Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#104

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Sengara.

Petani itu beberapa kali mengucapkan terimakasih kepada Ki Tanu. Keluarganya di rumah pasti senang ketika ia membawa belut laut yang cukup besar itu.
Ki Tanu pun merasa senang ketika melihat wajah cerah dari petani itu. Ia tidak akan pernah kekurangan untuk makan setiap harinya. Walau ia tidak menumpuk bahan makanan di goa Tritis tempat ia tinggal selama ini, namun bahan makanan banyak tersedia di alam sekitarnya. Jika ia pergi ke pasar yang cukup jauh dari goa itu, ia lebih banyak membeli empon-empon untuk bahan jamu kering. Bahan jamu lebih berguna dari pada bahan makanan bagi Ki Tanu. Goa yang memiliki celuk cukup dalam dan berliku itu cukup nyaman dan aman bagi Ki Tanu.
Di tempat yang sunyi sepi itu kehidupan Ki Tanu sama sekali tidak tersentuh oleh gejolak pemerintahan di Demak yang ingin menaklukkan seluruh kadipaten di bang wetan.

Sementara itu, pasukan Demak yang bergabung dengan pasukan Jipang Panolan telah berangkat ke Bang Wetan. Pasukan yang besar karena telah bergabung pula pasukan dari Palembang.
Raden Pati Unus putera Sultan Demak yang masih muda itu dipercaya untuk memimpin seluruh pasukan gabungan. Namun demikian, Raden Pati Unus selalu didampingi oleh seorang ulama yang sangat berwibawa. Raden Pati Unus sudah terlihat memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Ia juga memiliki bekal ilmu yang tinggi pula. Sultan Demak yakin bahwa puteranya yang didampingi oleh seorang ulama itu akan mampu melaksanakan kewajiban negeri dengan baik dan membawa kemenangan.
Pasukan dari Bagelen dan dari Kedu juga sudah berangkat melewati jalur tengah. Pasukan ini pun juga pasukan yang besar dan kuat karena pasukan yang berada di Jatinom telah ikut bergabung pula. Demikian pula pasukan Pajang telah ikut bergabung dengan pasukan Jatinom, Bagelen dan Kedu. Sebuah iring-iringan pasukan yang besar.

Sang ulama telah menyarankan agar setiap pasukan tidak boleh bergerak sendiri-sendiri. Semua pasukan harus satu komando. Seluruh pasukan harus secara bersama-sama menyerang satu sasaran. Dan jika pasukan gabungan itu telat berhasil, kemudian secara bersama-sama pula menyerang sasaran berikutnya.

Sementara itu, kademangan Pengging juga tidak terpengaruh oleh gerakan pasukan Demak secara keseluruhan. Kademangan Pengging menjalani kehidupan seperti hari-hari biasa. Demikian pula kehidupan di pondok Gendhuk Jinten. Namun kini kehidupan di pondok itu bertambah ceria karena seorang anak yang tumbuh sehat dan kuat. Anak yang berkulit lebih terang dari anak-anak sebayanya. Anak itu adalah Jaka Sengara yang telah bisa berlarian ke sana ke mari. Gendhuk Jinten sungguh terhibur dan berbesar hati melihat puteranya yang sehat dan kuat. Ia mencoba melupakan ibu dan ayahnya sendiri. Ia bertekad untuk membesarkan dan membimbing anaknya itu.

Di goa Tritis, Ki Tanu semakin banyak menerima kunjungan warga dari berbagai penjuru untuk minta tolong kesembuhan berbagai penyakit. Bahkan Ki Tanu pun pernah pula diundang ke Tanah Perdikan Mangir untuk melayani warga Mangir yang memerlukan pertolongan kesembuhan. Ki Ageng Mangir pun menerima dengan senang hati keberadaan Ki Tanu di telatah itu. Dan Ki Ageng Mangir tidak pernah menanyakan asal-usul dari Ki Tanu itu.

Dalam percepatan kisah, pasukan Demak telah kembali dengan membawa kemenangan. Hampir seluruh kadipaten di bang wetan telah bergabung dengan kekuasaan Sultan Demak.
Sultan Demak sangat puas dengan keberhasilan itu. Namun demikian, Sultan Demak merasa terusik mendengar kedatangan bangsa kulit putih di Semenanjung Malaka. Ia tidak rela jika bangsa kulit putih itu sampai ke tanah Jawa. Oleh karena itu, Sang Sultan memerintahkan kepada puteranya, Raden Pati Unus untuk menyusun kekuatan, bersiap untuk mengusir bangsa kulit putih tersebut. Jika pasukan Demak mampu menaklukkan telatah bang wetan, tentu akan mampu pula mengusir bangsa kulit putih dari Semenanjung Malaka. Dengan didukung pasukan dari Palembang yang telah terbiasa mengarungi lautan, maka tidak akan kesulitan untuk mencapai Semenanjung Malaka.
…………….
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Sebuah keberhasilan akan menumbuhkan semangat untuk meraih keberhasilan berikutnya.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *