Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#459

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#459

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
459
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Matahari telah lewat dari sepenggalah ketika semua sudah berkumpul di sekitar panggung di bawah beringin tua.
Ki Pemanahan menunjuk Ki Prengga untuk membawakan acara sederhana di bawah pohon beringin tua tersebut.
Ki Prengga adalah kerabat dari Ki Pemanahan di Manahan, Laweyan. Ia dahulu memang sudah terbiasa membawakan acara-acara di Laweyan. Sehingga tidak canggung jika saat itu ditunjuk untuk membawakan acara singkat dan sederhana.

Saat itu Ki Prengga sudah naik di atas panggung. Namun tiba-tiba terdengar derap kaki kaki kuda.
Ki Pemanahan minta agar acara ditunda sesaat untuk mengetahui siapa yang datang.
“Maaf saudara sekalian, sedianya acara akan segera kami mulai, namun kita akan menunggu tamu yang tengah menuju ke tempat ini sepertinya…..!” Berkata Ki Prengga yang sudah terlanjur naik di atas panggung.
Memang semuanya mendengar derap kaki kuda.

Dan benar, sesaat kemudian dia orang telah berloncatan turun dari kuda.
Raden Mas Danang Sutawijaya segera berlari menyongsong mereka. Raden Mas Danang Sutawijaya memang sudah mengenal keduanya. Keduanya adalah prajurit pengawal kepatihan, tempat tinggal Ki Juru Martani. Ki Pemanahan pun telah mengenal mereka. Ki Pemanahan kemudian ingat akan niat dari sang kakak ipar, Ki Juru Martani yang akan menyusul ke Alas Mentaok.
Ki Pemanahan yakin bahwa kedua orang prajurit itu pasti utusan dari Ki Juru Martani. Tetapi belum yakin bahwa Ki Juru Martani akan tiba pada hari itu juga.
“Ooh Kakang Wiguna dan Kakang Jayadi…..! Marilah Kakang, ikut berkumpul…..!” Ajak Raden Mas Danang Sutawijaya. Setelah minta dua orang untuk menambatkan kuda-kuda mereka.
“Demikian ramai di tempat ini….! Ada apakah gerangan….?” Bertanya Wiguna.
“Nanti saja jawabnya. Marilah, acara akan segera dimulai…..!” Desak Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Jika demikian, apakah tidak sekalian menunggu kehadiran Gusti Juru Martani…..?” Berkata Jayadi.
“Heee….., Uwa Juru akan hadir sekarang ini…..?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Kami berdua memang sengaja mendahului untuk mengabarkan akan kehadiran Gusti Patih Ki Juru Martani bersama rombongan…..!” Lanjut Jayadi.
“Apakah beliau akan segera tiba…..?” Bertanya lagi Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Perhitungan kami pasti selewat tengah hari…..!” Wiguna yang menjawab.
“Marilah kita temui Bapa Pemanahan di dekat panggung……!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Marilah Wiguna dan kau Jayadi….! Aku sudah melihat kedatanganmu. Lancar-kah perjalanan kalian…..?” Sapa Ki Pemanahan.
“Berkat doa dan restu Gusti Senopati kami lancar dalam perjalanan. Bakti kami berdua Gusti Senopati….!” Wiguna yang menjawab.
“Sesungguhnya aku sekarang ini bukanlah seorang senopati lagi…..! Aku hanyalah seorang yang sedang babat hutan…..!” Ki Pemanahan berdalih.
“Bagaimana pun juga, Ki Pemanahan adalah seorang yang kami hormati…..!” Jawab Wiguna.
“Bagaimana dengan Kakang Juru…..?” Bertanya Ki Pemanahan yang telah mendengar rencana Ki Juru Martani untuk bergabung ikut babat Alas Mentaok.
“Tadi sudah kami sampaikan kepada Raden Mas Danang Sutawijaya…..!” Jawab Wiguna.
“Uwa Juru beserta rombongan tengah dalam perjalanan menuju ke tempat ini, Bapa…..!” Raden Mas Danang Sutawijaya yang menyahut.
“Heee….., sudah dalam perjalanan…..? Segera tiba-kah…..?” Ki Pemanahan bertanya.
“Benar Gusti Senopati….. eeeh…. Ki Pemanahan…..! Mungkin sedikit lewat tengah hari baru tiba…..!” Jayadi yang menjawab.
“Selewat tengah hari…..? Masih beberapa waktu lagi…..! Jika demikian, acara yang telah disiapkan biarlah segera dimulai…..!” Berkata Ki Pemanahan.
Ki Pemanahan kemudian mendekati Ki Prengga untuk minta agar acara segera dimulai.
“Baiklah Ki……, acara akan segera kita mulai……!” Berkata Ki Prengga.
…………..
Bersambung…….
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *