Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#36

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#36

Untuk beberapa saat sang pangeran dan prajurit sandi itu berbincang di bukit Telamaya. Banyak hal yang telah diceritakan oleh prajurit sandi itu. Dan sang pangeran senang mendengarnya, dan suatu saat ingin mengunjunginya.
Namun prajurit sandi itu kemudian bercerita tentang kademangan Pengging yang semakin berkembang. Banyak pendatang dari berbagai daerah untuk menetap di kademangan itu. Ki Demang dan para perangkat pun tak berkeberatan, karena lahan masih cukup luas untuk ditinggali, terutama di lereng-lereng perbukitan. Pasar Pengging pun semakin ramai untuk kulakan berbagai hasil bumi dan juga ternak dan perikanan. Itu semua tak lepas dari peran Ki Tanu. Ki Tanu semakin sering diundang ke kabekelan-kabekelan di seluruh pelosok kademangan Pengging. Dengan demikian, Gendhuk Jinten sering ditinggal seorang diri. Namun demikian, Gendhuk Jinten tidak khawatir, karena kademangan Pengging selama ini aman-aman saja. Siapa pun akan tidak berani mengganggu ketentraman pondok Ki Tanu. Mereka tahu bahwa Ki Tanu adalah seorang yang sakti mandraguna. Mereka tidak ingin berselisih dengan Ki Tanu.
“Gadis yang pernah saya ceritakan itu, sekarang tentu sudah menjadi seorang gadis bertambah dewasa, dan pasti semakin cantik…..!” kata prajurit sandi itu.
“He he he……, aku senang dengan ceritamu itu…..! Kau harus mencari tahu tentang gadis itu…..!” kata sang pangeran.
“Tetapi yang mesti diingat, bahwa ayahnya adalah seorang yang sakti mandraguna…..!” imbuh prajurit itu.
“Aku tidak takut….! Kau belum tahu kesaktian orang dari seberang lautan…..?” sahut sang pangeran.
“Meskipun demikian, harus tetap berhati-hati……!” kata prajurit itu.
Ayo sekarang melanjutkan perjalanan ke Pengging…..!” ajak sang pangeran.
“Namun pasti harus menginap di perjalanan, kini hari telah sore, Pangeran…..!” dalih prajurit itu.
“Tidak masalah, kita bisa menginap di mana saja…..! Tetapi kau jangan panggil aku pangeran lagi……!” kata sang pangeran.
“Saya harus memanggil sebutan apa, Pangeran……?” tanya prajurit itu.
“Heeem….., apa ya baiknya……? Sebaiknya kau panggil aku Bayaputih, begitu saja…..!” kata pangeran itu sepertinya asal saja.
“Baik, Bayaputih….! Bayaputih itu artinya buaya putih…..! kata prajurit sandi itu.
” Ha ha ha ha……, cocok, kulitku lebih putih dari kulitmu…..! Dan aku adalah buaya yang perkasa…..! ha ha ha ha ha……!” kata orang yang kini menyebut dirinya Bayaputih itu.
“Jika aku dengan nama yang pernah aku pakai sebelumnya, Lasa begitu saja…..!” kata Lasa.
“Yaa…., kau pernah bercerita…..!” kata Bayaputih.

Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan, namun mereka tak ingin bermalam di sebuah banjar atau penginapan. Mereka memilih bermalam di tepi sungai yang aman dari gangguan. Lasa adalah seorang prajurit sandi yang berpengalaman, sehingga tidak sulit untuk mencari tempat yang di inginkan.

Ufuk timur belum semburat merah, namun Bayaputih dan Lasa telah melanjutkan perjalanan. Mereka pun telah berbersih diri sebelumnya. Mereka pun berdandan layaknya seorang pengembara yang lumrah terjadi.
Mereka ingin sampai di pasar Pengging ketika matahari belum menanjak naik. Mereka ingin mencari sarapan di warung di sekitar pasar Pengging.
“Kita sarapan sendiri-sendiri biar tidak dicurigai…..! Kau cepat tinggalkan aku dan segera cari tahu tentang gadis yang kau ceritakan itu…..!” pinta Bayaputih.
“Baik….! saya paham…..!” sahut Lasa.
Lasa pun segera meninggalkan Bayaputih seorang diri, ia ingin mengunjungi pondok Ki Tanu dengan berbagai alasan. Karena ia pernah ikut mengantar anak sakit ke pondok Ki Tanu, maka ia tak mengalami kesulitan untuk sampai di sana. Ia pun tak akan kesulitan untuk mencari alasan sehingga masuk ke pondok Ki Tanu. Sedangkan Bayaputih berlama-lama di warung sambil mendengarkan orang-orang berbincang. Kademangan Pengging benar-benar telah menjadi sebuah kademangan yang ramai dan berkembang. Pasar Pengging pun dikunjungi banyak orang, bahkan sampai berjejal-jejal.
…………..
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Kerjakanlah dengan skala prioritas, yang lebih penting dikerjakan lebih dahulu.”
(@SUN).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *