Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#199

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#199

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(199)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Jarak ke Banyubiru tidaklah jauh, namun mesti melewati lereng dan hutan yang tidak pepat. Ia memang ingin bertemu dengan Ki Ageng Banyubiru dan syukur bisa bertemu seorang wali yang bisa membimbing ilmu agamanya. Di padepokan, Jaka Tingkir kurang mendapat ilmu agama, karena Ki Kebo Kanigara dan para muridnya tidak mendalaminya. Mereka tetap setia dengan kepercayaan para leluhurnya.

Perjalanan Jaka Tingkir tidak tergesa-gesa, ia berjalan sambil menikmati indahnya alam. Ia kemudian beristirahat di bawah pohon asem sambil menikmati indahnya telaga Rawapening dari ketinggian. Rawapening airnya bening berkilau diterpa sinar mentari.
Sementara Jaka Tingkir sedang menikmati indahnya alam Rawapening, sepasang mata memperhatikan dengan terkesima terhadap anak muda yang belum dikenalnya itu. Mata batinnya melihat aura yang terpancar dari anak muda yang sedang duduk di bawah pohon asem tersebut. Beberapa saat ia memperhatikan anak muda itu untuk meyakinkan penglihatan batinnya.
“Tak salah penglihatanku, anak itu memiliki pancaran aura yang tidak dimiliki sembarangan orang. Siapakah anak yang masih muda ini…..?” Batin orang itu.
Orang itu kemudian melangkah mendekati Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir merasa pula ada langkah orang ke arahnya. Namun bagi Jaka Tingkir hal itu lumrah karena jalan itu memang sering dilalui orang walau belum ramai.
Orang yang datang itu kemudian mengucapkan salam keagamaan yang dianutnya.
Jaka Tingkir terkejut namun juga senang. Kemudian ia menyambut salam itu.
“Alam Rawapening yang indah. Itulah ciptaan Sang Maha Pencipta…..!” Kata orang itu karena tahu bahwa anak muda itu sedang memperhatikan Rawapening dari ketinggian.
“Benar Bapa…..! Segala ciptakan ini adalah ciptaaNya…..!” Jawab Jaka Tingkir.
“Siapakah andika ini, dari mana dan mau ke mana, anak muda…..?” Orang itu bertanya.
“Dari padepokan di tepi Rawapening dan akan menghadap Ki Gede Banyubiru. Orang tua kami memberi nama Mas Karebet……!” Jawab Jaka Tingkir jujur.
“Apakah Karebet boleh mengenal nama Bapa…..?” Kata Jaka Tingkir berhati-hati.
“Nanti bertanyalah kepada Ki Gede Banyubiru jika sudah bertemu, karena aku adalah seorang musafir yang tidak tetap tempat tinggalku…..!” Katanya.
“Baiklah Bapa…..!” Kata Jaka Tingkir.
“Aku akan melanjutkan perjalanan…..!” Kata orang itu, namun orang itu masih berkata; “Oooh yaa…., salamku untuk Ki Gede Banyubiru. Tuntutlah ilmu keagamaanmu dan ilmu-ilmu yang lain. Suatu saat kau akan mendapatkan pangkat dan derajat yang tidak sembarangan orang bisa mendapatkannya…..!” Kata orang itu.
Orang itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Jaka Tingkir yang termangu-mangu.
“Bapa….., maaf Bapa….!” Seru Jaka Tingkir ingin menahan orang itu.
Namun orang itu segera melangkah pergi meninggalkan Jaka Tingkir tanpa menoleh.
Jaka Tingkir masih berdiri termangu, namun ia tidak mengejar orang itu. Jaka Tingkir merasa bahwa orang itu tidak berkenan jika ia tahan.
Jaka Tingkir masih memperhatikan orang yang aneh tersebut sampai akhirnya hilang di balik tikungan.
Jaka Tingkir masih beberapa saat berada di bawah pohon asem tersebut. Dalam batin ia berharap bahwa orang tersebut akan kembali lagi dan bisa berbincang banyak hal. Namun orang itu tidak kembali lagi.
Jaka Tingkir yang juga disebut Mas Karebet itu kemudian melanjutkan perjalanan.
Jaka Tingkir tidak terlalu memikirkan kata-kata orang itu yang mengatakan bahwa ia kelak akan mendapatkan pangkat dan derajat yang tidak sembarangan orang bisa mendapatkannya. Ia beranggapan bahwa hal itu lumrah dikatakan oleh seorang yang telah sepuh kepada orang yang lebih muda. Kata-kata itu merupakan doa harapan yang biasa diucapkan oleh orang tua kepada anaknya.

Namun akhirnya Jaka Tingkir meninggalkan pohon asem tempat ia berteduh. Ia melangkah menuju ke Kadipaten Banyubiru untuk menghadap Ki Gede Banyubiru.
………………
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Kata-kata bisa menjadi sebuah doa. Oleh karenanya jaga kata-kata agar yang terucap sungguh bermakna.”
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *