Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#447

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#447

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
447
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Jalan dari Karangwaru ke arah barat itu belum begitu lebar dan tidak rata. Tetapi dengan berkuda tidak mengalami kesulitan. Sesekali berpapasan dengan orang atau beberapa orang ke arah timur. Demikian pula mendahului orang-orang yang berjalan kaki ke arah barat. Jika mendahului orang, Raden Mas Danang Sutawijaya memperlambat kudanya sambil bertegur sapa; “Maaf aku mendahului…..!”
“Silahkan Den…..!” Sahut mereka dengan ramah.
“Tampan sekali anak muda itu….!” Bisik salah seorang yang berjalan kaki.
“Tubuhnya pun terlihat kencang dan kuat…..! Pasti dia seorang piyayi …..!” Sahut yang lain.
“Kudanya juga kuda yang bagus, pasti mahal harganya….!” Celetuk yang lain.
“Orangnya pun ramah, tidak sombong seperti penunggang-penunggang kuda yang lain….!” Berkata kawannya lagi.
“Dia juga memperlambat kudanya ketika akan mendahului kita….!” Sahut yang lain.
“Siapa dia itu, dan mau kemana…..?” Bisik yang lain.
“Lhaaa…., mengapa tadi tidak bertanya langsung…..?” Gurau yang lain.
Namun Raden Mas Danang Sutawijaya sudah jauh mendahului mereka.

Sementara itu, di dusun Timoho yang terdapat pertapaan, Ki Tunggulwulung sedang berjemur di sinar matahari yang belum terlalu siang. Tubuh rentanya sudah tidak bisa pergi jauh. Berjemur sebelum terlalu siang menjadi kebisaan setiap harinya. Setelah berjemur tubuh menjadi terasa segar. Namun demikian, usia yang telah uzur tak bisa dicegah. Ia sudah tidak bisa bekerja apapun, bahkan ia mesti dibantu untuk bisa keperluan sehari-hari.
Sesungguhnya Ki Tunggulwulung telah pasrah kepada Sang Pemilik Hidup, namun hanya satu yang menjadi keinginannya, yakni bisa menyerahkan pusaka-pusaka warisan keraton Majapahit kepada Ki Pemanahan atau yang dipercaya.
Ki Tunggulwulung yang semakin renta itu tak terlalu berharap bisa bertemu dengan yang diharapkan. Namun ia telah menulis surat wasiat tentang pusaka-pusaka yang ia pendam di sudut pertapaan.

Ki Tunggulwulung mengernyitkan dahi ketika mendengar sayup-sayup derap kaki kuda. Derap yang tidak terlalu kencang.
Demikian pula para penghuni pertapaan juga mendengar derap kaki kuda yang jarang terdengar dari tempat itu.
Derap kaki kuda yang semakin lama semakin jelas. Sepertinya kuda itu mengarah ke pertapaan itu.
Ki Tunggulwulung sengaja tidak masuk ke pendapa, ia masih tetap berjemur di sinar matahari.
Ki Suteja yang kini juga sudah lebih separuh baya usianya tekun dan telaten melayani Ki Tunggulwulung.
“Mari Ki….., aku papah masuk ke pendapa…….!” Tawaran dari Ki Suteja.
“Aku ingin menunggu tamu yang barangkali akan ke pertapaan kita…..!” Dalih Ki Tunggulwulung.
“Sepertinya hanya orang lewat saja, Ki…..!” Alasan dari Ki Suteja walau ia pun menduga bahwa kuda itu menuju ke pertapaan. Karena hanya jalan itulah satu-satunya yang bisa dilalui.
Sesaat kemudian, Ki Suteja melihat seseorang meloncat turun dari kuda. Dan kemudian kuda itu dituntunnya. Padahal orang yang datang itu masih cukup jauh dari pintu gerbang pertapaan. Dengan demikian, Ki Suteja merasakan hal yang baik dari tamu yang baru datang itu.
“Sepertinya, ia meloncat turun dari kuda dan kemudian menuntunnya, Suteja…..?” Bertanya Ki Tunggulwulung yang penglihatannya sudah berkurang.
“Benar Ki….., sepertinya tamu yang memiliki tata krama tinggi, Ki……!” Berkata Ki Suteja.
“Semoga yang datang adalah yang aku tunggu selama ini…..!” Berkata Ki Tunggulwulung lirih.
“Kiai memang menunggu tamu……?” Bertanya Ki Suteja yang tidak tahu maksud dari Ki Tunggulwulung.
“Ooh tidak, aku hanya berjemur…..!” Elak dari Ki Tunggulwulung.
Terlihat di luar seorang anak muda menambatkan kuda di pagar di luar pintu gerbang.
“Kulanuwun….., permisi……!” Sesaat kemudian berkata orang muda itu.
Ki Suteja yang kemudian berlari kecil menemui tamu yang baru datang.
………………
Bersambung……….
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *