Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#307

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(307)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Mereka bertiga telah dalam perjalanan menuju ke Kudus. Mereka naik kuda agar lancar dalam perjalanan. Sultan Hadiwijaya juga tidak memerlukan pasukan pengawal raja. Ia tidak khawatir akan keselamatan mereka. Karena yang mengundang adalah Sunan Kudus sendiri.
Perjalanan dari Pajang sampai ke Kudus bukanlah perjalanan yang jauh. Namun mereka berencana untuk menginap di Demak Prawata. Keraton Demak Prawata yang masih baru, namun hanya ditempati beberapa waktu saja, karena Sunan Prawoto dan sang permaisuri keburu gugur oleh utusan Harya Penangsang. Pada dasarnya, Demak Prawata sekarang merupakan bagian dari Kasultanan Pajang.
Mereka tidak melewati Pengging, tetapi melewati Ngandong, Grobogan, Brati baru kemudian Keraton Demak Prawata.
Menjelang petang hari mereka telah sampai di keraton Demak Prawata. Keraton yang saat itu lebih mirip seperti pesanggrahan. Namun para prajurit yang berjaga di tempat itu telah mengenal dengan baik kepada Sultan Hadiwijaya.
Walau serba mendadak, namun mereka disambut dengan baik dan ramah oleh para prajurit jaga dan yang mengurusi keraton itu.

Sebelum matahari semburat merah di ufuk timur, mereka telah meningggalkan keraton Demak Prawata. Menurut perhitungan mereka, sebelum matahari naik sepenggalah, mereka sudah akan sampai di Kudus. Jarak dari Prawata ke Kudus bukanlah perjalanan yang panjang.

Pagi itu, Sultan Harya Penangsang telah berpesan kepada prajurit jaga di Kudus. Jika nanti Adipati Pajang Jaka Tingkir Hadiwijaya yang mengaku sebagai Sultan itu tiba bersama prajurit pengawal, yang diperkenankan menemui Sunan Kudus hanyalah Jaka Tingkir seorang diri. Dan Jaka Tingkir agar langsung diantar ke sanggar, bukan di pendapa.
Sultan Harya Penangsang belum tahu bahwa Sultan Hadiwijaya tidak bersama pasukan pengawal raja, namun hanya bertiga bersama Ki Juru Martani dan Ki Pemanahan.

Sebelum matahari sepenggalah, Sunan Kudus dan Sultan Harya Penangsang telah menunggu di sanggar.
Sultan Harya Penangsang telah menyiapkan keris pusakanya, keris Kiai Setan Kober. Keris pusaka yang semalaman telah direndam di ramuan racun warangan yang sangat tajam. Siapapun yang tergores setipis rambut pun pasti tak akan mampu bertahan hidup. Demikian pula Jaka Tingkir Hadiwijaya.
Sunan Kudus pagi itu sengaja hanya menyiapkan tiga buah kursi di sanggar itu. Satu untuk Sunan Kudus sendiri, satu untuk Sultan Harya Penangsang dan yang satu untuk Sultan Hadiwijaya.
Satu buah kursi yang diperuntukkan bagi Sultan Hadiwijaya, oleh Sunan Kudus telah diberi mantram, ajian Kalacakra. Barang siapa duduk di kursi itu akan menjadi lemas, hilang daya kekuatannya.
“Angger Penangsang…..! Ingat kursi ini aku peruntukan bagi Hadiwijaya. Kau jangan sampai duduk di kursi ini….! Sekali lagi ingat, kursi ini sudah aku beri mantram…..!” Berkata Sunan Kudus.
“Ha ha ha ha……, terimakasih Bapa. Hari ini benar-benar akan menjadi hari yang terakhir bagi Jaka Tingkir……!” Berkata Sultan Harya Penangsang dengan gembira.
“Ngger….! Kau jangan takabur….! Orang yang takabur akan dekat dengan kelengahan…..!” Peringatan dari Sunan Kudus.
“Ha ha ha ha….., itu masalah sepele, Bapa……!” Berkata Sultan Harya Penangsang menyepelekan.

Sementara itu para prajurit jaga di pintu gerbang telah menerima kedatangan tiga orang tamu dari Pajang. Para prajurit itu telah mengenal dengan baik terhadap Sultan Hadiwijaya. Namun belum begitu mengenal terhadap Ki Juru Martani dan Ki Pemanahan.
“Sembah bakti kami haturkan kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya…..!” Berkata pimpinan prajurit jaga dengan sopan santun dan adat istiadat yang genap.
Setelah saling berkabar keselamatan. Pimpinan prajurit itu menyampaikan pesan yang sebelumnya telah dikatakan oleh Sultan Harya Penangsang.
“Maaf Kanjeng Sultan, yang diperkenankan untuk menghadap Kanjeng Sunan Kudus hanya Kanjeng Sultan seorang diri. Yang lain dimohon untuk menunggu di pringgitan…..!” Berkata pimpinan prajurit jaga.
……………….
Bersambung………….
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *