Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#102

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#102

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Sengara.

Mbok Dukun kemudian berpesan kepada para wanita paruh baya itu.
“Tolong ari-ari ini ditanam di sebelah kanan pendapa, karena ini anak lelaki. Dan jangan lupa di beri lampu sentir di sampingnya…..!” pesan Mbok Dukun.
Bayi mungil kemudian digedong oleh Mbok Dukun dengan kain selendang yang telah disiapkan jauh hari sebelumnya.
“Wuiih…..! tampan sekali anak ini….!” seru seorang wanita.
“Kulitnya putih, tidak seperti kulit kita ini……!” seru yang lain.
“Hidungnya pun mancung, tidak pesek seperti kau…..!” canda yang lain lagi.
“Makanya aku dipanggil ‘Yati Pesek,’ Yu……!” balas orang yang digoda.
Mereka pun tertawa senang.
“Tetapi mata anak itu sipit sekali…..!” kata yang lain dengan berbisik.
“Ho oh, benar……, sipit sekali…..!” sahut yang lain.
Namun mereka kemudian pergi ke dapur untuk membantu membuat brokohan karena bayi telah benar-benar lahir.
Karena yang lahir mereka anggap sebagai putra Ki Demang, maka brokohan kali ini dibuat komplit. Brokohan tersebut nanti akan dibagikan kepada keluarga-keluarga terdekat dari pondok tersebut. Brokohan tersebut terdiri dari; dawet, telur mentah, jangan menir, sekul ambeng, nasi dengan lauk, jeroan kerbau, pecel dengan lauk ayam, kembang setaman, kelapa dan beras. Beruntungnya, Mbok Dukun dan Mbok Inang telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk brokohan itu beberapa hari sebelumnya. Bahkan mereka juga telah menyiapkan besek bambu untuk wadah brokohan tersebut.
Brokohan sebagai simbul dan wujud syukur atas kelahiran seorang bayi, dan ungkapan permohonan kepada Yang di Atas, agar anak selalu sehat dan besuk menjadi anak yang berbudi luhur. Namun secara tidak langsung, pembagian brokohan itu juga merupakan wara-wara bagi tetangga atas kelahiran seorang bayi.
Mereka, embok-embok itu dengan sigap dan cekatan menata kelengkapan yang telah dibuat sebelumnya.
Mereka kemudian membagikan brokohan tersebut kepada para tetangga terdekat.

Ki Demang beserta Ki Jagabaya dan Ki Ulu Ulu telah sampai pula di pondok Ki Tanu.
Mereka pun diperkenankan untuk menjenguk Gendhuk Jinten dan bayi mungil dalam gedongan yang telah dibaringkan di sisi Gendhuk Jinten.
Mereka bertiga membatin hampir sama dengan yang diperbincangkan oleh embok-embok sebelumnya tentang bayi itu.
“Kau sehat-sehat saja, Jinten…..?” tanya Ki Demang kemudian.
“Doa dan restu Ki Demang, kami sehat selamat, semua berjalan dengan lancar, Ki Demang…..!” kata Gendhuk Jinten.
“Syukurlah…….!” sahut Ki Demang.
“Juga karena bantuan embok-embok kademangan semuanya, Ki Demang. Tanpa bantuan Nyi Demang dan mereka semua, Jinten tidak bisa berbuat apa-apa, Ki Demang…..!” lanjut Gendhuk Jinten.
“Kehidupan di desa seperti ini harus saling tolong menolong…..!” lanjut Ki Demang.
Setelah berbincang beberapa saat, Gendhuk Jinten kemudian memohon kepada Ki Demang agar bersedia memberi tetenger – nama kepada bayi yang baru lahir itu.
“Mohon dengan hormat agar Ki Demang berkenan memberi nama anak itu……!” kata Gendhuk Jinten.
“Baiklah……! Dan sekalian aku sampaikan pula, sedangkan Ki Jagabaya dan Ki Ulu Ulu sebagai saksinya. Bahwa anak ini aku angkat sebagai anakku sendiri, dan aku beri nama Jaka Sengara…..!” kata Ki Demang dengan tegas dan jelas.
“Jaka Sengara……, Jaka Sengara……, Jaka Sengara……!” hampir berbareng mereka yang mendengar kata-kata Ki Demang itu menyebut nama itu, Jaka Sengara.
Bahkan Gendhuk Jinten pun beberapa kali mengulang menyebut nama bayinya itu; “Jaka Sengara……, Jaka Sengara….., Jaka Sengara anakku….!” Ia tidak ingin lupa dengan nama anaknya sendiri.
Jaka berarti perjaka, seorang lelaki, sedangkan Sengara berarti langka, tidak lumrah atau suatu hal yang sulit terjadi. Walau Ki Demang tidak menjelaskan, namun mereka yang mendengarkan mencoba mereka-reka makna dari nama itu.
“Perlu dilangsungkan jagongan dengan lek-lek-an tidak Ki Demang……?” tanya Ki Jagabaya.
………..
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Brokohan adalah tradisi nenek moyang yang baik jika dilestarikan, walau tidak wajib bagi keluarga masa kini.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *