Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#25

Kini Ki Tanu dan Gendhuk Jinten telah menempati pondok barunya. Walau pondok itu jauh jika dibandingkan dengan ksatrian tempat tinggalnya di lingkup keraton, namun ada kepuasan tersendiri di hati Ki Tanu. Terlebih jika melihat putrinya tidak merasa tertekan hidup dalam suasana seperti itu. Ki Tanu memang sengaja bercerita tentang kisah-kisah kejayaan para raja di masa lalu agar bisa menghibur putrinya. Namun juga agar kisah-kisah tersebut tidak hilang ditelan zaman. Lagi pula, para raja masa lalu itu, jika dirunut adalah nenek moyangnya juga, terutama putrinya – Gendhuk Jinten yang merupakan cucu langsung dari Baginda Raja.
“Ayah…..! kisah tentang Mpu Sendok dilanjutkan, ayah…..!” pinta Gendhuk Jinten setelah selesai berbersih diri serta menyiapkan minuman bagi ayahnya.
“Baik Ndhuk…..! Kita duduk di amben yang masih baru ini…..!” kata Ki Tanu sambil duduk di amben dengan galar bumbu petung yang berwarna hitam.
“Besuk kita ke pasar untuk membeli tikar pandan dan perlengkapan lainnya…..!” kata Ki Tanu.
“Jinten senang bisa ke pasar, banyak keperluan yang mesti dibeli, ayah…..!” kata Gendhuk Jinten.

Sebelum Ki Tanu meneruskan cerita tentang Mpu Sendok, ia mengulangi lagi cerita sebelumnya. Bahwa setelah Raja Sanjaya dilanjutkan oleh putranya Rakai Panangkaran. Setelah Rakai Panangkaran kemudian dilanjutkan oleh Raja Smaratungga dan dua trah atau wangsa disatukan kembali oleh Rakai Pikatan. Setelah Rakai Pikatan masih ada raja lagi, yakni Dyah Balitung dan kemudian dilanjutkan oleh Mpu Daksa. Diperkirakan pada zaman itulah terjadinya pralaya, gunung Merapi meletus dan memuntahkan lahar dan pasir yang menimbun bumi di sekitar gunung Merapi. Oleh karena itu, Mpu Sendok dari wangsa Isyana kemudian memindahkan pusat pemerintahan negeri di pulau Jawa bagian timur.
Ki Tanu kemudian mulai bercerita tentang Mpu Sendok. Bahwa Mpu Sendok berasal dari wangsa Isyana. Ia yang memindahkan keraton Mataram dari pulau Jawa bagian tengah ke bagian timur pulau ini seperti yang ia ceritakan katakan. Ia yang kemudian menjadi raja yang pertama di negeri baru tersebut. Negeri itu tidak lagi disebut negeri Mataram, namun lebih dikenal dengan nama negeri Medang.
Mpu Sendok sebagai raja memiliki gelar yang cukup panjang, yakni; Sri Maharaja Rakai Hino Dyah Sindok Sri Isanawikrama Dharmattunggadewa Wijaya. Istrinya juga merupakan seorang putri yang cantik jelita, konon namanya adalah; Sri Parameswari Dyah Kebi.
“Namanya panjang sekali, ayah…..!” sela Gendhuk Jinten.
“Ya demikianlah gelar-gelar para raja zaman dahulu, semuanya tentu memiliki makna…..!” kata Ki Tanu.
“Mpu Sendok sebagai raja menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana, sehingga negeri Medang semakin berkembang….!” lanjut Ki Tanu.
Diceritakan pula bahwa kemudian raja terakhir dari negeri Medang adalah Prabu Dharmawangsa Teguh. Dan selanjutnya kerajaan berpindah ke Kahuripan.
Ki Tanu mengisahkan dengan dibumbui bunga-bunga cerita sehingga menarik disimak dan cukup lama.
“Sekarang sudah malam, sebaiknya kau beristirahat dan tidur. Besuk sudah tidak ada sambatan – gotong royong lagi…..!” kata Ki Tanu.
“Besuk dilanjutkan tentang negeri Kahuripan ya ayah…..!” pinta Gendhuk Jinten yang kemudian pergi untuk tidur. Dan besuk pagi akan ke pasar.

Ketika pagi baru terang tanah, Ki Tanu telah bangun. Ia segera ke kali dengan membawa keranjang, bukan untuk mandi atau mencari rumput, namun untuk mengusung batu yang banyak di tepian kali itu. Keranjang itu kemudian diisi penuh dengan batu-batu sebesar buah sukun. Orang kebanyakan membawa batu setengah keranjang tentu sudah terlalu berat, namun Ki Tanu membawa sekeranjang penuh masih terasa ringan.
Gemeresaknya batu ditumpahkan mbangunkan Gendhuk Jinten. Namun ia kemudian tahu bahwa ayahnya yang telah mruput mengusung batu. Ia kemudian menjerang air untuk membuatkan minuman untuk ayahnya. Dan nanti setelah matahari terbit akan ke pasar. Pagi itu Jinten tidak akan membuat sarapan, ia dan ayahnya ingin sarapan di warung di sekitar pasar.
…………
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Walau barangnya sederhana, namun jika karena usahanya sendiri, tentu akan membuatnya puas.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *