Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#48

Bayaputih tersenyum, kemudian katanya; “Itu tidak perlu, dia pasti ketakutan dan dalam waktu lama pasti tak akan berani muncul di wilayah ini…..!”
“Matahari telah condong ke barat, marilah kita melanjutkan perjalanan saja…..!” kata Lasa.
“Baiklah….! Kau yang mengetahui daerah ini…..!” kata Bayaputih.
Sambil berjalan, Lasa banyak bercerita tentang petualangannya dahulu bersama kawan-kawan seperguruannya. Hampir tidak ada halangan yang berarti, karena saat itu mereka berenam. Tak pernah mengalami dibegal seperti yang baru saja terjadi. Bahkan, mereka diterima dengan baik oleh warga yang disinggahi, karena mereka berenam sedang menjalani tapa ngrame – bertapa tetapi dengan berbuat kebaikan bagi sesama. Mereka berenam sering membantu warga yang sedang membangun rumah atau apapun yang memerlukan tenaga mereka. Mereka tanpa meminta imbalan apapun. Bahkan tak jarang mereka ikut mencangkul atau membajak sawah, menyiangi tanaman dan juga ikut memanen padi.
Bayaputih senang mendengar cerita dari Lasa, sehingga tak terasa, mereka telah sampai di kabekelan Klurak. Kabekelan Klurak termasuk kademangan Prambanan.
Lasa dan kawan-kawannya pernah tinggal di banjar kabekelan itu sekitar dua pekan. Mereka membantu siapa pun yang membutuhkan tenaga mereka di kabekelan itu.
Namun dahulu, Lasa tidak memakai nama Lasa, tetapi namanya sendiri, Wilapa.
“Ki Bekel Klurak pandai bercerita tentang kisah candi-candi di Prambanan maupun candi Ratu Baka……!” kata Lasa yang bernama asli Wilapa itu.
“Haaaa…..! pasti menarik itu….!” sahut Bayaputih.
“Tidak hanya menarik, namun seram juga. Terutama tentang candi Ratu Baka maupun candi Prambanan…..!” lanjut Wilapa.
“Bagaimana ceritanya….?” desak Bayaputih.
“Nanti aku yang minta kepada Ki Bekel Klurak biar ia yang bercerita. Setiap candi mempunyai kisahnya sendiri…..!” kata Wilapa.
Bayaputih tidak mendesaknya, namun ia ingin mengetahui kisah-kisah percandian di sekitar Prambanan itu.

Ki Bekel Klurak masih ingat kepada Wilapa setelah Wilapa memperkenalkan diri kembali.
“Di manakah kawan-kawan Adi Wilapa sekarang? Sepertinya Kisanak ini bukan salah satu dari enam orang itu….?” tanya Ki Bekel Klurak.
“Benar Ki Bekel….! Hampir semua kawanku itu menjadi prajurit di kadipaten mereka masing-masing. Ada pula yang menjadi seorang demang mewarisi kedudukan orang tuanya….!” kata Wilapa.
“Wuooo….., syukurlah semua menjadi piyayi. Dan adi Wilapa sendiri pasti juga seorang piyayi….!” kata Ki Demang.
Wilapa yang dalam tugas sandi sering menggunakan nama Lasa itu ingin mengatakan sebagian tentang dirinya, tetapi tidak akan mengatakan bahwa ia prajurit sandi, hanya sebagai prajurit biasa di keraton Demak Bintara. Namun tentu tidak akan mengatakan siapa sebenarnya Bayaputih yang bersamanya itu. Bahwa sebenarnya kawannya itu adalah seorang putra dari Baginda Raja yang berkuasa di Demak Bintara.
Sebelumnya Wilapa telah bersepakat bahwa Bayaputih putih adalah adik seperguruannya yang berasal dari telatah pesisir utara yang sangat ingin tahu tentang percandian di sekitar Prambanan ini.
“Ooh maaf Adi…..! Ternyata aku menerima kunjungan seorang prajurit dari Demak Bintara….!” kata Ki Bekel.
“Saya sekarang sedang mengambil libur, karena sehabis ikut berperang di telatah pesisir utara, Ki Bekel….!” dalih Wilapa.

Di malam harinya, Ki Bekel dengan senang hati bercerita tentang kisah candi-candi di sekitar Prambanan itu. Mungkin sudah ratusan kali Ki Bekel bercerita tentang candi-candi yang tak jauh dari dusun Klurak yang menjadi kabekelan itu. Bahkan besuk Ki Bekel bersedia untuk mengantar tamunya untuk mengunjungi setiap candi di sekitar Prambanan. Bahkan menurut Ki Bekel, setiap pahatan di candi-candi itu memiliki ceritanya tersendiri yang tak kalah menariknya.
Ki Bekel ingin agar kisah-kisah tentang candi-candi itu bisa diwariskan kepada anak cucu, bahkan kepada siapapun yang ingin mengetahuinya.
Ki Bekel begitu bersemangat jika sudah berkisah tentang candi-candi. Ia tahu tentang kisah-kisah candi-candi itu juga dari cerita para orang tua sebelumnya.
…………
Bersambung………

Petuah Simbah: “Marilah kita jaga kisah-kisah lama sebagai warisan budaya para leluhur kita.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *