Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#137

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Ki Ageng Pengging-Part#137

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Ki Ageng Pengging.

Prajurit yang lain pun saling bercerita tentang pengalamannya berperang di berbagai tempat. Namun peperangan yang paling menyesakkan bagi para prajurit itu adalah ketika ikut melurug ke Semenanjung Malaka menghadapi pasukan Portugis karena yang dihadapi adalah senjata api yang meluncur secepat kilat. Mereka tidak sempat menunjukkan ilmu berperang mereka, namun sudah tidak berdaya. Akhirnya mundur kembali dengan membawa kekalahan. Kini kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka terbuka lebar ketika nanti berhadapan dengan pasukan Majapahit.
Pasukan yang besar itu berencana untuk merangsek sampai ke kota raja. Mereka ingin menundukkan pasukan Majapahit di halaman mereka sendiri. Dan kalau mungkin bisa menyerbu istana dan mendudukinya. Dan dalam kesempatan itu bisa merampas harta kekayaan keraton Majapahit sebagai harta rampasan perang.
Sunan Kudus dan Sultan Trenggono tidak bisa mencegah akan terjadinya perang besar antara pasukan gabungan Demak Bintara melawan pasukan Majapahit yang telah mengerahkan seluruh prajurit yang ada. Sultan Trenggono juga sudah menerima laporan bahwa pasukan Majapahit telah telah bergerak meninggalkan kota raja untuk menghadapi pasukan Demak Bintara di luar kota raja.

Matahari belum naik sepenggalah, namun dua pasukan yang besar telah bergerak menyongsong lawan. Pasukan Demak Bintara yang besar dan kuat telah meninggalkan hutan perdu tempat bermalam. Mereka menuju ke arah selatan dan kadang sedikit belok ke barat. Sedangkan pasukan Majapahit telah meninggalkan kademangan Ngancar. Bahkan Ki Demang Ngancar beserta para pengawal kademangan ikut pula dalam pasukan Majapahit itu. Kawula Majapahit tidak mengelu-elukan pasukan itu, mereka menyadari keberangkatan pasukan itu adalah perjalanan menyongsong maut. Para embok berlinang air mata melepas putranya yang masih muda taruna untuk bertaruh nyawa.
“Hati-hati kuluuup……! semoga kau dalam lingkungan-Nya……!” kata seorang embok dari kademangan Ngancar yang melihat anaknya diantara pasukan Majapahit. Sedangkan anaknya sendiri tak sempat melihat emboknya yang berdiri bergerombol dengan para embok lainnya.
Barisan pasukan yang panjang bagai ular naga yang meninggalkan sarangnya merayap gegap menyongsong peperangan. Kanjeng Adipati Majapahit sendiri yang memimpin pasukan besar itu.

Sementara itu, pasukan Demak Bintara dengan gegap gempita menuju medan laga. Mereka bersuka ria karena akan melepas kejenuhan yang telah beberapa lapan mereka tahan. Menurut perhitungan senopati telik sandi, sebelum matahari di atas ubun-ubun, mereka sudah akan berpapasan dengan pasukan lawan. Kemungkinan sekali mereka akan bertempur di hutan Lohdoyong, hutan yang tak begitu pepat pepohonannya. Di sana ada banyak pohon yang dhoyong – condong ke arah matahari terbenam. Pohon-pohon itu seakan merunduk memberi hormat kepada sang mentari yang pulang ke haribaan.

Pasukan Demak Bintara yang besar dan kuat itu harus antri untuk menyeberangi jembatan kayu yang sempit dan panjang di Kali Wareng.
Ujung pasukan telah menyeberangi sungai dengan lancar, jembatan kayu yang kokoh kuat itu mampu menahan barisan pasukan di atasnya.
Setelah ratusan prajurit berhasil melewati jembatan, tiba-tiba terjadi kegaduhan dan bahkan jerit pilu. Banyak prajurit yang tertancap ujung anak panah yang sama sekali tidak mereka perhitungkan akan terjadi. Mereka tak sempat mengelak maupun menangkis hujan anak panah itu karena luncuran anak panah yang datang dari tiga arah. Hanya mereka yang sempat berlindung di balik pohon atau mereka yang meloncat ke dalam sungai yang selamat dari hujan anak panah.
Barisan prajurit yang sudah terlanjur berderet di atas jembatan itu terkejut bukan kepalang dan mereka berloncatan ke dalam air. Di bawah ujung jembatan berkobar nyala api yang tiba-tiba.
“Mundur….. munduur….. munduuur…..!” teriak seorang senopati Demak Bintara.
………….
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Pasukan yang bersorak sorai gegap gempita, terlena akan datangnya bahaya.”
(@SUN).

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *