Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#331

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(331)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Sementara itu, Sultan Harya Penangsang tergesa-gesa kembali ke Demak Jipang karena kabar yang ia terima dari prajurit sandi.
Sultan Harya Penangsang sungguh tidak mengira bahwa pasukan Pajang berani akan menyerbu Demak Jipang.
“Sungguh mencari mampus Jaka Tingkir dan pasukannya jika benar berani menyerang Demak Jipang…..!” Sesumbar Sultan Harya Penangsang.
Namun sesungguhnya, keadaan Sultan Harya Penangsang belum pulih dari akibat mantram yang dipasang oleh Kanjeng Sunan Kudus. Mantram yang semestinya ditujukan untuk Sultan Hadiwijaya namun justru senjata makan tuan.
Walau kemarahan Sultan Harya Penangsang memuncak, namun selalu diredakan oleh Kanjeng Sunan Kudus untuk bersabar. Karena betapapun tinggi ilmu seseorang, namun jika tidak ditopang oleh tubuh yang bugar tentu tak akan berarti. Sedangkan Sultan Harya Penangsang masih harus melanjutkan laku yang belum tuntas.
“Penangsang harus bertemu dengan para pimpinan utusan dari berbagai wilayah, Bapa…..!” Berkata Sultan Harya Penangsang.
“Bagus…..! Besuk pagi bisa dikumpulkan di pendapa keraton……!” Berkata Kanjeng Sunan Kudus.

Sementara itu, gabungan pasukan yang mendukung Pajang telah komplit. Pasukan dari Banyumas dan sekitarnya yang cukup besar telah berdatangan pula.
Pagi itu Sultan Hadiwijaya sendiri yang menyambut seluruh pasukan yang telah berkumpul di sebuah padang rumput di tepian Bengawan yang cukup luas.
Panjang lebar Sultan Hadiwijaya memberi sambutan di hadapan pasukan yang besar. Lontaran kata-kata yang dilambari dengan ilmu yang tinggi mampu didengar oleh mereka yang berada cukup jauh sekalipun. Kata-kata pendorong semangat mampu menggelorakan tekat para prajurit untuk bertempur melawan musuh, yakni pasukan Demak Jipang.
“Pimpinan seluruh pasukan aku percayakan kepada Kakang Juru Martani beserta Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi……! Berkata Sultan Hadiwijaya selanjutnya.
” Sementara aku Sultan Hadiwijaya berada di keraton Pajang. Bukan karena takut kepada Harya Penangsang, tetapi aku yakin para senopati dari pasukan Pajang ini akan mampu menundukkan Harya Penangsang, Adipati Jipang…..! Harya Penangsang bukanlah seorang Sultan, tetapi Adipati Jipang Panolan. Tidak ada Demak Jipang, yang ada adalah Demak Bintara dan Demak Prawata……! Aku juga sudah berpesan kepada senopati prajurit sandi, jika pasukan gabungan dari Pajang ini terdesak, mundur-lah. Aku akan segera menyusul dengan seluruh pasukan pengawal raja dan seluruh pasukan cadangan yang ada…..!” Berkata Sultan Hadiwijaya dengan berapi-api.
Masih panjang lebar Sultan Hadiwijaya menyampaikan sambutannya.
Seluruh prajurit yang mendengarkan sesorah dari Sultan Hadiwijaya menjadi bertambah semangat untuk segera menggempur Jipang Panolan.

Ketika matahari sedikit lewat sepenggalah, pasukan yang besar itu telah mulai berangkat menuju medan laga ke Jipang Panolan.
Berkuda di paling depan adalah Ki Panjawi didampingi oleh Raden Mas Danang Sutawijaya. Namun mereka berkuda pelan karena pasukan besar itu berjalan kaki.
Di ujung barisan adalah pasukan dari Pengging dengan rontek, umbul-umbul, panji-panji dan pataka yang dibuat besar dan mencolok. Panji-panji dengan aneka gambar binatang yang kokoh dan garang seperti gambar singa, harimau, banteng, gajah dan sebagainya sesuai dengan bregada masing-masing.
Di belakangnya adalah barisan pasukan dari Tidar dan perbukitan Menoreh. Mereka lebih banyak dari pasukan Pengging.
Menyusul di belakangnya adalah pasukan Banyubiru termasuk Rawapening yang tergabung dengan pasukan Pringsurat. Jumlah pasukan ini berimbang dengan pasukan Tidar dan perbukitan Menoreh.
Di belakangnya barisan pasukan Bagelen yang semuanya memakai ikat kepala iket yang seragam. Semua prajurit dari Bagelen ini bersenjatakan pedang panjang, namun di pinggangnya terselip pisau belati.
……………….
Bersambung……….
(@SUN)

**Kunjungi web kami Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *