Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#204

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(204)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Ki Ageng Pengging heran karena para tamunya itu mengaku utusan Allah.
“Jika demikian, harus segera aku temui Nyi……! Kau siapkan hidangan yang pantas……!” Kata Ki Ageng Pengging.
“Baik Ki Ageng, para inang biar membantu aku……!” Jawab Nyi Ageng Tingkir.
Ki Ageng Pengging segera berbersih diri karena keringatnya masih membasahi tubuhnya.
Ia pun kemudian berpakaian yang pantas untuk menemui para tamunya. Di punggungnya pun terselip keris pusaka yang memiliki warangan – racun keris yang sangat kuat. Segores kecil ujung keris itu pada kulit siapapun, pasti akan menemui ajal. Keris pusaka yang dengan wrangka – sarung keris yang bertereteskan mas intan berlian.

Kanjeng Sunan Kudus lebih dahulu mengucapkan salam keagamaan ketika Ki Ageng Pengging muncul dari balik pintu pendapa.
Ki Ageng Pengging pun menjawab salam dengan fasih dan hormat.
Ki Ageng Pengging belum pernah bertemu dengan para tamunya yang berpakaian santri, sedangkan yang seorang berpakaian jubah putih dengan ikat kepala serba putih pula.
Setelah saling berkabar keselamatan menurut adat istiadat setempat, Ki Ageng Pengging kemudian menanyakan siapa dan dari mana serta tujuannya apa para tamunya tersebut.
Kanjeng Sunan Kudus kemudian memperkenalkan dirinya serta para pengiringnya yang sesungguhnya.
Dikatakan bahwa mereka adalah utusan dari Kanjeng Sultan di Demak Bintara. Bahwa dialah yang bernama Sunan Kudus, sedangkan para pengiringnya benar para santrinya, namun mereka juga merupakan para prajurit pilihan dari Demak Bintara.
Ki Ageng Pengging terkejut bahwa yang hadir adalah Kanjeng Sunan Kudus sendiri. Ia tentu sudah mendengar tentang kebesaran nama dari Kanjeng Sunan Kudus. Namun Ki Ageng Pengging memang belum pernah bertemu secara langsung dengan Kanjeng Sunan Kudus.
“Salam hormat saya untuk Kanjeng Sunan yang sudi hadir di pondok kami, Kanjeng Sunan…..!” Kata Ki Ageng Pengging setelah tahu siapa tamunya tersebut.
“Bersikap sewajarnya saja Ki Ageng, karena kami ini hanya utusan. Yang lebih utama adalah maksud tujuan kami ke Pengging ini……!” Kata Kanjeng Sunan merendah.
Kanjeng Sunan Kudus kemudian menyampaikan tujuannya. Dikatakan bahwa Sunan Kudus melanjutkan kunjungan Patih Wanasalam beberapa tahun yang lalu yang meminta kesediaan Ki Ageng Pengging untuk menghadap Kanjeng Sultan di Demak Bintara. Dikatakan bahwa Kanjeng Sultan cukup sabar memberi kesempatan kepada Ki Ageng Pengging.
Ki Ageng Pengging masih berdalih bahwa Pengging tidak mungkin untuk berontak terhadap kuasa Demak Bintara. Pengging hanyalah sebuah kadipaten kecil yang sebelumnya hanyalah sebuah kademangan. Lagi pula, Pengging tidak memiliki pasukan yang kuat untuk melawan pasukan manapun.
“Kami tahu semua itu Ki Ageng, tetapi mengapa sampai saat ini Ki Ageng belum juga menghadap Kanjeng Sultan di Demak Bintara……?” Desak Kanjeng Sunan Kudus.
“Maaf Kanjeng Sunan, luka hati ini masih belum sembuh. Bagaimana eyang kami Prabu Brawijaya harus terusir dari istana Majapahit, dan sampai saat ini kami belum tahu keberadaannya. Bahkan jika sudah mangkat, makamnya pun belum kami ketahui…….!” Dalih Ki Ageng Pengging.
“Itu adalah masa lalu yang tidak mungkin untuk kita elakkan, Ki Ageng. Kenyataannya pusat pemerintahan kini berada di Demak Bintara……!” Dalih jawaban dari Kanjeng Sunan Kudus.
“Luka hati ini belum kering, ketika kami mendengar kabar, dan itu sebuah kenyataan bahwa ayah kami Ki Ageng Pengging sepuh pun gugur oleh prajurit Demak Bintara pula. Yang kami dengar, Sunan Ngudung yang menyebabkan gugurnya ayah kami. Bagaimana mungkin hati ini bisa berdamai dengan pembunuh orang tua kami……!” Dalih selanjutnya dari Ki Ageng Pengging yang di masa mudanya bernama Ki Kebo Kenanga itu.
“Namun yang kami ketahui pula, Ki Ageng Pengging sepuh saat itu gugur dalam pertempuran. Adalah wajar jika siapapun bisa gugur dalam pertempuran. Jika beliau tidak gugur, lawannya yang akan gugur…..!” Dalih Kanjeng Sunan Kudus selanjutnya.
…………….
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Akibat terburuk dari peperangan adalah membunuh atau dibunuh. Oleh karena itu jauhkanlah bentrokan sekecil apapun di negeri ini agar terhindar dari korban yang sama-sama tidak diharapkan.”
(@SUN).

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *