Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#597

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(597)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Mereka memang sudah lapar dan haus setelah perjalanan panjang dari tepi kali Praga. Brongkos dan minuman jahe gula aren dinikmati dengan lahap. Mereka tidak banyak bercerita ketika sedang menikmati hidangan.
Baru setelah selesai, Raden Mas Danang Sutawijaya memanggil Mbok Bakul.
“Dilanjutkan ceritanya, Mbok…..! Aku ingin tahu…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Pekatik kuda itu yang lebih tahu. Biar dia melanjutkan ceritanya…..!” Berkata Mbok Bakul.
Pekatik kuda kemudian melanjutkan ceritanya.
Bahwa seluruh anggota gerombolan lereng gunung Merapi ada sembilan belas orang. Lima belas orang telah kembali ke asal mereka masing-masing entah di mana ia tidak tahu. Satu orang meninggal dalam perjalanan dari warung itu karena luka-lukanya. Dua orang tetap tinggal di pondok untuk bertani. Kebetulan di sekitar pondok itu banyak tumbuh pohon salak liar dan sepertinya cocok dengan alam lereng Merapi. Mereka berdua tinggal memanen seberapa pun mereka bisa. Dan sering salak itu mereka bawa ke warung di sebelah warung brongkos tersebut. Dan yang seorang adalah dirinya sendiri yang menjadi pekatik kuda di warung itu.
“Itu yang terlihat dari sini itu jualan salaknya, tetapi bukan mereka yang berjualan…..!” Berkata pekatik kuda itu.
“Baiklah itu…..! Bekerja yang bisa untuk menghidupi mereka. Jika mereka tetap merampok tak akan pernah kecukupan. Lagi pula pasti akan banyak memakan korban…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Benar Raden, kami telah menjadi perampok beberapa lama, namun tidak ada harta kekayaan yang bisa kami kumpulkan. Semua habis untuk berfoya-foya…..!” Jawab pekatik kuda itu.
Tiga orang perguruan Kaliangkrik mendengarkan cerita dengan kagum. Mereka bisa menangkap cerita itu. Bahwa di warung itu pernah terjadi pertempuran antara Raden Mas Danang Sutawijaya beserta dua orang yang menyertainya melawan gerombolan perampok dari lereng Merapi.
Mereka juga pernah mendengar tentang gerombolan perampok lereng Merapi yang tak kalah ganasnya dengan gerombolan yang berada di Bukit Tidar. Namun gerombolan itu bisa ditundukkan oleh Raden Mas Danang Sutawijaya. Salah seorang dari mereka adalah pekatik yang sedang bercerita itu.
“Bukan omong kosong bahwa putra Kanjeng Sultan Pajang memang sakti mandraguna…..!” Batin orang dari perguruan Kaliangkrik itu.
Ia dan dua orang kawannya itu merasa beruntung karena masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Raden Mas Danang Sutawijaya itu. Karena mereka bertiga juga bermaksud merampas kuda dan perbekalan milik Raden Mas Danang Sutawijaya itu. Dan jika ia mau, tentu akan dengan mudah dilakukannya. Tetapi ia tetap selamat sampai saat ini, bahkan bisa menikmati brongkos tepi kali Krasak ini. Oleh karena itu mereka akan tetap mengantar sampai Bukit Tidak.
Pekatik kuda itu masih melanjutkan ceritanya. Bahwa tak pernah ada orang yang berani naik sampai ke lereng Merapi karena mengira gerombolan mereka masih bersarang di sana.
“Suatu saat aku akan berkunjung ke sana……!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Sebaiknya Raden singgah dulu ke warung ini, nanti aku akan dengan senang hati mengantarkan Raden…..!” Berkata pekatik itu.
“Baiklah, suatu saat aku akan singgah dahulu di warung ini…..!” Jawab Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Kuda-kuda Raden sekarang juga sudah kenyang dan sudah aku guyang dan telah cukup beristirahat…..!” Berkata pekatik itu.
“Baiklah, kami juga akan segera melanjutkan perjalanan. Suatu saat aku akan singgah di warung ini lagi…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Dihitung semuanya Mbok…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
Mbok Bakul kemudian mendekat dan berkata; “Maaf Raden…..! Kali ini Raden jangan memaksa kami untuk menerima bayaran seperti dahulu. Dahulu saja sudah terlalu banyak bagi kami. Izinkan kami untuk menjamu Raden sekalian dengan cuma-cuma kali ini. Jika Raden memaksa untuk membayar, kami akan kecewa. Jika sebaliknya, kami akan senang. Pekatik pembantu kami itu juga sudah berpesan untuk tidak menerima bayaran dari Raden…..!”
……………..
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

2 thoughts on “Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#597

  1. Djarot. S 20/02/2024 at 15:20

    Kisah-kisah tokoh penting jaman kerajaan selalu menarik untuk membaca. Terima kasih Ki Sunaryo.

    Balas
    1. Sutanto Prabowo 21/02/2024 at 06:44

      Terimakasih sudah setia berkunjung

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *