Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#355

penerus trah prabu brawijaya

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)
(355)
Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Tingkir.
Seri Arya Penangsang.

Mereka yang sedang menyeberang sungai berteriak-teriak mengobarkan semangat. Hampir semua telah terjun ke sungai. Sebagian besar telah melewati tengah-tengah sungai yang airnya setinggi dada. Mereka berusaha untuk segera sampai di seberang sungai.

Sementara itu, pasukan prajurit yang menyeberang bersama Ki Patih Mentahun telah berhasil sampai di tepian seberang. Mereka heran karena tidak mendapat serangan dari manapun. Pasukan Pajang yang tidak banyak itu sepertinya hanya sibuk menabuh genderang perang dan meniup terompet.
“Ayo kita serbu pasukan kecil itu…..!” Perintah Ki Mentahun.
Pasukan Jipang yang bersama dengan Ki Patih Mentahun itu pun segera berlarian untuk menyerbu pasukan yang riuh rendah membunyikan berbagai tetabuhan.
Dengan pedang di tangan, Ki Patih Mentahun memimpin penyerbuan.
Namun betapa terkejutnya Ki Patih Mentahun ketika tiba-tiba kudanya meloncat tinggi. Bahkan Ki Patih Mentahun terpental dari punggung kuda. Beruntungnya, Ki Patih Mentahun yang berilmu tinggi itu berhasil meloncat dan jatuhnya tegak berdiri. Sedangkan kudanya lari tak terkendali.
“Jangan lawan para prajurit, Ki Patih….! Biarlah yang tua-tua ini bermain-main sendiri…..!” Tegur seorang yang telah lebih dari separuh baya.
“Licik kau Ki Juru…..! Kau celakai kudaku…..!” Berkata Ki Patih Mentahun setelah tahu yang menghadang adalah Ki Juru Martani yang telah ia kenal.
“Lebih licik lagi jika batu itu aku lemparkan ke punggungmu, Ki Patih…..!” Balas Ki Juru Martani tak mau kalah.
“Pasukan Pajang sebentar lagi pasti akan digilas oleh pasukan Demak Jipang yang kuat…..!” Berkata Ki Juru Martani.
“Biarlah mereka bermain-main sendiri. Kau akan aku layani bermain pedang…..!” Berkata Ki Juru Martani yang melihat Ki Patih Mentahun bersenjatakan pedang.
“Marilah Ki Juru, tempat ini cukup leluasa untuk bermain-main…..!” Timpal Ki Patih Mentahun.

Sementara itu, selagi Ki Patih Mentahun mulai menyerang Ki Juru Martani, terdengar teriakan dan umpatan dari tengah sungai.
Pada saat sebagian besar prajurit Demak Jipang berada di tengah sungai. Saat itu terjadi hujan anak panah ke arah pasukan yang sedang menyeberang.
Para prajurit Demak Jipang pun sibuk menangkis hujan anak panah itu. Berbarengan dengan itu juga terjadi hujan batu. Dari ratusan anak panah yang meluncur, tidak sedikit yang menembus lengan, dada bahkan kepala dari para prajurit Demak Jipang.
Mereka yang terluka terpaksa harus menarik diri kembali ke tepian. Mereka tidak mungkin untuk ikut bertempur dalam keadaan terluka.
Para prajurit Demak Jipang mengumpat sejadi-jadinya. Betul-betul serangan lawan yang tidak diduga sama sekali. Mereka benar-benar terhenti tidak bisa maju dan tidak bisa melawan dengan serangan balik. Mereka hanya menyiapkan pasukan panah yang tidak banyak. Namun pasukan panah Demak Jipang itu tidak bisa mengadakan perlawanan balik karena lawan bersembunyi di balik pepohonan. Bahkan mereka sendiri sibuk melindungi diri dengan tameng.
Namun pasukan Demak Jipang itu heran karena tiba-tiba serangan anak panah terhenti. Mereka beberapa saat menunggu dan belum berani melangkah maju. Ketika untuk beberapa saat tidak ada serangan. Mereka yakin bahwa anak panah lawan telah habis. Mereka kemudian melangkah maju di tengah sungai. Sampai beberapa langkah tidak ada serangan. Namun betapa terkejutnya para prajurit Demak Jipang karena tiba-tiba hampir berbarengan meluncur kembali anak panah-anak panah dari balik pepohonan. Bahkan kini mereka menjadi kalang kabut ketika puluhan lembing yang berujung besi meluncur menerjang mereka. Setelah para prajurit Demak Jipang menyeberang lebih dari separuh lebar sungai, saat itu jarak jangkau lontaran lembing bisa sampai di tempat itu.
Kali ini korban dari pasukan Demak Jipang lebih banyak dari sebelumnya. Peperangan yang sungguh aneh, dua pasukan belum sempat berhadapan secara langsung, namun korban di pihak pasukan Demak Jipang sudah banyak berjatuhan.
…………..
Bersambung……….
(@SUN)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *