Cloud Hosting Indonesia
Order Sekarang!Dapatkan Diskon 75% Hosting + Gratis Domain!

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#2

Di ujung lorong, sebuah kereta perang dengan dua ekor kuda teji telah bersiap.
Baginda Raja bersama para garwa dan para putrinya segera naik ke kereta itu. Sedangkan para putra dan para sentana yang lain telah naik di atas kuda seperti para prajurit pengawal raja.
Hujan masih tercurah deras, ketika sebuah kereta perang dan beberapa penunggang kuda melaju ke arah timur meninggalkan keraton.

Baginda Raja lebih mementingkan keselamatan para putri keraton dari pada harus mempertahankan tahta dengan berperang melawan putranya sendiri.
Beliau sangat mengkhawatirkan, jika para putri keraton itu jatuh ke tangan musuh, mereka akan menjadi rampasan perang. Dan bisa jadi mereka akan mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
Kepergian Baginda Raja beserta para pengiringnya tidak terpantau oleh para penyerbu yang datang.
Ujung lorong yang tersembunyi dan tersamar itu membuat orang tak menyangka bahwa itu adalah ujung jalan yang terhubung langsung ke dalam keraton. Ujung lorong itu dekat dengan gedogan – kandang kuda yang ditumbuhi pepohonan.

Baginda Raja mempunyai banyak pilihan yang akan dituju jika ke arah timur. Di arah timur masih ada beberapa bupati dan kerabatnya yang masih tetap setia kepada raja dan negeri Majapahit. Namun jika ke arah barat, Baginda Raja masih ragu, karena arah barat lebih dekat dengan Demak Bintoro, tempat putranya menetap selama ini. Dan putranya itulah yang sekarang memimpin penyerangan ke kotaraja Majapahit.

Sementara itu, Raden Tanu Teja telah berhasil menjumpai putrinya seorang gadis kecil, Dyah Mayang Sari.
Beruntungnya, belum ada prajurit musuh yang sampai ke sanggar pawiyatan itu.
Beberapa ksatria atau abdi utusan juga sedang menjemput putra atau putri yang masih di sanggar pawiyatan tersebut.

Raden Tanu Teja tak ingin membuat resah mereka yang ada di sanggar itu, namun ia juga tak ingin mereka menjadi sasaran serangan musuh. Ia kemudian memberitahukan kejadian di keraton kepada dua orang pengajar yang masih berada di sanggar itu serta kepada para penjemput yang lain.
“Kita semua harus menyingkir ke tempat yang tersembunyi agar tidak di ketahui oleh para penyerbu!” kata Raden Tanu Teja kemudian setelah bercerita bahwa keraton telah dikepung musuh.

Mereka semua percaya dengan kabar yang disampaikan oleh Raden Tanu Teja tersebut, karena mereka tahu bahwa Raden Tanu Teja adalah menantu Baginda Raja.
Salah seorang pengajar kemudian berkata dora sembada – berbohong tetapi dengan maksud baik kepada para siswa yang belum dewasa itu.

Ia mengatakan bawa semua siswa harus bersembunyi dan mengamankan diri, karena di keraton ada harimau yang lepas dari kandang. Jika harimau itu belum ditangkap, tentu sangat berbahaya.
“Hiiii….., aku takut….!”
“Aku juga takut…..!” seru beberapa gadis yang belum dewasa itu.
Mereka kemudian diarahkan ke gudang penyimpanan perlengkapan tari dan batik yang terletak di sudut belakang. Kecil kemungkinan jika para prajurit penyerbu itu akan sampai di tempat itu.

Di beberapa sudut keraton, pasukan musuh mendapat perlawanan dari prajurit Majapahit. Namun serbuan yang mendadak itu benar-benar tak terduga oleh para senopati pasukan Majapahit. Sehingga perlawanan itu seperti tak berarti karena tanpa dukungan dari pasukan yang lain. Bahkan di beberapa tempat, para prajurit Majapahit masih berteduh dan tidak menyadari bahwa pasukan lawan telah merangsek masuk ke dalam istana.

Pasukan musuh bisa dengan mulus masuk ke dalam istana bukan hanya karena dukungan alam dengan hujan yang sangat deras, namun juga karena dukungan beberapa senopati Majapahit yang berpihak kepada musuh. Mereka telah ditanam oleh pihak musuh, lama sebelum terjadi penyerbuan itu. Merekalah yang mengatur semua rencana penyerbuan dan pelaksanaan serangan mendadak itu. Mereka pula yang berhasil mengelabui para senopati Majapahit sehingga terlena dan tak sempat mengadakan perlawanan yang berarti.
…………
Bersambung……….
(@SUN)

Add a Comment

Your email address will not be published.