Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#217

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#217

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(217)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.

Ki Kebo Kanigara sempat singgah di warung sate tak jauh dari kedung Ploso. Ia berpakaian biasa layaknya seorang petani desa yang akan pergi ke pasar. Ki Kebo Kanigara sempat mendengar bahwa di Demak Bintara telah berkumpul banyak prajurit yang akan berangkat ke bang wetan. Namun demikian masih menunggu beberapa kadipaten yang masih dalam perjalanan menuju ke kotaraja Demak Bintara.
Ki Kebo Kanigara juga mendengar perbincangan dari para pengunjung warung itu bahwa Kanjeng Sultan Trenggana kini sedang mesanggrah di alas Prawata.

Kanjeng Sultan beserta keluarganya memerlukan mencari suasana tenang sebelum berangkat ke bang wetan. Sang permaisuri beserta para putra-putri menyertainya pula. Putra-putrinya adalah; Kanjeng Ratu Kalinyamat, Nimas Cempaka dan Pangeran Timur. Sedangkan Sunan Prawoto, putra sulung Kanjeng Sultan tetap di keraton memimpin pemerintahan selama Kanjeng Sultan tidak berada di keraton. Mereka dikawal dua bregada prajurit pengawal raja yang pilihan.

Ki Kebo Kanigara setelah mendengar perbincangan para pengunjung warung tentang keberadaan Kanjeng Sultan itu segera pergi ke alas Prawata untuk meyakinkan.
Akhirnya Ki Kebo Kanigara sampai juga di alas atau hutan Prawata. Ia telah melihat sendiri bahwa benar Kanjeng Sultan sedang beristirahat dengan mesanggrah di pasanggrahan yang memang telah biasa sebagai tempat tinggal Sultan untuk sementara.
Ki Kebo Kanigara juga sempat melihat putra-putri Kanjeng Sultan. Ia pun melihat penjagaan yang sangat kuat di sekitar pasanggrahan itu. Namun demikian, Ki Kebo Kanigara yang berimu tinggi itu mampu untuk tidak diketahui oleh para prajurit.

Ki Kebo Kanigara segera bergegas kembali ke kedung Ploso untuk menemui Jaka Tingkir beserta ketiga murid Ki Kebo Kanigara yang lain. Namun Ki Kebo Kanigara sempat singgah di tempat sahabatnya yang telah beberapa waktu tidak ia kunjungi. Karena perjalanannya itu melewati tempat tinggal sahabatnya. Ia adalah seorang pedagang kerbau yang cukup berhasil. Ia lebih dikenal dengan panggilan Ki Sura Kebo.
Ki Kebo Kanigara tertarik dengan kebo bule yang jauh lebih besar dari pada umumnya. Ki Sura Kebo memiliki kebo bule tiga ekor, yang jantan yang paling besar, kemudian betina indukan dan seekor gudel – anak kerbau.
“Induknya itu sudah mulai bunting lagi……!” Kata Ki Sura Kebo.
“Darimana mulanya kau dapatkan kebo bule itu Kang…..?” Bertanya Ki Kebo Kanigara.
“Dahulu dari Majapahit, milik seorang pangeran, namun sang pangeran itu telah meninggalkan ksatrian dan tidak kembali dalam jangka waktu yang lama. Kemudian aku beli dan diperbolehkan…..!” Kata Ki Sura Kebo.
“Kang Sura sungguh beruntung mendapatkan kebo bule yang sangat jarang kita jumpai ini. Lagi pula kerbau ini tinggi besar, jauh lebih besar dari kerbau kebanyakan…..!” Kata Ki Kebo Kanigara.
“Kerbau ini aku namai Kebondanu, seperti dalam kisah Sumbadra Rabi yang minta syarat kebo bule untuk mengiringi kirab pengantin antara Dewi Wara Sumbadra dengan Raden Harjuna kala itu……!” Seloroh Ki Sura Kebo.
“He he….., menurut kisahnya, Kebondanu itu dengan srati atau pawang bernama Dadungawuk yang lihai memainkan cambuk…..!” Sahut Ki Kebo Kanigara.
“Yaa demikian ceritanya. Aku pernah mendengar ada juga calon prajurit dengan nama Dadung Awuk pula. Namun yang aku dengar ia tewas di tangan anak muda dari Tingkir……!” Sahut Ki Sura Kebo yang tidak tahu bahwa anak muda dari Tingkir itu adalah keponakan dari Ki Kebo Kanigara sendiri. Namun demikian, Ki Kebo Kanigara tidak menceritakan tentang hal itu kepada Ki Sura Kebo. Namun pada saatnya akan ia ceritakan.

Beberapa saat Ki Kebo Kanigara berbincang dengan Ki Sura Kebo. Tiba-tiba timbul gagasan gila dan berbahaya dari Ki Kebo Kanigara sehubungan dengan kebo bule milik Ki Sura Kebo yang dinamakan Kebondanu itu.
Ki Kebo Kanigara sempat menceritakan kepada Ki Sura Kebo bahwa ia baru saja lewat alas Prawata. Ia melihat bahwa Kanjeng Sultan beserta keluarganya sedang beristirahat di pasanggrahan di pinggiran hutan itu.
………………
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Refresing dan rekreasi itu perlu untuk penyegaran setelah disibukkan oleh pekerjaan rutin.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *