Home » Cerbung » Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#54

Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#54

Siang yang gerah, sinar mentari menerpa bukit Baka, membuat Rara Jonggrang semakin gelisah. Suara ledakan-ledakan masih terdengar dari puncak bukit itu. Rara Jonggrang hilir mudik ke sana ke mari untuk mengusir kegelisahannya. Ia kemudian berlari ke gerbang dan naik ke tatanan batu yang lebih tinggi. Dari sana Rara Jonggrang bisa melihat ngarai di arah matahari terbenam dengan leluasa. Dari tempat itu, Rara Jonggrang sering menikmati alam dan matahari terbenam yang indah menakjubkan. Namun kali ini Rara Jonggrang terkesiap, bukan indahnya pemandangan yang ia saksikan, namun kebakaran rerumputan dan semak belukar serta pohon-pohon perdu di padang ara-ara di seberang kali Opak. Jantung hati Rara Jonggrang berdetak semakin kencang, ketika mendengar ledakan yang lebih keras dari sebelumnya. Dan setelahnya senyap tak terdengar lagi.
“Ooh…., bagaimana nasib ayahanda Prabu…..? Bagaimana pula nasib Paman Gupala…..?” batin Rara Jonggrang yang sangat khawatir.

Sementara itu, para prajurit keraton Baka yang telah mengepung arena pertarungan antara Patih Gupala melawan Raden Bandung Bandawasa kesulitan untuk mendekat, karena terhalang oleh berkobarnya semak belukar. Senopati prajurit Baka ragu untuk memerintahkan para prajurit merangsek maju. Ia pun berdebar-debar ketika mendengar ledakan yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Namun lebih mendebarkan lagi ketika kemudian tak terdengar apapun, senyap. Ia tidak bisa melihat ke arena karena kobaran api dan asap yang menyelimuti padang ara-ara itu. Namun ia dan seluruh prajurit yang mengepung itu berdebar-debar, karena tercium bau gosong daging terbakar.

Ki Bekel Klurak berhenti sejenak dalam bercerita.
“Maaf Kisanak…..! Saya harus ke peturasan dahulu…..! Orang setua saya ini tak kuat menahan…..!” kata Ki Bekel.
“Ooh silahkan Ki……!” kata Birawa yang sedikit kecewa karena ceritanya harus terhenti. Namun ia memahami keadaan Ki Bekel.
Sejenak kemudian, Nyi Bekel menyajikan wedang jahe sere gula aren yang hangat. Disajikan pula rengginang yang masih hangat pula.
“Silahkan di nikmati, walau hanya seadanya…..!” kata Nyi Bekel.
“Ooh terimakasih, Nyi…..!” kata Lasa yang di sini mengaku bernama Wilapa itu.
Beberapa saat Birawa dan Wilapa menunggu Ki Bekel untuk melanjutkan ceritanya. Walau pun saat itu malam telah larut, namun Birawa yang belum pernah mendengar cerita itu tak ingin terputus mendengar cerita. Namun sesaat kemudian, Ki Bekel telah kembali ke pendapa.
“Bagaimana Kisanak…..? Kita melanjutkan ceritanya, atau beristirahat dahulu, karena malam telah larut……?” kata Ki Bekel.
“Bagaimana nasib Patih Gupala itu, Ki Bekel, kami ingin tahu…..?” kata Birawa.
“Baiklah, aku lanjutkan sedikit dan kita lanjutkan besuk sambil berjalan menuju ke reruntuhan keraton Baka tersebut…..!” kata Ki Bekel.
Yang diceritakan oleh Ki Bekel itu kejadiannya telah beberapa abad sebelumnya.

Ki Bekel kemudian melanjutkan ceritanya.
Senopati prajurit itu sangat gelisah mencium bau gosong yang sangat menyengat itu. Namun tak terdengar suara apapun, jika Patih Gupala memenangkan pertarungan, tentu terdengar gelegar suara tertawanya. Namun yang terjadi adalah senyap, bahkan bau daging gosong semakin menyengat.

Raden Bandung Bandawasa tahu bahwa sepasukan prajurit telah mengepungnya di luar kobaran api. Tentunya ia tak ingin berhadapan dengan sepasukan prajurit itu. Walau jika itu harus terjadi, ia tak gentar untuk menghadapi. Namun yang akan terjadi pasti akan banyak timbul korban. Oleh karena itu, Raden Bandung Bandawasa memilih untuk meloloskan diri dari kepungan yang tentu lebih mudah.
Bandung Bandawasa ingin kembali ke keraton Baka untuk melihat keadaan di sana. Apakah di keraton Baka masih ada lawan yang harus dihadapi.
Dan benar, Raden Bandung Bandawasa dengan kecepatan tinggi berlari di antara kepungan para prajurit Baka. Para prajurit maupun para senopati tak ada yang sempat menghentikannya.
“Hee lari….., dia lari…..!” teriak beberapa prajurit yang melihat seseorang dengan kecepatan tinggi menerobos kepungan.
…………..
Bersambung………..

Petuah Simbah: “Contoh bijak dari Bandung Bandawasa yang menghindari korban yang sia-sia.”
(@SUN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *