Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#112

gendhuk jinten

Inspirasi Pagi …….!!
(@SUN-aryo)

Penerus Trah Prabu Brawijaya.
Jaka Sengara.

Jaka Sengara tidak lagi bermain bersama anak-anak sebayanya dengan bermain air atau mencari ikan atau pun mencari rumput. Bahkan tidak lagi bermain gelutan atau mbekmbek-an, tetapi ia kini tekun menimba ilmu kanuragan dan ilmu jayakawijayan dari orang bercaping itu. Jaka Sengara adalah seorang yang cerdas, kuat dan tekun sehingga ia lancar menerima ilmu dari orang bercaping itu.
Gendhuk Jinten sebagai ibu dari Jaka Sengara selalu menanyakan kemana saja ia pergi selama ini. Jaka Sengara selalu beralasan bahwa ia gemar naik turun gunung. Bahkan Jaka Sengara pernah bercerita bahwa ia pernah mendaki sampai dekat kawah gunung Merapi.
“Jaka…..! itu sangat berbahaya bagimu, sewaktu-waktu gunung Merapi itu akan mengeluarkan wedhus gembel……!” kata Gendhuk Jinten sebagai ibunya.
” Yaaa, ibu….., Jaka akan selalu berhati-hati……!” kata Jaka Sengara.

Sementara itu, Sultan Pati Unus sedang mempersiapkan pasukan untuk kembali menyerang Semenanjung Malaka. Ia kini berkerjasama dengan adik iparnya dari telatah Kalimantan, Pangeran Samodra yang juga ulung di lautan sehingga ia mendapat julukan Pangeran Samodra.
Sultan Pati Unus telah benar-benar kehilangan hubungan dengan saudaranya dari telatah Palembang, Pangeran Bayaputih. Ia tidak tahu, apakah saudaranya itu di tawan oleh musuh atau tersesat di suatu pulau atau justru telah gugur.
Karena perhatian dari Sultan Pati Unus tersita untuk persiapan pasukan yang besar, maka banyak prajurit yang ditarik dari barak-baraknya. Bahkan kadipaten-kadipaten diharuskan mengirimkan para prajuritnya untuk ikut bergabung dalam rencana penyerangan ke sabrang lor untuk yang kedua kalinya.
Pasukan prajurit dari bang wetan pun telah ikut bergabung pula bersama dengan pasukan dari Bagelen, Banyumas, Pajang, Jipang Panolan, Jepara dan sebagainya.
Perahu dalam jumlah besar serta lebih kuat dan lebih besar dari sebelumnya telah disiapkan pula. Sultan Pati Unus sendiri yang akan memimpin penyerbuan itu. Keraton Demak Bintara untuk sementara dipercayakan kepada Raden Trenggono.

Sementara itu, dalam percepatan kisah, Jaka Sengara telah berkembang menjadi seorang perjaka gagah dan tampan serta memiliki bekal ilmu yang cukup. Sedangkan sang guru yang selama ini membimbing dalam olah kanuragan dan jayakawijayan untuk beberapa lama meninggalkan kademangan Pengging tanpa alasan yang jelas.

Dalam pada itu, Ki Demang Pengging yang sepuh dan renta telah tiba saatnya untuk menghadap Sang Pencipta.
Para punggawa kademangan Pengging telah bersepakat untuk menetapkan Jaka Sengara sebagai demang yang baru. Jaka Sengara sendiri memang sejak semula telah diangkat sebagai anak oleh Ki Demang. Ki Demang sebelumnya telah menyerahkan warisan berupa cupu tembikar kepada Jaka Sengara. Cupu tembikar yang berisi emas berlian yang bernilai tinggi. Ki Demang menyadari bahwa harta warisan tersebut adalah hak dari Jaka Sengara. Cupu tembikar yang diterima Ki Demang dari Ki Tanu, ayah dari Gendhuk Jinten yang adalah eyang dari Jaka Sengara sendiri.
Jaka Sengara terpana menerima warisan yang amat berharga tersebut. Dengan kekayaan itu Jaka Sengara ingin memajukan kademangan Pengging.
Jaka Sengara kini menyebut dirinya sebagai Ki Ageng Pengging.
Gendhuk Jinten yang selama ini merahasiakan tentang jati dirinya kepada sang anak, kini telah membuka diri. Ia ceritakan panjang lebar tentang kisah pelariannya dari keraton Majapahit bersama sang ayah yang kini tidak diketahui keberadaannya.
Jaka Sengara yang juga disebut Ki Ageng Pengging yang cerdas itu bisa mengerti alur cerita yang dikisahkan oleh sang ibu.
Ki Ageng Pengging menjadi mengerti siapakah Sultan Demak yang pertama itu, siapa pula Sultan Pati Unus yang sekarang sebagai penguasa Demak. Mereka para penguasa Demak adalah kerabatnya.
Gendhuk Jinten sebagai cucu seorang raja besar di Majapahit tak ingin putus trah keraton. Maka kemudian Gendhuk Jinten memberi nama ningrat kepada Ki Ageng Pengging. Namun nama ningrat itu masih tetap disimpan oleh Ki Ageng Pengging agar tidak dicurigai oleh penguasa Demak Bintara.
……………
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Berikanlah warisan kepada yang berhak menerimanya.”
(@SUN-aryo)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *