Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#45

Sementara itu, Gendhuk Jinten menjalani kehidupan di pondok seperti hari-hari sebelumnya. Menyiapkan sarapan pagi bagi sang ayah, bersih-bersih pendapa, melayani tamu jika ada yang ingin berobat kepada Ki Tanu dan pekerjaan harian lainnya. Tak ketinggalan ia pasti mencuci di sungai dan mandi di belik pancuran. Tak terpikir olehnya bahwa yang ia kira sebagai sebuah mimpi indah adalah sebuah kenyataan.
Setelah mandi, Gendhuk Jinten beristirahat di dingklik bangku di bawah pohon ketepeng. Ia ingin tertidur di tempat itu dan berharap mendapatkan mimpi indah seperti yang pernah terjadi. Namun, semakin ia berharap, yang terjadi ia tidak bisa segera tertidur. Lamunannyalah yang melayang ke mana-mana. Lamunan seorang gadis yang telah lewat akhil balik dan telah bermimpi indahnya hubungan pria dan wanita. Namun Gendhuk Jinten bisa juga terlelap walau hanya sekejap. Namun yang sekejap itu tak mendatangkan mimpi seperti yang ia harapkan. Bahkan kemudian ia terbangun karena sinar mentari menerobos dedaunan yang menyilaukan matanya.
Gendhuk Jinten pun kemudian menjalani kehidupan seperti biasanya. Tetapi setiap kali ia berharap mendapatkan mimpi yang indah seperti yang pernah terjadi. Tetapi yang diharapkan itu tak pernah menghampiri lagi, bahkan ketika tidur di malam hari.

Dalam pada itu, Ki Tanu juga menjalani kehidupan seperti biasa. Orang yang berobat pun semakin banyak. Mereka yang telah disembuhkan selalu saja membawakan bibit pohon apapun untuk melengkapi kebun buah yang semakin komplit. Bahkan banyak yang kemudian ditanam di pinggiran sungai yang masih kosong. Mereka yang datang untuk ikut mencicipi buah-buah yang matang pun semakin banyak. Pondok dan pekarangan Ki Tanu menjadi semakin reja.
Namun kini Ki Tanu semakin sibuk dengan berbagai kegiatan di kademangan. Ki Demang semakin sering meminta tolong kepada Ki Tanu. Bahkan ketika Ki Demang ingin membentuk pasukan pengawal kademangan, Ki Tanu diminta untuk melatihnya. Ki Tanu dengan senang hati bersedia untuk membimbing para kawula muda untuk diberi dasar-dasar keprajuritan. Namun bukan berarti Ki Tanu adalah guru mereka. Ki Tanu tidak menurunkan ilmu jayakawijayan. Hanya dasar-dasar ilmu kanuragan yang diajarkannya. Para kawula muda pun senang mendapat bimbingan dari Ki Tanu. Ki Jagabaya yang diberi tanggungjawab terbentuknya pasukan pengawal kademangan. Kademangan Pengging yang semakin maju dan berkembang memerlukan pasukan pengawal sendiri.
Ki Demang tidak bisa berharap banyak kepada prajurit Demak. Konon prajurit Demak sedang memperkuat diri, karena dikhawatirkan kadipaten-kadipaten dari wilayah timur bisa saja menyerang setiap saat. Karena sampai saat ini, kadipaten-kadipaten di wilayah timur belum menyatakan setia kepada kekuasaan Demak Bintara.

Sementara itu, perjalanan rombongan yang dikawal oleh para pengawal kademangan Sangkalputung berjalan lancar. Tak ada gerombolan penyamun yang berani mengganggu rombongan yang besar itu. Mereka telah menyeberangi hutan alas Benda dan kemudian hutan alas Gondang dan kemudian sampai di sebuah pategalan. Pategalan yang sudah ada penduduk yang menempatinya, walau masih jarang. Dusun Tegalwaras mereka menamakannya. Mereka kemudian mberikan uang jasa kepada para pengawal itu seikhlasnya. Para pengawal pun tidak menentukan besaran jasa yang harus diberikan kepada mereka. Lasa pun sudah tahu kebiasaan itu, ia kemudian memberikan sewajarnya saja, tidak berlebihan agar tidak dicurigai. Walaupun di kantong kampil Bayaputih tersimpan uang dan mas perak yang lebih dari cukup.
Mereka kemudian beristirahat di sebuah warung makan satu-satunya di dusun itu. Warung yang telah terbiasa untuk singgah mereka yang baru saja menyeberang hutan. Bahkan Lasa pun pernah singgah di warung itu bersama kawan-kawannya ketika itu.
Namun di pendapa dusun Tegalwaras sudah ada beberapa orang yang ingin menyeberang ke arah yang sebaliknya. Para pengawal pun siap mengawal mereka ke arah timur, ke arah kademangan Sangkalputung.
Demikianlah kebiasaan itu terus berlangsung sehingga perjalanan mereka aman dari gangguan para penyamun.
………..
Bersambung………

Petuah Simbah: “Jual jasa dasarnya adalah saling percaya.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *