Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#236

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#236

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(236)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Sementara itu, pasukan Panarukan, Pasuruan dan Blambangan serta barak prajurit Portugis telah bersiaga untuk menghadapi pasukan Demak Bintara. Pasukan itu akan menghadang di perbatasan negeri jangan sampai pasukan Demak Bintara bisa masuk kotaraja atau mendekati benteng Portugis. Pasukan pimpinan Adipati Blambangan itu telah menyiapkan berbagai jebakan untuk menghambat pasukan musuh.

Sementara itu, Kanjeng Ratu Retno Kencono telah sah menjadi istri dari Pangeran Hadiri. Pangeran Hadiri adalah seorang pedagang bermata sipit dari telatah manca negari yang berhasil. Ia adalah juga merupakan salah satu murid dari Sunan Kudus. Kanjeng Ratu Retno Kencono yang juga disebut Kanjeng Ratu Kalinyamat itu kemudian dipercaya sebagai Adipati Jepara bersama sang suami, Pangeran Hadiri.
Kanjeng Ratu Kalinyamat sangat mendukung ayahandanya, Kanjeng Sultan Trenggana untuk mengusir prajurit Portugis dari tanah Jawa.
Kanjeng Ratu Kalinyamat bersama Pangeran Hadiri sebagai Adipati Jepara sangat disegani.

Dalam pada itu, Jaka Tingkir Mas Karebet mendapat banyak kesempatan untuk selalu bertemu dengan Nimas Cempaka.
Jaka Tingkir selaku lurah wira tamtama njeron beteng mendapat pondok tugas tak jauh dari keputren. Keputren tempat tinggal dari Nimas Cempaka. Namun demikian, Jaka Tingkir tetap menjaga jarak. Bagaimana pun Nimas Cempaka adalah seorang putri raja, sedangkan dia masih seorang lurah prajurit di bawah seorang senopati.
Tetapi Jaka Tingkir tak memungkiri getaran hatinya. Setiap kali ia berjumpa dengan Nimas Cempaka, hatinya selalu berdebar. Demikian pula halnya dengan Nimas Cempaka, kekagumannya kepada Jaka Tingkir tak luntur, bahkan semakin mengagumi.
Semakin sering mereka bersua, semakin akrab mereka.
Nimas Cempaka adalah seorang putri yang gandes luwes merak ati supel menggemaskan dan sangat menarik dalam setiap perbincangan.
Nimas Cempaka banyak bercerita tentang sang kakak – Kanjeng Gusti Retno Kencono yang sekarang sebagai Adipati Jepara bersama sang suami – Pangeran Hadiri. Nimas Cempaka sempat berkunjung ke Jepara untuk beberapa pekan.
Diceritakan pula bahwa di Jepara banyak perajin ukir kayu yang indah dan rumit. Konon, kayu ukir yang menghiasi keraton Demak juga berasal dari Jepara itu.
Jaka Tingkir sangat tertarik dengan cerita dari Nimas Cempaka itu.
“Suatu saat aku ingin berkunjung ke Jepara……!” Pancing Jaka Tingkir.
“Aku bersedia untuk menemanimu…..!” Tawaran dari Nimas Cempaka.
Diceritakan pula bahwa konon ada hutan alam yang ditumbuhi dengan pohon-pohon jati yang besar-besar, tinggi lurus dan tentu saja sudah sangat tua. Hutan itu dinamakan Alas Danaraja. Cerita dari Nimas Cempaka.
Sedangkan Jaka Tingkir lebih banyak bercerita tentang pengembaraannya sampai ke berbagai pelosok pulau ini.
“Aku pernah mengembara sampai di suatu pulau yang terpisah dari pulau Jawa ini. Namun hanya dipisahkan oleh selat yang tidak terlalu lebar, nama pulau itu Nusakambangan……!” Kata Jaka Tingkir.
Diceritakan oleh Jaka Tingkir bahwa selat yang memisahkan pulau itu dihuni oleh banyak buaya yang besar-besar dan liar.
Mereka saling bercerita sehingga semakin akrab. Jaka Tingkir pun sudah tidak sungkan lagi kepada Nimas Cempaka. Demikian pula Nimas Cempaka semakin mengagumi Jaka Tingkir yang juga kaya pengalaman dan pintar pula bercerita.
Walau demikian, Jaka Tingkir tidak meninggalkan tanggungjawab sebai lurah prajurit. Para prajurit pun segan dan menaruh hormat kepada Jaka Tingkir.

Sementara itu, pasukan gabungan yang besar pimpinan Kanjeng Sultan Trenggana telah sampai di perbatasan kadipaten Panarukan. Mereka membuat barak prajurit di hutan perbatasan itu. Para prajurit sandi telah melaporkan bahwa pasukan lawan juga telah berkemah di seberang sungai perbatasan. Namun hari itu belum akan dilakukan penyerbuan. Kemungkinan baru esok hari. Mereka tidak boleh gegabah sehingga akan masuk dalam perangkap lawan yang tentu lebih menguasai medan.
………….
Bersambung………….

Petuah Simbah: “Pitutur Jawi mengatakan; Aja grusa-grusu kesusu, nanging teliti nastiti ngati-ati. – Jangan sembrana dan tergesa-gesa, tetapi harus teliti cermat dan berhati-hati.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *