Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#462

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#462

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
462
Jaka Tingkir.
Seri Danang Sutawijaya.

Ki Patih Juru Martani alias Ki Patih Mandaraka heran atas sambutan yang sangat meriah di sekitar panggung itu.
Ia belum tahu ada acara apa sehingga banyak orang berkumpul di tempat itu.
“Kakang Juru tetap di atas panggung menemani aku……!” Pinta Ki Pemanahan.
“Mesti aku belum tahu acara apa ini baiklah aku tetap di panggung…..!” Jawab Ki Juru Martani.

Ki Prengga kemudian mempersilahkan Ki Pemanahan untuk melanjutkan sambutannya yang belum sempat dimulai.
“Suatu kebetulan yang menggembirakan bahwa saat ini bertepatan dengan kehadiran Patih negeri Pajang, Ki Patih Juru Martani yang juga disebut Ki Patih Mandaraka. Namun juga ada dua orang tamu yang sejak pagi sudah bersama kalian dan belum kami sapa. Beliau berdua datang dari pertapaan Tunggulwulung, yakni Ki Purwareja dan Ki Suteja. Selamat datang Ki Purwareja dan Ki Suteja…..! Silahkan maju ke depan……!” Pinta Ki Pemanahan.
Ki Purwareja dan Ki Suteja maju ke depan tetapi tidak naik ke atas panggung. Keduanya kemudian membungkuk memberi hormat kepada yang di atas panggung dan kemudian juga kepada semua mereka yang hadir.
Ki Purwareja dan Ki Suteja memang telah hadir sejak pagi dan sempat diterima oleh Raden Mas Danang Sutawijaya. Namun keduanya belum sempat menyampaikan maksud kedatangannya itu. Keduanya memang sengaja menahan diri agar tidak mengganggu suasana bergembira seluruh yang hadir.
“Nanti pada saatnya akan aku ceritakan tentang Kiai Tunggulwulung, Kakang……!” Bisik Ki Pemanahan kepada Ki Juru Martani.
“Ooh…., pasti menarik…..!” Jawab Ki. Juru Martani.

Ki Pemanahan setelah mengatakan kata-kata pembuka kemudian mulai sesorahnya.
Dikatakan bahwa telatah Alas Mentaok ini sepenuhnya telah diserahkan oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang kepada dirinya dengan surat kekancingan. Alas Mentaok ini sebagai hadiah karena kami, Kakang Juru, Adi Penjawi, Aku dan Mas Danang berhasil membunuh Harya Penangsang di Demak Jipang……!” Berkata Ki Pemanahan yang sejenak mengambil nafas.
Mereka memang pernah mendengar hal itu, tetapi keterangan resmi dari yang bersangkutan, yakni dari Ki Pemanahan sendiri baru kali ini.
Kemudian Ki Pemanahan melanjutkan kata-katanya.
“Atas dukungan panjenengan sekalian, hutan belantara yang gung liwang-liwung ini telah berhasil kita buka. Terimakasih yang dari Pengging, terimakasih yang dari Sala, terimakasih yang dari Manahan Laweyan, terimakasih yang dari Taji, terimakasih yang dari Sada dan sekitarnya di pegunungan Sewu, terimakasih yang dari Karanglo, terimakasih kepada yang baru hadir, dari kepatihan Pajang. Marilah kita bertepuk tangan untuk kita semua……!” Pinta Ki Pemanahan. Tepuk tangan pun bergema menggetarkan sekitar pohon beringin tua itu. Kemudian Ki Pemanahan melanjutkan _sesorahnya.
“Atas dukungan kalian semuanya, telatah Mentaok ini akan kita jadikan sebuah negeri…..! Setuju……?” Bertanya Ki Pemanahan dengan menggelegar.
“Setujuuuuu……!” Teriak mereka dengan penuh semangat.
“Setujuuu…..?” Ulang Ki Pemanahan.
“Setujuuuuu…..!” Teriak mereka semakin kencang.
Ki Pemanahan masih mengulang sekali lagi dan dijawab semakin kencang pula.
Mereka pun kemudian bertepuk tangan meriah.
Ki Pemanahan kemudian melanjutkan kata-katanya lagi.
“Tempat di sekitar pohon beringin tua ini, yang nantinya akan menjadi tempat hunian kalian semua harus memiliki nama. Harapan kita, tempat ini akan menjadi sebuah kota yang besar. Oleh karena itu, tempat ini kita sebut ‘Kotagede……! Yaa…. Kotagede……!”
Terdengar bergeremang dari semua yang hadir dengan mengulang kata “Kotagede…, Kotagede…., Kotagede….!”
Mereka Mengulang-ulang karena nama itu belum pernah disebut. Mereka mengira KI Pemanahan akan menyebutkan nama Mataram yang telah sering mereka dengar.
…………
Bersambung………….
(@SUN)

**Kunjungi web kami di google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *