Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#258

penerus trah prabu brawijaya

nspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(258)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Di hari berikutnya, segala persiapan untuk pemakaman Sunan Prawoto beserta sang istri telah disiapkan. Di sudut kampung Sukalila telah disiapkan liang pemakaman.
Para adipati dari berbagai kadipaten telah berdatangan bersama para pengiringnya. Demikian pula kawula Demak Bintara maupun Demak Prawata.
Pangeran Hadliri, Pangeran Timur dan Jaka Tingkir mewakili keluarga besar Sunan Prawoto.
Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Nimas Cempaka sudah bisa menguasai diri walau masih menahan kesedihan yang mendalam.
Para adipati yang berkumpul, sebagian besar telah menerima utusan dari Jipang Panolan. Mereka memperbincangkan pengangkatan diri Harya Penangsang sebagai Sultan Demak yang bergelar Sultan Harya Penangsang yang berkedudukan di Demak Jipang. Disampaikan pula bahwa pengangkatan Sultan Harya Penangsang telah direstui oleh Kanjeng Sunan Kudus.
Namun hampir semua adipati tersebut belum bisa menerima pengangkatan diri sendiri oleh Harya Penangsang tersebut. Hampir semua adipati itu juga belum mengenal siapa itu Harya Penangsang. Yang mereka dengar, Harya Penangsang adalah murid kesayangan dari Kanjeng Sunan Kudus. Dan Kanjeng Sunan Kudus sendiri menyetujui pengangkatan itu.
Sebagian besar dari para adipati itu juga telah mendengar bahwa ayah Harya Penangsang yang bernama Pangeran Sekar adalah kakak dari Sultan Trenggono – ayah dari Sunan Prawoto. Pangeran Sekar telah gugur di tepi sebuah sungai karena ditikam oleh Sunan Prawoto.
Mereka kini mengetahui duduk persoalan gugurnya Sunan Prawoto. Mereka juga telah mendengar bahwa pembunuh Sunan Prawoto dan sang permaisuri adalah utusan dari Harya Penangsang.
Keluarga besar Sunan Prawoto masih menunggu kehadiran dari Kanjeng Sunan Kudus selaku wali yang dihormati. Namun sampai tengah hari, Kanjeng Sunan Kudus belum tampak.

Jaka Tingkir terkejut ketika saudara-saudara seperguruannya dari Sela justru telah tiba di Demak Prawata. Mereka adalah Ki Juru Martani, Ki Pamanahan, Ki Penjawi dan Mas Danang putra Ki Pamanahan yang juga biasa dipanggil Jebeng ikut serta.
“Bagaimana kakang sekalian mengetahui kabar ini…..?” Bertanya Jaka Tingkir.
“Semua orang membicarakan kejadian di Demak Prawata ini. Dari pasar-pasar kabar ini cepat tersebar…..!” Ki Juru Martani menjawab.
“Suruhan Adipati Jipang Panolan – Adipati Harya Penangsang yang membunuh Kangmas Sunan dan Kangmbok Permaisuri…..!” Berkata Jaka Tingkir.
“Heeeem…..! Balas dendam yang tak berkesudahan…..! Bukankah Pangeran Sekar terbunuh oleh Kanjeng Sunan Prawoto…..?” Berkata Ki Pamanahan.
“Benar……! Dan kini Adipati Harya Penangsang justru telah mengangkat dirinya sendiri sebagai Sultan Demak…..! Dia menyebut negerinya sebagai Demak Jipang yang berkedudukan di Jipang Panolan…..!” Jawab Jaka Tingkir.
“Apakah Adipati Harya Penangsang itu seorang yang sakti mandraguna, Paman……?” Mas Danang menyela bertanya kepada Ki Penjawi.
“Yang aku dengar ia memang seorang yang sakti mandraguna…..!” Jawab Ki Penjawi.
“Apakah Danang juga bisa menjadi seorang yang sakti mandraguna, Paman…..?” Bertanya Mas Danang yang belum dewasa penuh itu.
“Tentu saja bisa jika kau tekun berlatih setiap hari……!” Jawab Ki Penjawi.
“Danang bersedia, Paman…..!” Jawab Mas Danang.
Masih beberapa saat mereka berbincang, terutama membicarakan Adipati Harya Penangsang.
“Itu kau pikirkan nanti saja….! Sekarang penyelenggaraan pemakaman Kanjeng Sunan Prawoto yang lebih utama…..!” Saran dari Ki Juru Martani.
“Baik, Kakang Juru…..!” Berkata Jaka Tingkir.
Ketika Jaka Tingkir akan beranjak, datanglah Ki Wuragil, Mas Manca dan Mas Wila.
Ki Wuragil di padepokan Rawapening juga mendengar apa yang terjadi di Demak Prawata. Ia pun bergegas menemui Mas Manca dan Mas Wila yang sekarang sudah menjadi prajurit di Demak Bintara. Mereka kemudian bersama-sama menuju ke Demak Prawata.
Ki Wuragil, Mas Manca dan Mas Wila sudah saling mengenal dengan Ki Juru Martani, Ki Penjawi dan Ki Pamanahan.
……………..
Bersambung…………

Petuah Simbah: “Budaya layat ke rumah duka adalah baik adanya. Baik untuk keluarga yang berduka maupun arwah yang meninggal dunia.”
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *