Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#531

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.

(@SUN-aryo)
(531)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Mereka membayangkan bagaimana jika peperangan besar itu nanti terjadi. Pasti korban di kedua belah pihak akan berjatuhanDan tentu jumlah korban pasti akan banyak.
Sesungguhnya, dalam setiap peperangan, kemenangan di satu pihak adalah semu. Walau memenangkan peperangan, namun korban nyawa pasti akan dialami juga. Dan nyawa itu tak akan pernah bisa diganti.
“Meskipun demikian, jika aku ditugaskan untuk ikut bergabung dengan bregada prajurit yang akan berangkat tentu tidak akan menolak….!”
Berkata utusan dari Banyumas.
“Yaaa…., tentu saja. Aku pun tidak akan menolak. Itu sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai seorang prajurit…..!” Sahut utusan dari Bagelen.
Mereka membayangkan bahwa perang nanti bisa lebih besar dari pertempuran antara Pajang melawan Jipang.
Setelah kuda-kuda mereka cukup beristirahat, mereka kemudian melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, para adipati bang wetan telah mendengar rencana Pajang untuk merencanakan penyerbuan ke Gresik, Surabaya atau Lamongan dan juga Madura. Mereka tentu saja tidak tinggal diam. Mereka tidak ingin menghadapi sendiri-sendiri. Maka dihimpun-lah pasukan bersama untuk menghadapi pasukan Pajang. Mereka akan menghadang jangan sampai masuk ke Surabaya.
Adipati Madura yang selama ini sulit untuk berkerjasama dengan adipati Surabaya, kali ini dengan penuh semangat akan bersama-sama menghadapi musuh yang sama. Jika Surabaya, Lamongan dan Gresik bedah, pasti sasaran serangan berikutnya adalah Madura. Namun Madura sesungguhnya tidak terlalu khawatir bahwa pasukan Pajang akan bisa menaklukkan mereka. Selat Madura adalah pertahanan yang akan sulit di tembus oleh pasukan manapun.
Mereka tidak akan rela tanah tumpah darahnya akan diinjak musuh.

Sementara itu, adipati Blambangan juga sudah mendengar bahwa pasukan Pajang akan menyerbu ke bang wetan. Namun yang mereka dengar dari prajurit sandi, bahwa penyerbuan akan diarahkan ke bang wetan sisi utara. Surabaya dan sekitarnya yang akan menjadi sasaran. Namun demikian, Blambangan juga harus segera bersiaga untuk menghadapi pasukan Pajang. Kadipaten Blambangan selama ini memang sulit untuk ditaklukkan oleh para raja Jawa. Bahkan sejak zaman Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Jipang dan sekarang Pajang. Hanya pada zaman Maha Patih Gajah saat itu seluruh bang wetan bisa disatukan, termasuk Blambangan dan Madura.

Sementara itu, perjalanan rombongan utusan dari Menoreh, Bagelen dan Banyumas telah berbelok ke arah selatan dari Karanglo. Mereka kemudian berbelok ke selatan menuju ke Wiyara. Mereka tidak menyeberangi kali Kuning dan tidak lewat Tambakbaya.
Perjalanan pun lancar sampai Wiyara. Dari Wiyara belok ke kanan mengikuti jalan yang lebih lebar dari jalan yang lain.
“Yang aku dengar, jika kita belok ke kiri, ke arah timur akan sampai di bukit Patuk. Dan seterusnya akan sampai di pegunungan kapur. Namun di sana, konon juga sudah ada pemukiman yang berkembang…..!” Berkata utusan dari Menoreh yang sudah sering menempuh perjalanan dari Menoreh ke Sangkalputung.
“Apakah pegunungan Sewu itu juga bagian dari telatah Mataram…..?” Utusan dari Bagelen yang bertanya.
“Aku kurang tahu, dan belum pernah menjelajah sampai wilayah itu…..!” Jawabnya.

Sementara itu, Raden Mas Danang Sutawijaya telah mendengar derap kaki kuda walau masih sayup-sayup. Bahkan kadang-kadang derap kaki kuda itu hilang tertiup angin. Namun ia meyakini bahwa asal derap kaki kuda itu dari arah timur.
“Paman….., sepertinya ada derap kaki kuda dari arah timur, apakah mungkin ada utusan dari Kembang Lampir……?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya kepada Ki Ageng Giring yang berasal dari pegunungan Sewu itu.
“Yaaa…., saya juga mendengar. Sepertinya tidak mungkin dari Kembang Lampir. Derap kaki-kaki kuda itu cukup banyak, dan itu tidak mungkin rombongan dari Kembang Lampir…..!” Dalih Ki Ageng Giring.
Ki Juru Martani dan Ki Ageng Mataram telah mendatangi Raden Mas Danang Sutawijaya yang sedang berbincang dengan Ki Ageng Giring.
“Siapakah mereka yang datang……?” Bertanya Ki Juru Martani.
“Belum tahu Uwa…..! Sepertinya banyak orang…..!” Jawab Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Apakah pasukan Pajang yang datang…..?” Bertanya Ki Ageng Mataram yang telah mendengar bahwa Pajang sedang menyiapkan pasukan besar untuk melurug ke bang wetan.
…………..
Bersambung………..
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *