Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#527

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#527

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(527)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya telah bertekad untuk melurug perang ke bang wetan. Yang paling menentang kuasa Pajang adalah kadipaten Blambangan dan juga kadipaten Madura, Surabaya, Gresik dan juga Lamongan. Yang akan lebih dahulu diserbu adalah Surabaya dan Gresik, baru kemudian Lamongan dan Madura.
Untuk keperluan penyerbuan itu tentu memerlukan pasukan yang besar serta dukungan ongkos yang besar pula.
Dalam pasewakan itu, Adipati Penjawi telah memaparkan panjang lebar tentang rencana penyerbuan itu.
Seluruh utusan yang hadir telah memahami apa yang disampaikan oleh Adipati Penjawi. Mereka bertekad untuk mendukung rencana tersebut.
“Kita memerlukan pasukan yang besar, setiap kadipaten yang jauh, wajib mengirim sepuluh bregada prajurit. Yang lebih dekat harus mengirim limabelas bregada prajurit, sedangkan yang dekat harus mengirim duapuluh bregada prajurit. Pati akan mengirim empat puluh bregada prajurit, sedangkan Panjang akan mengerahkan hampir seluruh prajuritnya. Tentu saja Madiun juga akan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada. Para prajurit pilihan-lah yang harus dikirim…..!” Berkata Ki Adipati Penjawi.
Sejenak di pasewakan terdengar bergeremang menanggapi pemaparan yang disampaikan oleh Ki Penjawi. Namun pada dasarnya mereka semua setuju dengan yang disampaikan oleh Ki Adipati Penjawi tersebut.
“Kapankah kami harus berkumpul, sang Adipati……?” Bertanya salah seorang utusan.
“Selapan hari dari sekarang, Setu Wage……!” Jawab Ki Adipati Penjawi.
“Artinya sama hari dan pasaran seperti sekarang ini, Setu Wage. Mudah kita mengingatnya…..!” Berkata yang lain.
Setelah menemukan kesepakatan, Ki Adipati Penjawi kemudian mengembalikan pembicaraan kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya.
“Terimakasih Kakang Penjawi, saya setuju dengan semua rencana tersebut.
Sehari sebelum Setu Wage, seluruh pasukan harus sudah berkumpul di alun-alun Pajang. Hari Setu Wage seluruh pasukan sudah berangkat menuju Madiun. Di sana akan bergabung dengan pasukan Madiun dan pasukan dari beberapa kadipaten sekitar……!” Berkata Kanjeng Sultan dengan jelas dan tegas.
Jika pasukan yang direncanakan itu benar-benar telah berkumpul, tentu merupakan kekuatan yang besar. Kadipaten manapun akan sulit menandinginya.
Setelah beberapa saat dilanjutkan pasewakan itu, kemudian akhirnya berakhir juga.

Para utusan dari Menoreh, Bagelen dan Banyumas tidak akan menginap di Pajang pada hari itu. Mereka ingin segera kembali dan akan singgah di Mataram.
Matahari telah jauh condong ke barat. Tidak mungkin akan sampai di Mataram sebelum matahari terbenam. Oleh karena itu, mungkin mereka akan menginap di Kademangan Sangkalputung.
“Aku memiliki kakak di Sangkalputung, kita bisa bermalam di rumah itu…..!” Berkata salah satu utusan dari Menoreh.
“Apakah cukup untuk kita semua…..?” Bertanya utusan dari Bagelen.
“Kita bisa gelar tikar di pendapa joglo yang cukup luas…..!” Berkata utusan dari Menoreh.
“Baiklah, kita tentu terbiasa singgah di manapun. Jika di pendapa joglo tentu sangat pantas bagi kita…..!” Berkata utusan dari Banyumas.
“Jika demikian, aku akan mendahului biar kakakku bersiap seperlunya…..!” Berkata utusan dari Menoreh itu.
“Aku akan menemani-mu…..!” Berkata utusan yang sama-sama dari Menoreh.
“Aku akan bersama yang di belakang, karena aku sudah pernah singgah di rumah kawanku itu……!” Berkata utusan dari Menoreh yang seorang.
Dua orang utusan dari Menoreh itu segera memacu kudanya lebih kencang agar segera sampai di rumah kakaknya.

Sebelum matahari terbenam, dua orang utusan dari Menoreh telah sampai di Sangkalputung. Rumah pendapa joglo yang cukup besar.
“Wooo…., ada tamu…! Ayo masuk Di….! Kakakmu sedang bertugas di kademangan….!” Berkata seorang wanita yang merupakan kakak kandung dari salah satu utusan dari Menoreh.
……………
Bersambung………..
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *