersatu dalam kesatuan dengan Demak Bintara…..!” lanjut senopati itu.
“Tidak…..! Bukan…..! Majapahit bukan kadipaten dan tidak dalam kesatuan dengan manapun…..!” sanggah Ki Ageng Pengging lagi.
Senopati dan mereka yang mengepungnya itu mengerutkan dahi mereka. Mereka menjadi lebih paham mengapa Majapahit yang sekarang ini belum mau pasok upeti ke Demak Bintara. Senopati itu kemudian mengalihkan pertanyaan tentang kademangan Pengging.
“Bukankah Pengging itu adalah kademangan dibawah kuasa Demak Bintara juga…..!” kata senopati itu.
“Bukan pula….! Pengging selama ini diabaikan oleh Demak…..! Pengging bukanlah kademangan, tetapi sebuah Tanah Perdikan…..! Apa yang telah dilakukan Demak terhadap Pengging….!” kata Ki Ageng Pengging tegas.
Senopati itu kemudian berkata kepada Sunan Ngudung dengan sedikit berteriak; “Kanjeng Sunan…..! Sudah jelas sikap dari Demang Pengging ini…..! Apa yang mesti kita lakukan…..?”
“Selesaikan saja dari pada menjadi duri bagi Demak Bintara…..!” kata Sunan Ngudung yang tahu pula bahwa aliran yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar kepada Ki Ageng Pengging itu tidak selaras dengan yang diajarkan oleh para Sunan.
Senopati itu tanggap akan maksud dari Sunan Ngudung, kemudian ia memberi aba-aba kepada para senopati yang lain.
“Kita tangkap orang ini dan kita hadapkan kepada Kanjeng Sultan…..!” kata senopati itu tegas.

Ki Ageng Pengging tidak ingin menyerah begitu saja kepada para utusan dari Demak Bintara tersebut. Tiba-tiba ia melenting tinggi dan keluar dari kepungan para senopati itu. Mereka menyadari bahwa Ki Ageng Pengging pasti berilmu sangat tinggi karena mampu lepas dari kepungan.
…………
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Jika seseorang sudah menyangkut prinsip kehidupan, sering sulit untuk berkompromi…..!”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *