Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#238

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(238)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Sementara itu, dendam Harya Penangsang kepada Sunan Prawoto tidak terpadamkan. Apalagi setelah Harya Penangsang tahu bahwa Sunan Prawoto sang pembunuh ayahandanya telah dipercaya untuk memerintah Demak Bintara walau hanya selama Kanjeng Sultan Trenggana tidak di keraton. Ia harus bisa membalaskan gugurnya sang ayah. Namun jarak antara Jipang Panolan dan Demak Bintara tidaklah dekat. Jipang Panolan juga tidak mungkin untuk menyerbu Demak Bintara yang didukung oleh banyak kadipaten. Harya Penangsang mencari cara bagaimana bisa mewujudkan dendamnya itu.

Dalam pada itu, pemerintah Kanjeng Ratu Kalinyamat bersama sang suami – Pangeran Hadiri di Jepara semakin maju. Terlebih dunia perdagangan sangat berkembang dengan menjalin kerjasama dagang negeri manca. Seni ukir Jepara menjadi andalan kadipaten tersebut. Kayu jati pilihan banyak terbentang luas di hutan Danaraja. Tak heran jika kadipaten Jepara menjadi kadipaten maling makmur.
Kanjeng Sunan Kudus sering bercerita tentang kemajuan kadipaten Jepara kepada Harya Penangsang. Maksudnya agar kadipaten Jipang Panolan juga bisa maju seperti kadipaten Jepara. Namun Harya Penangsang salah menilai. Jipang Panolan dianggap kalah dengan kadipaten Jepara. Harya Penangsang menganggap bahwa Sunan Kudus berlebihan dalam memuji Ratu Kalinyamat dan Hadiri. Hal itu memunculkan dendam pula kepada pengusa Jepara itu.
“Kalinyamat dan Hadiri juga harus menerima akibat dari perbuatan Prawoto…..!” batin Harya Penangsang.
“Tidak cukup jika gugurnya ayahanda hanya ditukar dengan satu nyawa…..!” batin Harya Penangsang lagi.

Sementara itu, hubungan Nimas Cempaka dengan Jaka Tingkir menjadi semakin akrab. Bagi Nimas Cempaka, senyuman tipis Jaka Tingkir selalu terbayang. Sebaliknya, gandes luwesnya Nimas Cempaka sangat menarik bagi Jaka Tingkir.
Nimas Cempaka sering mengirim buah-buahan dan camilan ke pondok tugas Jaka Tingkir. Saat itu yang lagi musim adalah buah manggis dan durian.
Para inang keraton pun sudah mengetahui hubungan itu. Namun selama ini, Jaka Tingkir masih menjaga sopan santun sebagai seorang pria dan wanita. Ia tetap menjunjung tinggi harkat seorang wanita, terlebih wanita itu adalah seorang putri raja besar.
Semua itu tak lepas dari perhatian Sunan Prawoto sebagai kakak sulung. Meskipun Jaka Tingkir Mas Karebet hanyalah seorang lurah prajurit wira tamtama, namun Sunan Prawoto tidak berkeberatan. Sunan Prawoto tahu bahwa Jaka Tingkir berilmu tinggi, bahkan lebih tinggi dari para senopati sekalipun. Suatu saat Jaka Tingkir pasti akan sampai di jenjang pangkat senopati itu.
Nimas Cempaka pernah pula membicarakan tentang hubungannya dengan Jaka Tingkir itu kepada sang kakak, Sunan Prawoto.
“Tunggulah sampai Kanjeng Sultan kembali dari lawatan di bang wetan, nanti pasti akan diselenggarakan pesta besar setelah menang perang…..!” Kata Sunan Prawoto suatu saat.
“Benar Kangmas Sunan, kami akan menunggu kembalinya ramanda Sultan dari bang wetan…….!” Kata Nimas Cempaka.
“Mungkin sekali sekarang pasukan Demak Bintara sedang menyerbu pasukan bang wetan. Dan tak lama lagi akan kembali membawa kemenangan……!” Lanjut Sunan Prawoto.

Sementara itu, sudah sepekan ini pasukan Demak Bintara belum bisa menyeberang sungai perbatasan. Beberapa senopati telah membuktikan sendiri bahwa sepanjang sungai itu penuh dengan jebakan. Sepintas telihat tali temali di bawah permukaan air. Jika para prajurit Demak Bintara nekat untuk menyeberang tentu akan menjadi korban jeratan tali temali itu. Demikian pula jembatan yang terlihat kokoh itu bisa saja sewaktu-waktu jika pasukan Demak Bintara lewat tiba-tiba roboh. Prajurit telik sandi telah memastikan bahwa jembatan itu adalah jebakan maut. Belum lagi buaya-buaya yang dengan sengaja dilempar babi hutan di di bawah jembatan. Buaya-buaya terlihat buas dan ganas berebut daging. Tidak bisa dibayangkan jika yang tercebur ke sungai itu adalah para prajurit Demak Bintara.
Prajurit sandi juga melaporkan bahwa pasukan Portugis juga sudah bersiaga dengan senjata letusnya. Seorang senopati yang kebal senjata pun belum tentu kebal terhadap senjata letus itu.
…………
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Balasan biasanya lebih kejam dari yang diperbuat oleh lawan sebelumnya.”
(@SUN).

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *