Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#173

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(173)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Namun Jaka Tingkir kemudian menepis angan-angan yang ngelantur – berlebihan itu.
Ia melihat dengan takjub, betapa Kanjeng Sultan Trenggono begitu agung dan berwibawa, namun juga ramah dengan selalu tersungging senyum.
Jaka Tingkir ikut tergetar hatinya melihat sendiri bagaimana kawula Demak Bintara mengelu-elukan sang raja, Kanjeng Sultan Trenggono.
Namun Jaka Tingkir pernah mendengar cerita dari Ki Ageng Sela bahwa sesungguhnya, Ki Ageng Pengging Sepuh itu masih ada pertalian saudara dengan Sultan Patah, orang tua dari Sultan Trenggono sendiri.
Jaka Tingkir menjadi tak berkecil hati karena sesungguhnya ia adalah cucu dari Ki Ageng Pengging Sepuh yang tak lain adalah Pangeran Handayaningrat putra Majapahit. Menyadari hal itu, membuat tekat Jaka Tingkir untuk menjadi seorang prajurit menjadi bulat.

Kanjeng Sultan Trenggono sudah melangkah jauh mendekati alun-alun Demak Bintara, namun barisan pasukan masih cukup panjang.
Kawula Demak Bintara tetap gegap gempita menyambut para pahlawan mereka. Aneka buah-buahan laris manis diambil para prajurit. Mereka yang menyediakan aneka penganan dan buah-buahan itu sangat gembira dan bangga jika yang mereka sajikan diserbu para prajurit. Para prajurit yang terdiri dari utusan dari berbagai kadipaten itupun kagum akan sambutan yang sangat meriah dari kawula Demak Bintara. Dengan demikian, mereka tidak menyesal jika kadipaten mereka tetap setia kepada pemerintahan Demak Bintara.

Namun pada akhirnya, ekor pasukan telah sampai di batas kota pula. Ekor pasukan yang terdiri dari berbagai kereta pengangkut barang. Di samping kereta kuda, juga ada beberapa gerobak sapi yang membawa perlengkapan yang berat-berat. Namun yang berada di paling belakang adalah pasukan berkuda yang selalu siap mengamankan iring-iringan perbekalan itu.

Jaka Tingkir telah meloncat turun dengan ringannya dari atas dahan, walau itu tidak disadari olehnya. Namun beberapa orang yang melihat cara anak muda itu meloncat menjadi takjub. Bagaimana mungkin anak itu meloncat begitu saja dari ketinggian dan tidak jatuh terkapar di tanah, namun tetap berdiri tegak dan kemudian melangkah pergi.
“Heiii…., siapakah anak itu, begitu ringan tubuhnya…..?” celetuk salah seorang yang dekat dengan Jaka Tingkir ketika bertengger.
Namun anak muda itu telah hilang di berjubelnya para penonton.
Jaka Tingkir bergegas ke alun-alun, ia ingin mengetahui kelanjutan dari penyambutan sang raja beserta seluruh pasukan di alun-alun itu.

Saat itu, Pangeran Prawata dan Kanjeng Sunan Kudus beserta seluruh petinggi keraton Demak Bintara yang tidak ikut serta melurug ke Sunda Kelapa telah ikut menyambutnya. Jaka Tingkir bisa melihat mereka, namun ia belum mengenal seseorang pun dari para petinggi negeri itu. Satu-satunya yang dikenal oleh Jaka Tingkir barulah Ki Ganjur. Namun Ki Ganjur tidak ikut ke alun-alun, karena Ki Ganjur yang bertanggungjawab terhadap tempat ibadah utama di keraton Demak Bintara.

Panggungan telah disiapkan di tengah alun-alun untuk menyambut sang raja beserta para senopati yang menyertai rombongan pasukan.
Para penonton tidak diperkenankan masuk di dalam alun-alun. Alun-alun hanya diperuntukkan untuk para prajurit dalam rombongan pasukan yang datang. Jika seluruh prajurit telah sampai di alun-alun, maka alun-alun itu akan penuh para prajurit.
Para penonton berjubel di sekitar alun-alun yang dibatasi oleh para prajurit yang melingkari alun-alun tepung gelang – tak ada celah untuk menerobos masuk. Jaka Tingkir berada di antara para penonton yang berjubel itu. Namun Jaka Tingkir mendapat tempat yang leluasa untuk bisa menyaksikan panggungan.
Jaka Tingkir tertegun ketika melihat di panggungan ada dua orang gadis yang cantik jelita duduk berdampingan dengan Pangeran Prawata. Ia tahu bahwa seorang yang berbusana pangeran itu adalah Pangeran Prawata karena banyak orang yang membicarakannya.
……………..
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Rakyat gegap gempita menyambut karena wibawa dan keagungan sang raja.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *