Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#549

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(549)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Yang terjadi di barak pasukan Lamongan juga serupa dengan yang terjadi pada pasukan Pajang.
Mereka bersuka ria karena urung terjadi perang di halamannya sendiri. Jika perang benar-benar meletus, korban pasti akan bergelimpangan. Warga sekitar pasti akan menjadi sasaran penjarahan baik kalah atau menang.
Para prajurit tidak menyesal walau sudah terlanjur memasang jebakan. Jebakan-jebakan untuk membunuh lawan. Bahkan banyak dari mereka yang bersyukur bahwa jebakan-jebakan mereka belum memakan korban. Jika terlambat beberapa saat saja, tentu jebakan-jebakan itu sudah memakan korban. Dan jika sudah terlanjur ada korban, akan sulit untuk menghentikan perang begitu saja. Karena nafsu balas dendam akan berkobar karena kematian kawannya. Mereka baru menyadari, bagaimana jika batu-batu, gelugu dan kayu-kayu jebakan itu menimpa para prajurit lawan. Tentu kematian dan cedera bagi mereka yang tertimpa.
Namun itu urung terjadi.
Mereka bersuka ria bagai menang perang. Tetabuhan yang memang telah disiapkan sebelumnya ditabuh dengan dengan meriah.
Kanjeng Adipati Lamongan tidak mengira bahwa batalnya perang disambut dengan suka cita oleh hampir seluruh prajurit. Sebelumnya ia mengira bahwa para prajuritnya akan kecewa dengan keputusannya itu. Walau demikian, itu bukan berarti para prajuritnya tidak rela berbela pati bagi tanah airnya.

Kejadian serupa terjadi di markas pasukan Surabaya yang merupakan gabungan dari beberapa kadipaten dan dari Madura. Sedianya mereka akan bergabung dengan pasukan Lamongan di pagi hari itu. Namun kini mereka berkemas untuk berbalik kanan, kembali ke kadipaten masing-masing.
Dengan logat mereka, mereka mengumpat-umpat, namun umpatan candaan.
“Diancuk….., pedangku urung menghisap darah lawan…..! Ha ha ha ha……!” Seloroh seorang prajurit.
“Ha ha ha ha……! Aku juga urung nglungsur jandamu…..! Ha ha ha….!” Sahut kawannya bergurau pula.
“Duapurmu rusak…..!” Sahut prajurit itu bergurau pula.
Mereka saling ledek, namun tidak ada yang marah.
Kanjeng Adipati Panji Wiryakrama juga tidak mengira bahwa para prajuritnya menyambut gembira dengan keputusannya menerima bujuk dari Kanjeng Sunan Mrapen. Semula ia mengira akan dinilai lemah karena begitu mudah membatalkan perang yang melibatkan ribuan prajurit dari berbagai kadipaten.
“Perang seharusnya memang menjadi pilihan terakhir jika sama sekali sudah tidak dapat dihindarkan…..!” Batin Kanjeng Kanjeng Adipati Panji Wiryakrama.
Kanjeng Adipati Panji Wiryakrama kagum kepada Kanjeng Sunan Mrapen yang mampu mempengaruhi para petinggi dari berbagai negeri.
“Benar kata beliau bahwa nyawa seseorang itu sangat berharga. Sang Pencipta-lah yang wenang terhadap ciptaannya, bukan ujung pedang lawan…!” Batin Kanjeng Adipati Panji Wiryakrama.

Tak jauh berbeda yang terjadi pada pasukan Madura. Mereka juga bergembira dengan batalnya peperangan. Walau mereka tidak takut mati, namun jika kematian itu bisa dihindari tentu disyukuri.
“Sampai di Madura kita pesta sate, tongseng dan gule…..!” Seloroh seorang prajurit.
“Setatus ayam, seratus kambing belum cukup untuk kita…..! he he he he…..!” Sahut kawannya.
Raden Pranatu pun senang karena para prajuritnya senang. Lebih dari itu, ia akan menjadi menantu Kanjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang. Memang lebih baik menjalin kekerabatan dari pada harus bermusuhan.
Nanti setelah berbenah, pasukan Madura akan segera kembali ke pulau garam. Rencana kepergian pasukan yang bisa berbulan-bulan, sekarang baru sekitar dua pekan sudah kembali. Keluarga-keluarga pasti akan menyambut dengan gembira.
Raden Pranatu sangat berterimakasih kepada Kanjeng Sunan Mrapen.

Sementara itu, Kanjeng Sunan Mrapen beserta pengiringnya tidak beristirahat di barak pasukan Pajang. Namun di pagi buta itu mereka melanjutkan perjalanan. Kanjeng Sunan Mrapen ingin segera mengabarkan perjalanannya kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang.
………….
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *