Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#265

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#265

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(265)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Sementara itu, ada dua orang penyabit rumput yang memperhatikan rombongan Kanjeng Ratu Kalinyamat. Walau mereka berpura-pura sebagai seorang pencari rumput namun mereka adalah para prajurit utusan Sultan Harya Penangsang.
Namun setelah rombongan Kanjeng Ratu Kalinyamat berlalu, dua orang itu segera bergegas mengambil kuda-kuda mereka. Mereka kemudian memacu kudanya untuk memberi kabar kawan-kawannya bahwa rombongan Kanjeng Ratu Kalinyamat telah lewat.
Mereka lewat jalan lain untuk menuju ke tempat yang telah disepakati. Yakni di tepi hutan yang tidak lebat. Rombongan Kanjeng Ratu Kalinyamat dipastikan akan melewati jalan itu.

Rombongan Kanjeng Ratu Kalinyamat ada satu kereta kuda yang berisi Kanjeng Ratu Kalinyamat beserta Pangeran Hadliri serta seorang prajurit pilihan dan tentu saja seorang kusir yang juga seorang prajurit. Mereka dikawal oleh sepuluh prajurit berkuda.
Lima orang berkuda mengawal di depan kereta dan lima orang berkuda mengawal di belakang kereta.

Dua orang prajurit yang tadinya menyamar sebagai penyabit rumput telah lebih dahulu tiba di tempat yang disepakati. Mereka kemudian melaporkan apa yang mereka saksikan.
Pimpinan prajurit utusan Sultan Harya Penangsang bergembira ketika mengetahui bahwa rombongan Kanjeng Ratu Kalinyamat hanya dikawal oleh sepuluhan orang berkuda.
Sedangkan prajurit yang bisa mereka himpun untuk mencegat lebih dari dua puluh orang.
Mereka berlindung di balik pepohonan dan gerumbul perdu. Ada juga yang berada di balik bebatuan besar. Mereka telah memasang anak panah yang siap luncur. Mereka akan mengurangi jumlah musuh pada kesempatan yang pertama. Dengan demikian akan meringankan tugas selanjutnya.

Samar-samar telah terdengar derap beberapa kaki kuda yang tidak terlalu kencang.
Pimpinan prajurit pencegat tidak ingin berbasa-basi dengan menanyakan tentang rombongan itu. Dalam tugas seperti itu tidak mengenal sifat ksatria, yang penting adalah bisa membunuh Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadliri. Mereka tak akan perduli bagaimana pun caranya. Jika telah berhasil, hadiah besar telah menunggu di keraton Demak Jipang.

Para pengawal Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadliri memang lengah. Mereka sama sekali tidak menduga ada sepasukan prajurit lawan yang telah siap menyergap mereka.
Di tepi hutan yang sepi itu, tiba-tiba meluncur beberapa anak panah.
Tiga orang langsung tertancap ujung anak panah. Dua orang tertancap di lengan dan yang seorang di lambungnya. Yang lain segera berloncantan turun dari kuda mereka.
Pangeran Hadliri sangat marah, ia segera meloncat dari kereta dengan pedang di tangan.
“Cepat selamatkan Kanjeng Ratu…..!
Biar para begal ini aku layani……!” Teriak Pangeran Hadliri.
Kusir kereta dan prajurit pengawal pun segera tanggap.
Kusir kereta itu pun segera melecut kuda penarik. Kuda meringkik keras dan kemudian lari kencang.
“Tengkurep Kanjeng Ratu……!” Teriak prajurit pengawal agar Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak menjadi sasaran anak panah.
Beruntung pula bahwa kereta itu tidak terbuka sepenuhnya sehingga ada perlindungan bagi Kanjeng Ratu Kalinyamat. Di dalam kereta itu juga ada tameng yang bisa melindungi prajurit pengawal itu.
Kereta pun telah berderap kencang dan tak ada yang sempat mengejar karena kuda-kuda prajurit lawan diikat jauh dari tempat itu.
Bagi sang kusir dan prajurit pengawal, yang utama adalah menyelamatkan Kanjeng Ratu Kalinyamat.
Mereka lega karena tak ada lawan yang mengejar. Namun demikian, sang kusir tidak memperlambat laju kereta. Ia berusaha secepatnya sampai di Jepara.

Sementara itu, di tepi hutan pertempuran tengah berlangsung. Pangeran Hadliri dan senopati pimpinan rombongan memiliki bekal ilmu kanoragan yang lebih dari pada yang lainnya.
Pangeran Hadliri harus melawan tiga orang lawan sekaligus yang salah satunya adalah pimpinan prajurit pencegat. Demikian pula senopati pengawal dari Jepara juga harus melawan tiga orang pencegat.
……………….
Bersambung……………

Petuah Simbah: “Seorang pengawal tidak boleh lengah sekejap pun.”
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *