Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-part#109

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-part#109

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Sengara.

Bahkan anak-anak itu kemudian bertepuk tangan untuk Jaka Sengara yang memenangkan perlombaan menyelam itu.
Pemancing yang berada tak jauh dari anak-anak itu pun ikut tersenyum, karena seperti yang ia harapkan bahwa Jaka Sengara sebagai pemenangnya.
Anak yang menantang Jaka Sengara itu hanya termangu-mangu untuk menerima kenyataan, dikalahkan oleh anak yang jauh lebih muda.
Tiba-tiba anak-anak itu berseru; “Gendong…., gendong…., gendong…!” sahut-sahutan.
Anak itu memang telah berjanji akan menggendong Jaka Sengara jika ia kalah.
“Ayo tepati janjimu…..!” tegur anak yang paling gede.
Anak itupun tidak bisa mengelak di hadapan anak-anak itu.
“Ba….. baiklah…..!” kata anak itu.
“Ayoo gendooong…..!” teriak yang lain.
Namun anak-anak itu terkejut dan sedikit kecewa ketika Jaka Sengara menjawabnya; “Itu tidak perlu….., tidak perlu…..! sudah cukup…., aku tak perlu digendong menyeberang sungai…..!”
Sejenak anak-anak itu terdiam, tak paham maksud dari Jaka Sengara. Namun sesaat kemudian, anak yang paling gede itu berseru; “Hebaat….., hebaaat…..! Inilah yang perlu ditepuk tangani…..!”
Anak-anak pun kemudian bertepuk tangan riuh, baru menyadari ketulusan hati dari Jaka Sengara.
Sedangkan anak yang menantang Jaka Sengara itu hanya melongo, tak berkata apa-apa.
Sementara itu, Pemancing bercaping lebar itu kagum juga kepada Jaka Sengara anak seusia itu telah memiliki keluhuran budi. Mungkin itu juga karena didikan ibunya, Gendhuk Jinten. Walau anak itu memenangkan perlombaan, namun tak terlihat jumawa dan menyombongkan diri. Pemancing bercaping lebar itu pun ikut berbangga karenanya.

Tiba-tiba Pemancing bercaping lebar itu berteriak; “Heiii….., Jaka…..! Ini ikan senggaringan besar menjadi milikmu…..!”
Jaka Sengara senang, menerima ikan senggaringan yang cukup besar itu. Ia percaya bahwa pemancing itu pun tulus memberikan ikan itu sebagai hadiah kemenangannya.
“Terimakasih, Mbaaah…..!” kata Jaka Sengara menerima ikan senggaringan besar.
“Sidatnya Mbah….., sidatnya sekalian…..! Sekalian dilombakan…..!” celetuk salah seorang anak yang cukup pemberani.
Pemancing itu tersenyum dan tak ingin mengecewakan anak-anak itu. Ia sendiri memang tidak butuh ikan itu karena ia seorang pengembara.
Tiba-tiba timbul keisengannya untuk mengajak anak-anak itu bermain. Namun ia juga memiliki maksud tersendiri.
“Baiiik…..! Ikan sidat yang besar ini akan aku berikan kepada siapapun yang memenangkan lomba…..! Mau……..?” tanya pemancing.
“Mauuuu…..!” hampir serempak mereka menjawab.
“Lombanya mudah sekali…..! Siapapun yang berhasil memegang kepis berisi ikan sidat ini paling dulu, dialah pemenangnya…..!” kata Pemancing itu.
“Mauuu…., aku ikut…..!” teriak mereka.
Tiba-tiba seorang anak berteriak; “Nih aku pegang…..!” sambil memegang kepis itu erat-erat.
Pemancing itu tersenyum, kagum akan kecerdasan anak itu, yang dengan cekatan menangkap peluang.
“Lhooh….., nanti….! belum dimulai…!” anak yang paling gede yang mengingatkan.
Anak-anak pun tertawa, karena tahu anak yang memegang kepis itu hanya bercanda.
Namun Pemancing bercaping lebar itu menghargai anak yang cerdas dan senang bercanda itu.
“Ini ada ikan lele untuk hadiah kamu….!” katanya.
“Horee….., aku dapat lele…..!” dengan senang lele pun diterimanya.
“Bagaimana lombanya itu, Mbah…..?” tanya anak paling gede.
“Mudah saja…..! kepis ini aku jinjing, setelah aba-aba silahkan di sentuh, siapa paling dulu menyentuh, akan berhak mendapatkan sidat ini…..!” kata pemancing itu.
“Yaaa…. aku siap…. aku siap….. aku siap……!” teriak mereka.
“Baik….., aku mulai menghitung…..! satu…… dua…… ti…… ga….! Ayo…..!” teriak Pemancing itu.
Anak-anak pun menguber Pemancing yang menjinjing kepis berisi sidat besar. Pemancing itu berloncatan di antara bebatuan dan pepohonan. Ia berputar-putar di bawah pohon munggur yang besar. Anak yang paling besar beberapa kali hampir menggapai kepis itu, namun selalu gagal. Demikian pula anak-anak yang lain.
………….
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Sejak usia anak-anak, pendidikan budi pekerti luhur semestinya sudah diajarkan.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *