Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#196

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(196)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Sementara itu, kematian Dadung Awuk telah tersebar ke hampir seluruh lingkungan keraton Demak Bintara. Mereka, terutama para prajurit telah mendengar kabar bahwa Dadung Awuk adalah seorang yang sakti mandraguna, namun ia berwatak jumawa. Namun kemudian ia tewas di tangan Jaka Tingkir. Dengan demikian mereka bisa mengukur ilmu Jaka Tingkir pastilah lebih tinggi dari Dadung Awuk. Namun kemudian mereka juga mendengar bahwa Jaka Tingkir telah diusir dari telatah Demak Bintara.

Namun para prajurit itu segera melupakan nama Dadung Awuk maupun nama Jaka Tingkir. Terlebih Kanjeng Sultan Trenggono telah merencanakan untuk melurug – menyerang ke bang wetan untuk menundukkan Pasuruan, Panarukan dan Blambangan yang sampai saat ini belum pernah mengirim upeti kepada Demak Bintara. Kanjeng Sultan juga sudah mendengar bahwa pasukan Portugis telah membuat benteng pertahanan di ujung timur pulau ini. Rupanya, pasukan Portugis setelah terusir dari telatah Sunda Kelapa bukannya kembali ke negerinya, namun mendarat di Panarukan. Rupanya pula, karena adanya pasukan kulit putih itulah beberapa kadipaten di bang wetan tidak mau pasok upeti kepada Demak Bintara.
Kanjeng Sultan Trenggono semakin besar tekadnya untuk mengusir pasukan asing itu dari tanah Jawa. Sultan Trenggono tidak ingin gagal, maka pasukan besar harus segera dipersiapkan.

Dalam pada itu, Jaka Tingkir tidak mengalami kesulitan untuk menemukan padepokan pamannya, Ki Kebo Kanigara di tepi rawa.
Ki Kebo Kanigara dengan senang hati menerima kedatangan keponakannya itu. Ia sudah mengenal Jaka Tingkir sejak kecil. Ia pun tahu bahwa Jaka Tingkir memiliki bakat yang besar dalam olah kanuragan maupun olah jayakasantikan. Ki Kebo Kanigara juga sudah tahu bahwa Jaka Tingkir adalah salah satu murid dari Ki Ageng Sela. Namun Ki Kebo Kanigara belum mendengar bahwa Jaka Tingkir telah mencoba melamar untuk menjadi seorang prajurit. Bahkan kini Jaka Tingkir terusir dari Demak Bintara.
Ki Kebo Kanigara kemudian memanggil para muridnya untuk menemui Jaka Tingkir keponakannya. Para murid Ki Kebo Kanigara itu adalah Mas Manca, Mas Wila dan Ki Wuragil.
Setelah saling berkabar keselamatan, Ki Kebo Kanigara kemudian memperkenalkan ketiga muridnya kepada Jaka Tingkir. Mas Manca dan Mas Wila usianya sedikit lebih tua dari Jaka Tingkir, sedangkan Ki Wuragil sudah lebih dewasa.
Setelah berbersih diri dan melakukan kewajiban agamanya serta menikmati hidangan yang telah di sajikan, Jaka Tingkir kemudian menceritakan kisahnya ketika melamar menjadi prajurit di Keraton Demak Bintara.
Jaka Tingkir menceritakan sejak keberangkatannya dari Sela. Ia disarankan untuk singgah di pondok Ki Ganjur. Tentang loncat mundur di kolam, tentang orang bercadar yang ternyata Kanjeng Sultan Trenggono sendiri, tentang diangkatnya menjadi lurah wira tamtama, tentang Dadung Awuk hingga di usir dari istana, semua diceritakan oleh Jaka Tingkir dengan rinci.
“Paman Ganjur yang menyarankan kepada Tingkir untuk menuju ke padepokan ini, Paman…..!” Kata Jaka Tingkir.
“Ya….., Kakang Ganjur adalah sahabatku yang belum lama berkunjung ke tempat ini. Ia juga sahabat dari Ki Ageng Sela…..!” Kata Ki Kebo Kanigara.
Kebo Kanigara kemudian melanjutkan tanggapannya; “Sebagai prajurit baru dan langsung dianugerahi pangkat lurah wira tamtama adalah sebuah kepercayaan yang tinggi dari Kanjeng Sultan Trenggono……!”
“Itulah Paman, kepercayaan yang tinggi dari Kanjeng Sultan, namun Tingkir gagal mengemban kepercayaan…..!” Jaka Tingkir berkeluh.
“Kanjeng Sultan masih bermurah hati karena kau tidak mendapat hukuman yang berat, atau bahkan hukuman mati…….!” Ki Kebo Kanigara menanggapi.
Ketiga murid Ki Kebo Kanigara mendengarkan kisah Jaka Tingkir dengan sungguh-sungguh. Mereka menganggap kesalahan tidak sepenuhnya pada Jaka Tingkir. Dadung Awuk itulah yang terlalu sombong.
“Kau tinggal di padepokan ini saja, kecil kemungkinan ada prajurit Demak Bintara yang akan sampai di tempat ini. Seandainya ada pun aku yang akan bertanggungjawab…..!” Kata Ki Kebo Kanigara selanjutnya.
…………….
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Orang bersalah memang selayaknya menerima hukuman.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *