Cloud Hosting Indonesia
Order Sekarang!Dapatkan Diskon 75% Hosting + Gratis Domain!

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#7

Ki Tanu terhenyak mendengar perbincangan mereka, terlebih ketika mendengar bahwa keberadaan Baginda Raja belum diketahui. Itu artinya, keberadaan sang istri, ibu dari Dyah Mayang Sari – Gendhuk Jinten itu juga belum diketahui.

Sementara itu, putra Baginda Raja yang menyerang keraton Majapahit telah tiba kembali di Demak Bintara. Para ulama dan para sesepuh telah menetapkan sang putra Baginda Raja yang tak lain adalah Raden Patah sebagai raja di Demak Bintara dengan gelar Gusti Pangeran Palembang. Gusti Pangeran Palembang memang telah lama berguru di tanah sabrang di wilayah Palembang. Namun di kemudian hari sang raja lebih dikenal sebagai Raden Patah.
Kekuasaan negeri Demak Bintara meliputi hampir seluruh pulau Jawa bagian tengah seperti Bagelen, Kedu, Banyumas, Tegal, Pekalongan serta daerah Kudus, Grobogan, Pengging dan sekitarnya, juga pulau Jawa bagian timur di sisi utara dan barat. Sedangkan sisi wilayah timur dan sisi wilayah selatan seperti Banyuwangi dan Singasari belum terjangkau oleh kekuasaan negeri Demak Bintara. Terlebih Pulau Bali juga tak tersentuh oleh kekuasaan negeri Demak Bintara.

Dalam pada itu, di kemudian hari banyak sentana Majapahit yang memilih mengungsi ke arah timur dan ke arah selatan dari kotaraja Majapahit. Ada yang memilih mendaki gunung Brama atau gunung Semeru maupun gunung Tengger. Namun ada pula yang menerobos hutan Purwa dan membuka lahan di seberang hutan itu. Ada pula yang menyingkir ke pegunungan Sewu yang berbatu kapur. Tak sedikit pula yang memilih menyeberangi selat Bali dan menetap di pulau itu. Mereka yakin bahwa tempat tinggalnya yang baru tak akan terjangkau oleh prajurit Demak Bintara.
Sementara itu, Baginda Raja yang telah tak bermahkota dan tak bertahta tak ingin keberadaannya diketahui oleh prajurit musuh. Beliau untuk sementara mengungsi di tempat kerabatnya yang jarang ia kunjungi dan tak banyak orang yang tahu. Di tempat yang terpencil itu, kecil kemungkinan untuk terlacak oleh prajurit musuh.

Sementara itu, Ki Tanu dan Gendhuk Jinten telah menyeberang kali Bengawan. Keduanya berbaur dengan para penyeberang yang lain dengan menggunakan getek satang. Dari tempat penyeberangan itu, gunung Lawu tampak gagah menjulang.
Dalam pada itu, runtuhnya Majapahit masih menjadi perbincangan yang hangat oleh mereka yang bersama-sama naik getek.
Ki Tanu hanya mendengarkan saja dan tak memberi tanggapan apapun. Ia pun tetap menjaga diri agar tidak diketahui jati dirinya. Ia dan putrinya juga telah berdandan seperti kawula kebanyakan. Namun hal yang lumrah jika terjadi tegur sapa ramah di antara mereka. Kebanyakan dari mereka adalah para bakul yang telah terbiasa menyeberangi sungai itu untuk jual beli hasil bumi.
“Kisanak…..! sepertinya Kisanak belum pernah menyeberang dan naik getek ini ya…..? Dari mana dan mau kemana, Kisanak……?” sapa salah seorang penumpang getek.
“Benar, Bibi…..! Saya dan anakku ini dari lereng gunung Lawu dan mau ke tempat embahnya anakku ini yang berada di Prambanan…..!” kata Ki Tanu tidak berterusan terang.
“Ooo…..! Pasti perjalanan yang jauh….! Gadis kecil yang manis….! Siapa namamu, Ndhuk…..?” tanya orang yang dipanggil Bibi itu.
“Nama saya Jinten, Mbah…..?” jawab Gendhuk Jinten sedikit ragu.
“He…. hampir sama dengan nama cucuku, Juminten…..!” sahut mbok bakul di sebelahnya.
Ki Tanu tersenyum melihat putrinya sedikit tersipu.
“Hee……, apakah orang-orang di gunung Lawu belum mendengar bahwa Majapahit geger…..?” tanya wanita setengah baya yang cucunya bernama Juminten itu.
“Belum, Bibi…..! Orang gunung selalu ketinggalan kabar…..!” kata Ki Tanu sekenanya.

Setelah setengah hari pejalanan dari seberang kali Bengawan, Ki Tanu dan Gendhuk Jinten melihat di kejauhan dua gunung yang seakan gunung kembar. Namun yang satu mengepulkan asap, sedangkan yang satu lagi tidak.
“Gunung apakah yang mengepulkan asap itu, ayah…..?” tanya Gendhuk Jinten.
“Yang berasap itu adalah gunung Merapi, sedangkan yang tidak berasap adalah gunung Merbabu…..!” kata Ki Tanu yang pernah menjelajah daerah di antara dua gunung itu.
………..
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Tegur sapa ramah adalah lumrah pada waktu dulu walau belum saling mengenal, namun kini tak lagi kita jumpai.”
(@SUN)

.

Add a Comment

Your email address will not be published.