Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#190

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#190

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(190)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Para penonton menahan tawa, karena justru Jaka Tingkir kemudian berdiri di belakang Dadung Awuk. Namun para penonton juga gemas dan heran, mengapa Jaka Tingkir tidak memanfaatkan peluang yang sangat terbuka untuk menyerang Dadung Awuk. Namun ada pula yang menilai bahwa Jaka Tingkir belum berpengalaman atau tidak memiliki bekal yang cukup. Yang mereka saksikan, Jaka Tingkir hanya menghindar dan menghindar, tidak berani menyerang. Dadung Awuk pun menilai demikian. Ia yakin bahwa modal lurah wira tamtama itu hanya liat berkelit. Tetapi Dadung Awuk berkeyakinan bahwa Jaka Tingkir tak akan selamanya selalu bisa berkelit. Ia kemudian meningkatkan serangannya. Serangan dengan hantaman tangan kiri kanan yang kemudian tiba-tiba kakinya yang melayang mengarah kaki. Namun Jaka Tingkir tetap dengan enteng berkelit luput dari serbuan Dadung Awuk. Jaka Tingkir dengan ringannya berputar mengelilingi Dadung Awuk. Dadung Awuk telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia menyerang membadai tanpa henti. Sekali saja hantamannya mengenai tubuh Jaka Tingkir, lurah wira tamptama itu pasti akan terkapar. Namun Jaka Tingkir bagai burung srigunting yang gesit berkelit.
Tiba-tiba seluruh penonton terperangah, tendangan yang sangat kuat tak sempat dihindari oleh Jaka Tingkir. Namun Jaka Tingkir mempunyai perhitungannya sendiri. Ia ingin menjajagi sekuat apa tendangan lawannya itu. Ia berhasil menangkap pergelangan kaki Dadung Awuk. Seketika Jaka Tingkir mendorong dengan kuat. Yang terjadi adalah tepuk tangan dan sorak sorai yang gempita, karena Dadung Awuk terdorong dan kemudian jatuh terguling. Mereka berharap Jaka Tingkir meloncat dan menyerang Dadung Awuk yang terkapar. Namun tidak dilakukan oleh Jaka Tingkir. Jaka Tingkir tetap berdiri dengan tenang menunggu Dadung Awuk bangkit berdiri. Dadung Awuk tidak merasa sakit, namun mukanya merah padam karena menahan malu.
“Hee Tingkir…..! Kau tidak akan mampu menyakiti aku, karena ilmu kebalku telah sempurna…..!” Dadung Awuk sesumbar.
Jaka Tingkir harus berhati-hati, jika benar ia telah tuntas dengan ilmu kebalnya tentu akan mental jika hanya dihantam dengan tangan kosong. Namun terbersit pikiran Jaka Tingkir untuk mencoba dengan tangan kosong tanpa dilambari dengan ilmunya.
Tiba-tiba Jaka Tingkir benar-benar meloncat menyerang Dadung Awuk dengan tangan kosong. Sebuah hantaman yang cukup keras menerjang dada Dadung Awuk. Namun Dadung Awuk justru tertawa terbahak-bahak, karena hantaman Jaka Tingkir tidak ia rasakan. Dua tiga kali hantaman Jaka Tingkir dibiarkan oleh Dadung Awuk. Ia akan menunjukkan bahwa ia kebal terhadap hantaman lawannya yang ia anggap tak memiliki ilmu jayakawijayan.
“Ha ha ha ha….., ternyata kau tak memiliki ilmu apa-apa, hanya liat meloncat kesana-kemari……!” Dadung Awuk mengejek.
Kawan-kawan Dadung Awuk pun bersorak kegirangan. Mereka yakin bahwa saudara seperguruannya itu akan mampu meringkus lurah wira tamtama itu.
Dadung Awuk kembali memburu Jaka Tingkir. Kini ia lebih berani karena yakin lawannya tak akan mampu menyakitinya.
Jaka Tingkir kini akan menjajagi seberapa kuat pukulan Dadung Awuk. Ia akan mencoba menangkis serangan Dadung Awuk, namun kini akan ia lambari dengan ilmunya, walau tidak sampai ke puncak, ajian Tameng Waja.
“Tuaaang…..!” Jaka Tingkir menangkis pukulan Dadung Awuk.
Dadung Awuk meloncat mundur. Ia mengira lawannya itu menggunakan senjata dalam menangkis pukulannya. Ternyata Jaka Tingkir dengan tangan kosong. Tangan Jaka Tingkir bagaikan besi baja.
Dadung Awuk sesungguhnya merasakan nyeri di tangannya, namun ia tidak menunjukkannya. Bahkan kemudian ia menutupi rasa sakitnya dengan sesumbar, “Ilmu masih mentah mau dipamerkan kepadaku…..!”
Mereka yang menyaksikan tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Yang mereka lihat adalah bahwa Jaka Tingkir menangkis serangan lawannya dan kemudian Dadung Awuk meloncat mundur.
……………
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Untuk menutupi kekurangannya, sebagian orang dengan cara menyombongkan diri.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *