Penerus Trah Prabu Brawijaya-Gendhuk Jinten-Part#53

Patih Gupala terkesima melihat tubuh yang gosong hitam semua, wajahnya pun sudah tak berbentuk. Jasad itu tak bisa dikenali sebagai Prabu Baka. Namun Patih Gupala terhenyak ketika melihat timang emas berteretes berlian. Patih Gupala semakin tertegun ketika melihat lambang yang tercetak di timang tersebut. Lambang kepala singa yang hanya dimiliki oleh Prabu Baka sendiri. Dengan demikian, Patih Gupala yakin bahwa jasad itu adalah jasad dari Prabu Baka. Merah padam wajah dari Patih Gupala. Ia yakin bahwa rajanya tidak mungkin bisa dikalahkan oleh anak muda yang menamakan diri Bandung Bandawasa tersebut. Namun kenyataannya Prabu Baka telah tewas, ini bisa terjadi pasti karena anak muda itu berbuat licik. Patih Gupala tetap yakin bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan Prabu Baka. Bahkan raja Nusakambangan yang kondang sakti mandraguna pun tewas di tangan Prabu Baka. Apalagi hanya anak kemarin sore seperti Bandung Bandawasa tersebut.
Kemarahan Patih Gupala tak tertahankan. Ia merasa tidak bersalah jika ia berbuat licik pula. Tiba-tiba, secepat kilat, Patih Gupala menyerang Raden Bandung Bandawasa yang berdiri termangu tak jauh darinya. Seperti yang terjadi sebelumnya ketika Prabu Baka menyerang Raden Bandung Bandawasa. Patih Gupala juga menyerang dengan lontaran bola api sebesar telur ayam. Patih Gupala yang marah itu telah mengerahkan ilmu puncaknya. Ia sangat yakin bahwa lawannya tak akan mampu menghindar dan lawannya itu akan terbakar seperti yang terjadi pada Prabu Baka. Namun yang diserang adalah Raden Bandung Bandawasa. Ia tetap waspada terhadap kemungkinan diserang secara mendadak. Bandung Bandawasa sempat bergeser sangat tipis, namun gerakan yang sederhana itu mampu menghindarkan dari maut. Bola api sebesar telur ayam yang meluncur sangat cepat itu melaju menerjang gerumbul perdu. Yang terjadi sungguh dahsyat, gerumbul perdu itu terbakar seketika.
Raden Bandung Bandawasa terkesiap menyaksikan akibat dari lontaran ajian oleh orang yang menyusul itu. Jika ajian itu menerjang seseorang, tentu akibatnya sama dengan yang dialami oleh Prabu Baka.
Tak kalah herannya adalah Patih Gupala sendiri, bagaimana mungkin lawannya yang masih muda itu mampu menghindar dari serangannya yang sedemikian cepat bagai kilat.
Namun Patih Gupala yang marah itu tak cukup hanya termangu dan takjub kepada lawannya. Ia segera menyusuli serangan yang beruntun dengan kedua tangannya. Namun Raden Bandung Bandawasa telah menduga akan mendapat serangan seperti itu, sebab ia telah mengalami ketika berhadapan dengan Prabu Baka. Ilmu yang dimiliki oleh lawannya itu serupa dengan ilmu yang dimiliki oleh Prabu Baka. Mungkin mereka berdua adalah saudara seperguruan. Yang terjadi pun serupa dengan kejadian sebelumnya, Raden Bandung Bandawasa menangkis setiap bola api yang meluncur sangat cepat dan beruruntun itu. Yang terjadi kembali menggetarkan padang Ara-ara Amba dengan ledakan yang beruntun pula.
“Duaar….. duaar….. duaar….. duaar…. duaar….. duaar…..!”
Namun demikian ada beberapa luncuran bola api yang dihindari oleh Raden Bandung Bandawasa. Akibatnya tak kalah mengerikan, seperti terjadi sebelumnya, semak belukar dan rerumputan kering maupun gerumbul perdu terbakar seketika.

Sementara itu, para prajurit keraton Baka yang mengikuti larinya Patih Gupala terhenti langkah mereka. Ledakan-ledakan yang mereka dengar sungguh sangat mendebarkan. Demikian pula kobaran api yang membakar padang ara-ara itu. Mereka, para prajurit keraton Baka sempat menyaksikan dari kejauhan bagaimana Patih Gupala melontarkan ajian yang nggegirisi ke arah lawannya. Namun mereka sangat takjub, bagaimana lawannya yang masih muda dan wajah yang rupawan itu mampu menangkis setiap serangan dari Patih Gupala. Dan pula, lawannya itu beberapa kali mampu menghindar dari lontaran bola api. Namun akibatnya, kebakaran padang ara-ara semakin meluas.

Dalam pada itu, Rara Jonggrang yang masih berada di keraton Baka berdebar-debar mendengar ledakan yang beruntun walau sayup-sayup. Ledakan yang telah ia dengar sebelumnya.
“Apakah yang terjadi…..?” batin Rara Jonggrang.
……………
Bersambung………

Petuah Simbah: “Akibat dari peperangan bukan hanya korban nyawa, namun alam pun ikut menjadi korban.”
(@SUN)

St. Sunaryo

Pensiunan pegawai PT Telkom Indonesia. Sekarang bertempat tinggal di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungi website https://stsunaryo.com , ada yang baru setiap hari.

Learn More →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *