Penerus Trah Prabu Brawijaya-Jaka Tingkir-Part#306

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(306)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Para utusan dari Kudus itu sempat dijamu di bangsal andrawina ketika kemudian diminta untuk kembali ke pendapa.
Sultan Hadiwijaya memang telah berembug dahulu sebelum membuat surat balasan.
“Sampaikan surat ini kepada Kanjeng Sunan Kudus. Dan sampaikan pula sembah baktiku kepada beliau. Pada waktu yang telah ditentukan aku akan menghadap beliau…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
Mereka pun kemudian berpamitan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di keraton pada umumnya.
Para utusan hanyalah sebagai utusan yang tidak tahu maksud dari undangan yang ditujukan kepada Sultan Hadiwijaya.
Demikian pula Sultan Hadiwijaya pun tidak tahu maksud di balik undangan yang ia terima dari Sunan Kudus tersebut.
Namun masih lima hari lagi untuk sampai di Kudus. Hari yang telah ditentukan oleh Sunan Kudus sendiri.

Sementara itu, Sultan Harya Penangsang telah beberapa hari tiba di Kudus. Ia bukannya memperdalam ilmu keagamaan, namun lebih menggembleng diri dalam ilmu kanuragan dan ilmu jayakawijayan. Ia benar-benar ingin menjadi seorang yang sakti mandraguna pilih tanding. Apalagi hanya seorang Jaka Tingkir yang berasal dari desa dan umurnya pun jauh dibawah Sultan Harya Penangsang. Tentu ilmunya juga jauh di bawah Sultan Harya Penangsang pula. Ia merasa terlebih dahulu menekuni berbagai ilmu dari berbagai guru pula. Guru dari Sultan Harya Penangsang bukan hanya Sunan Kudus saja.

Sore hari itu Sultan Harya Penangsang dan Sunan Kudus sedang berbincang di sanggar di Kudus. Sanggar yang cukup komplit pula peralatannya. Sudah beberapa hari ini Sultan Harya Penangsang menggembleng diri di tempat itu.
“Sebaiknya Tingkir diterima di tempat ini saja Bapa……!” Usulan dari Sultan Harya Penangsang.
“Tetapi aku mengundangnya untuk mendalami ilmu keagamaan, rasanya janggal jika mengajar ilmu keagamaan di sanggar ini…..!” Sunan Kudus berdalih.
“Terserah Bapa nanti alasannya apa, yang penting bisa membawa masuk ia di sanggar ini seorang diri….!” Desak Sultan Harya Penangsang.
Sunan Kudus tidak langsung menjawab permintaan dari Sultan Harya Penangsang itu. Namun usul itu memang baik juga untuk dicoba.
“Baiklah….!” Jawaban Sunan Kudus singkat namun melegakan Sultan Harya Penangsang.
“Nanti Bapa jangan salahkan Harya Penangsang jika keris Setan Kober ini menghujam di dada Tingkir…..!” Berkata Sultan Harya Penangsang yang yakin akan kesaktian pusakanya, keris Setan Kober di tangan orang yang sakti mandraguna pula.
“Heeem….., akupun yakin tak akan ada orang yang akan mampu menahan keris Setan Kober itu di tangan Angger Sultan……!” Berkata Sunan Kudus yang membesarkan hati Sultan Harya Penangsang.
“Ha ha ha ha ha…….! Tinggal sepekan lagi jika Tingkir berani datang…..!” Berkata Sultan Harya. Kemudian ia melanjutkan; “Tetapi bagaimana jika ternyata Tingkir ciut nyali dan tidak mau datang…..?”
“Aku yakin bahwa Hadiwijaya tidak akan menolak permintaaku. Aku tidak mengatakan bahwa kau juga aku undang saat nanti……!” Dalih dari Sunan Kudus.
“Ha ha ha ha ha……., Bapa sungguh cerdik….! Saatnya segera tiba putusnya trah Trenggana…..!” Berkata Sultan Harya Penangsang dengan gembira.

Sementara itu sehari sebelum hari yang ditentukan oleh Sunan Kudus tiba, Sultan Hadiwijaya bersama Ki Juru Martani dan Ki Pemanahan telah meninggalkan keraton Pajang. Mereka tidak naik kereta kuda, tetapi berkuda biar lebih leluasa dalam perjalanan.
Tak ketinggalan, Sultan Hadiwijaya telah membawa empat bilah keris milik para soreng yang digunakan untuk mencoba membunuh Sultan Hadiwijaya.
“Keris-keris ini akan saya kembalikan kepada Adipati Jipang dan aku titipkan lewat Kanjeng Sunan…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya.
“Ya sebaiknya memang dikembalikan kepada Adipati Harya Penangsang yang mengutusnya…..!” Berkata Ki Juru Martani.
“Kita tidak tahu, bagaimana nasib para soreng setelah melapor kepada Adipati Jipang itu…..!” Sela Ki Pemanahan.
…………..
Bersambung………….
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *