Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#598

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Part#598

penerus trah prabu brawijaya

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
(@SUN-aryo)
(598)
Mataram.
Seri Danang Sutawijaya.

Raden Mas Danang Sutawijaya tersenyum, memahami perasaan Mbok Bakul dan pekatik. Dan ia tidak ingin mengecewakan orang-orang itu.
“Kami hanya bisa mengucapkan terimakasih, suatu saat kami akan singgah lagi…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Kamilah yang sepantasnya berterimakasih, sejak kunjungan Raden ketika itu, warung ini menjadi bertambah ramai Raden…..!” Dalih Mbok Bakul.
“Hanya kebetulan saja Mbok, tetapi brongkosnya memang mantap, juga jahe serenya…..!” Lanjut Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Benar Mbok…..! Kami belum pernah merasakan brongkos semantap ini….!” Sahut salah seorang yang bersama Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Maturnuwun Den…..!” Berkata Mbok Bakul.
“Apakah jalan dari jembatan Krasak ini ke Karangwaru menjadi semakin ramai, Mbok…..?” Bertanya Raden Mas Danang Sutawijaya ingin tahu.
“Yaaa…. semakin ramai, Raden…..! Bahkan ada pula yang pernah sampai ke Mataram Kotagede. Mereka bercerita tentang Kotagede yang semakin ramai…..!” Jawab Mbok Bakul.
“Syukurlah…..! Suatu saat jalan ini akan kami lebarkan dan ratakan….!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Pasti akan menjadi semakin ramai….!” Berkata Mbok Bakul.

Namun akhirnya Raden Mas Danang beserta yang menyertainya harus meneruskan perjalanan. Mereka pun kemudian minta diri dan saling berterimakasih.
“Kuda-kuda sudah kami siapkan, Den. Dan bahkan sudah kami urut pula. Pasti kuda-kuda itu kecapaian…..!” Berkata pekatik.
“Terimakasih…..! Jika demikian, Paman harus mau menerima uang jasa dari kami…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Oooh tidak…..! Raden telah menyelamatkan kami bebas dari gerombolan perampok…..! Itu jauh lebih berharga…..!” Dalih pekatik itu.
Sekali lagi Raden Mas Danang Sutawijaya tidak ingin mengecewakan mereka.
“Lhoooh….., di punggung kuda kok tergantung krongso itu apa isinya, Kang…..?” Bertanya salah seorang yang bersama dengan Raden Mas Danang Sutawijaya.
Krongso adalah wadah yang terbuat dari anyaman iratan bambu. Wadah yang menyerupai brongsong buah.
“Ooo….., itu buah salak yang bisa untuk bekal di perjalanan….! Yang menjual temanku juga. Dan ini juga jangan memaksa kami untuk menerima bayaran, karena kami akan sangat kecewa…..!” Berkata pekatik itu.
“He he he he he…….! Terimakasih Kang…..!” Berkata yang lain lagi.
Kuda-kuda mereka pun menjadi wangi, mungkin diguyang – dimandikan dengan busa buah lerak.
“Terimakasih lagi Kang…..! Kuda kami menjadi wangi…..!” Seloroh yang lain.
Pekatik itu hanya tersenyum, tersenyum puas.

Mereka berempat kemudian benar-benar meninggalkan warung itu. Orang-orang dari perguruan Kaliangkrik itu kagum atas sambutan orang-orang kepada Raden Mas Danang Sutawijaya. Dan mereka bertiga pun semakin kagum pula kepada Raden Mas Danang Sutawijaya itu.
Mereka pun kemudian menyeberang jembatan kayu kali Krasak yang kokoh kuat. Entah siapa yang membangun jembatan itu. Apakah jembatan itu dibangun sejak zaman Wangsa Sanjaya Syeiledra….? Batin mereka.
“Jika kita belok ke kanan akan sampai di lembah Merapi-Merbabu, Raden. Di sana juga ada perguruan yang kuat….!” Berkata salah seorang dari mereka.
“Yaa…..! Aku pernah mendengar. Jika terus akan sampai ke Sela dan Pengging….!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya yang telah berpengalaman sebagai pengembara.
“Jika belok ke kiri akan sampai di pasar Ngluwar yang cukup ramai….! Ketika kami melarikan diri, lewat pasar Ngluwar itu….!” Berkata salah seorang dari mereka.
“Tetapi kita sebaiknya terus menuju ke Bukit Tidar…..!” Berkata Raden Mas Danang Sutawijaya.
“Benar Raden, tetapi matahari telah jauh condong ke barat. Kita nanti mesti bermalam di perjalanan…..!” Berkata salah seorang dari mereka.
……………..
Bersambung……….
(@SUN-aryo)

**Kunjungi web kami di Google.
Ketik; stsunaryo.com
Ada yang baru setiap hari.
Kunjungi pula situs saya di Youtube. Cari; St Sunaryo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *