Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#446

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
446
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Para siswa dari Kanjeng Sunan Mrapen yang sebagian besar adalah para petinggi dari berbagai kadipaten itu belum paham benar apa maksud dari Kanjeng Sunan Mrapen itu. Mereka hanya berbisik-bisik di antara mereka. Tidak demikian dengan Kanjeng Sultan Pajang. Walau ia berdiam diri, namun hatinya bergejolak. Kanjeng Sultan Hadiwijaya menangkap maksud dari perkataan Kanjeng Sunan Mrapen tersebut.
Kanjeng Sultan Hadiwijaya mengartikan bahwa di kemudian hari pusat kekuasaan akan berada di tangan anak turun dari Ki Pemanahan itu.
“Apakah Danang Sutawijaya yang dimaksud oleh Kanjeng Sunan Mrapen itu…..?” Batin Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Jika demikian, ia tidak terlalu berkeberatan, karena Danang Sutawijaya sudah ia angkat menjadi putranya sendiri juga.

Untuk selanjutnya, Kanjeng Sunan Mrapen masih mengajarkan ilmu agama kepada para siswanya yang hadir.

Sementara itu, Raden Mas Danang Sutawijaya masih menunggu kepulangan sang ayah yang ia pesan untuk membawakan rontal atau kain putih polos bahan batik. Kain atau rontal itu akan ia pakai untuk menggambar rencana bangunan di sekitar pohon ringin tua itu. Salah satu bangunan itu adalah bangunan yang menyerupai keraton. Dan bangunan itu akan menggunakan batu bata yang akan dibuat sendiri. Oleh karena itu, sebagian orang yang bergotongroyong itu ia minta untuk membuat batu bata.
Ki Demang Karanglo telah menyarankan untuk membuat batu bata di arah selatan dari Wiyara. Di sana tanahnya cocok untuk pembuatan batu bata.

Dalam pada itu, terpikir oleh Raden Mas Danang Sutawijaya untuk memenuhi pesan dari sang ayah untuk bertemu dengan Ki Tunggulwulung di tepi sungai Progo. Sementara pekerjaan bersih-bersih lahan masih bisa ditinggal.
Pagi itu, Raden Mas Danang Sutawijaya telah bersiap untuk meninggalkan pekerjaan bergotongroyong. Setelah berpamitan kepada Ki Demang Karanglo ia pun bersiap. Namun Raden Mas Danang Sutawijaya masih berpesan agar tidak perlu disampaikan kepada mereka yang sedang bekerja. Biarlah Ki Demang Karanglo sendiri yang mengetahui.
Memang ada dorongan hati untuk segera bertemu dengan Ki Tunggulwulung yang dikatakan oleh ayahnya, Ki Pemanahan bahwa pertapa di Timoho itu sudah sangat lanjut usia.
Agar lancar dalam perjalanan, Raden Mas Danang Sutawijaya memilih untuk naik kuda.
Ia pun telah meloncat ke punggung kuda yang tegar dan kokoh kuat. Ia akan melewati jalan yang telah diancar-ancar oleh sang ayah, Ki Pemanahan.
Ia justru ke arah timur menuju Wiyara dan berbelok ke kiri ke arah Karanglo.
Di Karanglo ia sempat mampir di barak yang dipergunakan untuk menyimpan berbagai keperluan. Keperluan untuk persediaan makan kiranya masih cukup.
Raden Mas Danang Sutawijaya pun melanjutkan perjalanan dengan melewati jembatan kali Kuning yang telah diperlebar dan diperkuat. Dengan naik kuda ia bisa memperhatikan lebih leluasa. Jalan-jalan yang telah diperlebar pun cukup rata dan rapi. Jika dilalui kereta atau gerobak tentu akan lancar. Ia cukup puas dengan hasil kerja dari mereka yang mendukung babat Alas Mentaok itu.
Jembatan kali Tambakbaya pun telah lebar kokoh dan kuat. Demikian pula jalan yang menuju ke Papringan telah lebar rata dan rapi. Di Papringan ia sempat pula singgah di barak yang masih digunakan untuk segala keperluan pembuatan jalan ke arah selatan. Namun di barak itu Raden Mas Danang Sutawijaya tidak berhenti lama. Ia segera melanjutkan perjalanan ke arah barat.
Jalan ke arah barat itu sudah cukup lebar. Kuda pun berderap tidak terlalu cepat. Sampai di Karangwaru jalan yang menuju ke Gunung Tidar sudah cukup lebar. Namun ia tidak akan berbelok ke kanan ke arah Gunung Tidar, tetapi lurus ke arah barat. Sedangkan jalan yang ke arah barat itu masih belum lebar. Namun demikian, jalan itu yang mesti dilalui oleh Raden Mas Danang Sutawijaya.
Kuda pun lalu berderap ke arah barat. Kuda pun berderap dengan kecepatan sedang.
……………..
Bersambung………
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *