Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#50

Bahkan burung-burung beterbangan, luwak dan garangan berlarian ketakutan mendengar gelegar aji gelapngampar. Bahkan jika yang dihadapi adalah sepasukan prajurit, para prajurit itu akan bertumbangan. Mereka bisa bertahan jika menutup telinga rapat-rapat. Namun yang dihadapi kali ini adalah Bandung Bandawasa yang ilmunya sulit dijajagi. Ia tetap berdiri tenang dengan senyum tersungging. Bahkan kemudian ia berkata; “Hee Prabu Baka, aji Gelapngampar itu cocoknya untuk menghalau burung pipit di sawah…..!”
“Bangsat keparat kau anak Pengging……!” kata Prabu Baka. Sambil mengumpat, Prabu Baka yang marah menghantam sebuah batu besar yang ada di dekatnya. Bandung Bandawasa pun terkejut, batu itu hancur berkeping-keping terkena hantaman tangan Prabu Baka. Seandainya hantaman itu menerjang kepala manusia, tentu akan hancur lebur tak beruwujud. Bandung Bandawasa terkejut, namun bukan berarti takut, meski demikian, ia harus sangat berhati-hati. Beruntung bagi Bandung Bandawasa, karena Prabu Baka telah memamerkan kedigdayaannya. Dengan demikian, ia harus bersiaga dalam tingkat yang tertinggi. Ia tidak boleh dengan penjajajagan jika tidak ingin celaka karena keteledorannya sendiri.
Benar dugaan dari Bandung Bandawasa, bahwa Prabu Baka langsung menyerang dengan sangat cepat kepadanya ketika ia masih berdiri termangu menyaksikan kedahsyatan ilmu Prabu Baka. Namun bukan berarti Bandung Bandawasa terlena. Ia dengan gesit melenting mundur.
“Heee jangan lari, cecurut kecil….!” teriak Prabu Baka yang jauh lebih besar dari lawannya itu.
Bandung Bandawasa tidak menjawab, namun ia tidak melarikan diri dan kembali bersiaga.
Bagai kucing kembang telon menerkam tikus sawah, Prabu Baka menerjang Bandawasa. Namun Raden Bandung Bandawasa bukanlah tikus sawah yang lemah. Ia gesit berkelit bagai burung srigunting. Prabu Baka pun hanya menerjang angin. Prabu Baka kehilangan buruan, ia tak tahu di mana lawannya berada. Tak disangka, Raden Bandung Bandawasa telah berada di belakang Prabu Baka.
“Aku di sini, Sang Prabu……!” kata Bandung Bandawasa yang mengejutkan Prabu Baka.
Prabu Baka marah bukan kepalang karena merasa dipermainkan oleh anak kemarin sore. Ia segera melontarkan ilmunya yang lain, ilmu yang selama ini tak ada orang yang mampu menahan kedahsyatannya.
Dengan sangat cepat Prabu Baka mengayunkan tangannya, dari tangan itu muncul gumpalan bola api sebesar telur ayam yang meluncur ke arah Bandung Bandawasa yang jaraknya tidak jauh. Bandung Bandawasa terkesiap, ia tak menduga akan mendapat serangan yang tiba-tiba dengan sebuah lontaran. Ia benar-benar tak sempat menghindar. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri hanya dengan menghantam langsung bola api yang meluncur sangat cepat itu.
“Duaaar…..!” terdengar bunyi ledakkan yang sangat keras.
Prabu Baka sendiri takjub dengan yang ia saksikan. Sebelumnya ia mengira lawannya yang masih muda itu tentu telah hancur menjadi abu. Namun yang terjadi, Bandung Bandawasa masih berdiri tegak. Yang meledak adalah beradunya dua ilmu yang sangat tinggi.
Prabu Baka kembali melontarkan serangan serupa. Namun yang terjadi terulang kembali, sebuah ledakkan dahsyat menggetarkan Ara-ara Amba itu. Rerumputan kering di sekitar ledakkan itupun terbakar menyala berkobar. Sungguh sangat dahsyat ilmu keduanya.
Prabu Baka kembali menyerang secara beruntun, kini dengan kedua tangannya kiri dan kanan. Ia yakin salah satu serangannya pasti akan menghantam sasaran. Namun yang terdengar adalah ledakan beruntun pula.
“Duaar…. duaar…. duaar…. duaar…..!”
Bandung Bandawasa pun menghantam bola api itu dengan kedua tangannya yang dilambari ilmu yang tak kalah dahsyatnya.
Ilmu dahsyat yang pernah dicoba oleh Bandung Bandawasa dihantamkan ke sebuah bukit. Akibatnya sungguh sangat menggetarkan, bukit itupun ambrol seketika. Ilmu dahsyat yang oleh Bandung Bandawasa dinamai dengan namanya sendiri, aji Bandung Bandawasa.

Sementara itu, Patih Gupala yang masih berada di bukit Baka terkejut bukan kepalang ketika mendengar ledakkan dahsyat yang beruntun.
…………..
Bersambung……….

Petuah Simbah: “Dua kekuatan dahsyat jika bersatu tentu akan menjadi sangat kuat, namun jika beradu akan sangat menghancurkan.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *